Site icon

Menyoal Kebijakan Daring yang Bikin Pusing

WhatsApp Image 2020-07-27 at 20.13.00 (1)

Oleh: Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah)

Pandemi Virus Corona yang melanda Indonesia hingga kini tak kunjung reda. Setelah beberapa wilayah ditetapkan menjadi zona merah penyebaran covid, kebijakan social distancing dan physical distancing pun diberlakukan sebagai langkah menghentikan penyebaran virus Covid-19. Dari melakukan pekerjaan di rumah, ibadah di rumah hingga kegiatan belajar dilakukan di rumah.

Melalui pembelajaran daring (dalam jaringan) guru memberikan materi pelajaran yang kemudian di kerjakan para siswa/siswi di rumah dengan bimbingan orang tua. Hingga pada akhirnya, kebijakan belajar online banyak dikeluhkan para orang tua karena dinilai ribet dan merepotkan. Beberapa orang tua merasa beban tugas kepada siswa diberikan tanpa bimbingan. Alhasil, banyak orang tua yang kewalahan karena tidak adanya pemahaman materi ajar.

Dilansir dari cnbcindonesia pada 20 Juli 2020, keluhan para orang tua ini mereka curahkan dalam media sosial. Beberapa di antaranya meminta untuk menghentikan pembelajaran online. Adapula pesan WhatsApp yang berisi keluhan orang tua yang tidak selalu memiliki uang untuk membeli paket data, karena terlalu banyak kebutuhan hidup yang mendesak terpenuhi.

Wajar saja apabila para orang tua mengeluh stres terkait kebijakan belajar online saat ini. Karena seorang ibu selain menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, juga harus merangkap menjadi guru dengan semua mata pelajaran yang belum tentu dikuasainya. Belum lagi pembelajaran daring ini membutuhkan biaya besar untuk membeli kuota internet dan berbagai fasilitas penunjang lainnya karena fasilitas daring tidak ada bantuan dari pemerintah.

Sedangkan untuk siswa, mereka mengeluh karena bosan terus menerus belajar dirumah dan dijejali dengan tugas yang menumpuk dalam batas waktu yang ditentukan. Maka, tugas-tugas dikerjakan untuk sekedar menunaikan kewajiban saja. Ditambah, mereka harus terus menatap layar elektronik seperti HP atau laptop dalam beberapa waktu yang lama. Akhirnya, belajar dirumah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Pun demikian halnya dengan guru, tak semua guru pandai menguasai teknologi (gaptek) untuk melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Sehingga mereka seolah dipaksa untuk segera menggupgrade diri untuk bergelut dengan teknologi agar dapat melaksanakan kewajibannya sebagai pendidik generasi. Fasilitas yang diberikan negara pun sangat kurang untuk mendukung para guru menunaikan kewajibannya.

Lalu sampai kapan buruknya pengelolaan sistem pendidikan seperti ini akan terus dijalankan? Akankah menunggu wabah akan berakhir? Mengingat kasus positif corona di Indonesia semakin meningkat. Masihkah mempertahankan sistem sekarang yang sudah jelas kerusakannya? Saat inilah massa yang tepat untuk mengoreksi total kebijakan pemerintah dan arah pendidikan saat ini. Karena tidak mungkin terus dibiarkan seperti ini.

Rusaknya sistem kapitalis telah nyata di mata kita karena pengelolaan negara yang cenderung sekuler kapitalistik. Lihatlah bagaimana wabah ini semakin lama menimbulkan kerusakan yang terus melebar. Ekonomi telah rapuh dan memberi dampak kepada yang lainnya. Ketidaksiapan negara melakukan lockdown dalam penyelesaian wabah misalnya, karena negara tidak mampu menanggung kebutuhan ekonomi keluarga memaksa sebagaian besar masyarakat tetap keluar rumah mencari nafkah, meskipun resiko tertular virus harus mereka hadapi.

Kemiskinan dan pola hidup sekuler kapitalistik menjadikan ibu kehilangan perannya dengan ikut mencari uang. Sehingga saat harus menemani anaknya belajar dirumah, ibu akan merasa pusing dan bingung. Hal ini lah yang membuat keterpaksaan baru bagi seorang ibu, di kembalikan lagi perannya sebagai madrasah utama bagi anak-anak ditengah keterpurukan ekonomi keluarganya.

Sistem kapitalisme inilah yang mengakibatkan negara tak mampu membiayayai pendidikan dan menghadirkan fasilitas yang memadai dalam dunia pendidikan. Alhasil, untuk bisa bersekolah di sekolah fasilitasnya bagus harus mengeluarkan banyak biaya. Beban orang tua semakin besar, disamping tuntutan ekonomi ada pula tuntutan pendidikan yang mahal.

Untuk itu rusaknya sistem haruslah di cabut dan diganti dengan sistem yang baru. Adalah islam sebagai satu-satunya agama yang shahih, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam penyelesaian wabah sesuai dengan sabda Nabi SAW, diterapkanlah karantina wilayah. “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah kamu keluar darinya.” (HR. Imam Muslim).

Maka lockdown dilakukan untuk memberhentikan wabah, sementara kebutuhan pokok masyarakat dipenuhi oleh negara. Karena sejatinya negara adalah pelayan rakyat, untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi negara memenuhi berbagai kebutuhan rakyat bukan hanya ekonomi tapi juga pendidikan.

Dalam negara islam, fasilitas pendidikan akan dibiayai negara secara gratis karena Islam menyadari bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu. Pendidikan didalam Islam berasaskan akidah Islam, sehingga dalam pemberian pembelajaran di masa wabah pun akan diberikan untuk senantiasa menguatkan ketataan kepada Allah. Sistem belajar dirumah dalam negara Khilafah tidak akan memberi beban kepada orang tua karena perekonomiannya stabil dan mampu memberikan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian peran seorang ibu akan kembali menjadi sekolah utama anak-anaknya. ***

Wallahu a’lam bishowab.

Exit mobile version