Site icon

Muharam, Spirit Hijrah pada Ketaatan Total

WhatsApp Image 2021-08-08 at 18.52.37

Oleh: Hj Padliyati Siregar ST

Suka cita kaum Muslim di seluruh dunia menyambut kedatangan tahun baru Hijrah 1443. Bertepatan dengan bulan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dimana wabah virus Corona masih begitu masif penyebarannya.

Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu bulan paling spesial bagi umat Islam karena banyak mengandung pahala dan ladang beramal bagi orang yang bersungguh-sungguh beribadah.

Bahkan Rasulullah Muhammad SAW menyebut, bulan Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah) karena memiliki keutamaan tersendiri.

Jauh sebelum kedatangan Islam, umat manusia berada dalam cengkeraman perbudakan sesama manusia. Secara politik, dua negara adidaya, Persia dan Romawi, mendominasi berbagai wilayah di Barat maupun Timur. Kedua kerajaan besar itu menjajah dan mengeksploitasi daerah-daerah yang berada dalam kekuasaan mereka; memperbudak dan menyiksa penduduk aslinya, menguras harta mereka dan merusak moralnya.

Pada sisi lain, peradaban manusia diperbudak hawa nafsu. Tolak ukur benar dan salah, terpuji dan tercela adalah hawa nafsu manusia. Di Persia, misalnya, berkembang ajaran Mazdak yang menganggap harta dan wanita sebagai air dan rumput; menjadi milik umum boleh dimiliki siapa saja. Akibatnya, perampokan dan perzinahan serta pemerkosaan marak di sana.

Di bidang peribadatan, manusia menyembah berhala, alam, manusia juga binatang. Di Mesir, Firaun dipuja dan disembah sebagai Tuhan. Di Romawi para kaisar dianggap sebagai titisan dewa. Titah para raja dan kaisar pun dianggap sebagai perintah Tuhan yang tak boleh dilawan.

Namun faktanya sekarang ini,tidak jauh berbeda dengan keadaan sebelum Islam datang,karena itu tepat jika kondisi kehidupan saat ini disebut jahiliah modern. Maju secara sains dan teknologi, namun aturan dan sistemnya tetap aturan dan sistem jahiliah; aturan dan sistemnya tetap buatan manusia.

Momentum Muharam seharusnya mengingatkan kita kembali akan hijrahnya Rasulullah SAW untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai negara, yang akan mewujudkan peradaban yang mulia sepanjang sejarah manusia.

Di saat itulah, Islam datang sebagai risalah yang mulia, membebaskan dan memerdekakan umat manusia. Misi pembebasan dan kemerdekaan yang diberikan Islam.

Memaknai Arti Kata Hijrah

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai, dan mendapatkan kebaikan. Hijrah secara mutlak dalam as-Sunnah ditransformasikan ke makna: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm.

Secara syar’i, menurut para fukaha, pengertian hijrah adalah keluar dari darul kufur menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim.

Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak berada di tangan kaum Muslim sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Pengertian hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam.

Dari semua itu, hijrah mungkin bisa dimaknai sebagai momentum perubahan dan lagu dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari segala bentuk kejahiliahan menuju Islam dan masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam.

Makna dan spirit hijrah itu layak direnungkan, diterjemahkan dalam konteks kekinian. Dengan itu kita dapat mewujudkan kembali keagungan dan kemuliaan Islam dan kaum Muslim sebagaimana yang berhasil Rasul SAW wujudkan pascahijrah.

Perubahan tentu tidak akan datang begitu saja. Perubahan itu harus kita usahakan. Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

…Sungguh Allah tidak mengubah sesuatu yang membuat mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

Karena itu perubahan atau “hijrah” harus dilakukan secara sistemik, keluar dari lingkaran setan sistem liberal kapitalistik. Bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala secara total dengan sistem Islam kaffah. ***

Exit mobile version