Site icon

Mengetuk Pintu Harapan, Ketika Dandim Menjaga Waktu untuk Rumah Rakyat

Kebumen — Langit Somagede pagi itu seperti menahan napas. Di antara bau kayu baru dan semen yang masih basah, langkah Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., terdengar mantap memasuki halaman sebuah rumah yang sedang berjuang lahir kembali. Rumah milik Bapak Sanmartam itu belum sempurna berdiri, Jumat 27 Februari 2026.

Dindingnya masih separuh cerita, rangka atapnya baru mulai menantang langit. Namun justru di situlah harapan sedang ditempa.
Pintu disambut bukan oleh sang pemilik, melainkan oleh istrinya, perempuan sederhana yang menjaga rumah sekaligus doa keluarga.

Wajahnya memancarkan harap yang lama dipendam, kini perlahan menemukan cahaya.
Dandim tidak sekadar datang. Ia menatap. Mengamati. Menyusuri setiap sudut bangunan seperti seorang penjaga janji.

Jemarinya menyentuh kusen yang baru terpasang, matanya menakar kemajuan pekerjaan. Bagi seorang prajurit, detail adalah kehormatan.
“Kami ingin memastikan pembangunan RTLH ini berjalan tepat waktu dan sesuai kualitas,” ucapnya tenang, namun mengandung ketegasan yang tak perlu ditinggikan.

Di balik kalimat singkat itu, tersimpan komitmen panjang.
Sang istri hanya mampu tersenyum haru. Mungkin ia tak pandai merangkai kata, tetapi matanya bercerita banyak tentang malam-malam yang pernah bocor oleh hujan, tentang dinding lama yang rapuh dimakan usia, dan tentang harapan yang kini perlahan dipasang satu per satu.

Di sekitar rumah, palu masih berdentang seperti detak jantung pembangunan. Setiap pukulan adalah doa. Setiap adukan semen adalah ikhtiar.

Program RTLH dalam TMMD Reguler ke-127 bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah tangan negara yang turun hingga ke halaman rakyat. Dan pagi itu, kehadiran Letkol Inf Eko Majlistyawan menjadi penegas bahwa pembangunan bukan pekerjaan yang ditinggal melainkan janji yang dijaga.

Langkah beliau berkeliling lokasi ibarat jarum jam yang memastikan waktu tidak meleset. Tidak tergesa, namun penuh kepastian. Tidak hanya melihat progres, tetapi merawat kepercayaan.

Ketika kunjungan usai, tak ada seremoni panjang. Namun ada sesuatu yang tertinggal di beranda rumah itu—rasa tenang yang perlahan tumbuh di dada keluarga Bapak Sanmartam.

Sebab di Desa Somagede hari itu, yang sedang dibangun bukan hanya rumah yang lebih layak.
Yang sedang ditegakkan adalah harapan. Yang sedang dikokohkan adalah keyakinan—bahwa negara benar-benar hadir, mengetuk pintu rakyatnya, dan memastikan setiap janji berdiri setegak dinding yang kini perlahan menyentuh langit.
(Taufik Hidayat)

Exit mobile version