Kliksumatera.com, MURATARA- Terkait dugaan adanya pemborosan anggaran yang tertumpuk untuk membangun gedung pemandian jenazah berukuran 4 x 4 meter persis di sebelah ruang UGD RSUD Rupit Muratara, yang selama ini menjadi misteri, Advokad/PH RSUD Rupit akhirnya angkat bicara.
Selama ini para awak media sulit bahkan terkesan ”dilarang” dengan beragam alasan untuk langsung bertemu dengan Dirut RSUD Rupit, dr. Herlina. Padahal para awak media hanya ingin mengetahui kejelasan tentang gedung pemandian jenazah yang berukuran 4 x 4 m yang menelan dana Rp 200 juta dan pembangunan taman di areal RSUD Rupit yang menelan anggaran lebih kurang Rp 5,6 miliar.
Melalui penasehat hukum (PH) RSUD Rupit Kabupaten Muratara, Asri SH, akhirnya Dirut RSUD Rupit dr Herlina mengatakan dengan bahasa daerah melalui pesan WA: “baseng bae kawan ko nulis berita, Cubo Cari tempat laen pulak, awak la nanggap iluk dengan kamu, kamu masi romantu ,terserah kawan itula, awak akan bertindak sesuai pungsi awak, kendak kawan sebenarnyo tu apo, selamo ini aku welcom dengan kamu.”
Asri juga menambahkan “alasan kamu nak betemu nian dengan Dirut itu ngapo kalau masala bangunan 4×4 itu banyak aitemnyo dakcuma ruangan tapi ada, keranda, tedmon, kamar mandi di belakang bangunan itu, jalan dari IGD kovid ke UGD lebar 4 m, tinggi 15 cm, selasar UGD kovid,melantai halaman IGD kovid, dan di dalam ruangan ada kamar mandi. Kalaupun dr Herlina di back up ole pak sarif terus masalahnya apa, wajar ,wajar aja karena pak sarep selaku bupati yang memimpin seluru, opd muratara ini. Tidak bisa kita mengatakan orang salah atau tidak hanya pengadilan yang bisa menentukan mana yang bersala mana yang tidak bersalah, Dirut RSUD Rupit dr Herlina pernah diperiksa tapi faktanya sampai hari ini dia tidak ada apa-apanya dan tidak pernah ditetapkan sebagai tersangka ole kejari.”
Sedangkan saat ditanya dugaan kades bermain proyek di RSUD Rupit, Asri mengatakan silakan tanayakan kepada yang bersangkutan. ”na kalau masala kades bermain proyek itu konfirmasikan langsung dengan yang bersangkutan karena itu proyek Pemda,” kata Asri langsung mengirim stiker Jempol.
Sementara itu, Ketua Badan Peneliti Independen (BPI)Muratara Muhammad B mengatakan bahwa jawaban ataupun data yang diberikan oleh Asri tersebut tidaklah akurat. ”Seperti bangunan jalan dari IGD ke UGD, tidak ada volume panjangnya dan tingginya juga tidak sampe 15 cm,” tandasnya, Jumat (16/10/20).
Laporan : Junaidi
Editor/Posting : Imam Ghazali

