Site icon

Nasionalisme Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina

WhatsApp Image 2025-06-22 at 07.44.10

Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang

Pemerintah Mesir dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan dengan tujuan melawan blokade Israel di Jalur Gaza. Aksi Global March to Gaza yang sedianya dimulai pada Minggu (15/6/2025) besok bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023.Seorang pejabat Mesir menyatakan, pemerintah setempat telah mendeportasi lebih dari 30 aktivis di hotel dan Bandara Internasional Kairo. Pejabat itu menyebut para aktivis dideportasi karena “tidak mengantongi izin yang diperlukan.”

Pemerintah Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza dan mendesak gencatan senjata segera. Namun, Kairo juga getol membungkam pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel.Hubungan tersebut merupakan isu sensitif di Mesir karena pemerintah tetap menjaga hubungan dengan Israel kendati publik secara luas bersimpati dengan masyarakat Palestina.( Kompas, Kamis,12/06/2025 )

Oleh karena itu, umat Islam seharusnya paham betapa berbahayanya ide nasionalisme dan konsep negara bangsa, baik dilihat dari sisi pemikiran maupun penerapannya. Keduanya terbukti telah digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghalangi wujudnya persatuan hakiki dan melanggengkan hegemoni kapitalisme di dunia, khususnya di negeri-negeri Islam.

Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina, terkhusus untuk menolong muslim Gaza, tidak mungkin hanya bermodal gerakan dan semangat kemanusiaan, sekalipun bukan berarti apa yang sudah dilakukan itu sia-sia. Begitu pula, tidak mungkin masalah Palestina bisa diselesaikan oleh solusi-solusi absurd yang mereka tawarkan, termasuk solusi dua negara yang sejatinya tidak mungkin diterima oleh Zion*s sebagaimana yang kita lihat sekarang, dan justru tawaran solusi ini digunakan untuk menjauhkan umat dari beramal untuk mewujudkan solusi yang sebenarnya.

Terlebih persoalan Palestina dan Gaza terbukti bukan hanya menyangkut soal kemanusiaan. Masalah Palestina dan Gaza hakikatnya merupakan urusan politik dan lahir dari keputusan-keputusan politik yang harus dilawan dengan gerakan dan langkah-langkah politik. Salah satunya adalah dengan fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan kembali satu kepemimpinan politik Islam, yakni sebuah negara adidaya baru yang bisa vis a vis berhadapan dengan kekuatan adidaya yang mem-back up kekuatan entitas Zion*s di Palestina.

Itulah sistem Khilafah Islam yang akan mengonsolidasi seluruh kekuatan umat hingga tampil sebagai negara mandiri dan kuat. Khilafah pula yang akan memobilisir tentara dan senjata untuk menolong Gaza dan membebaskan Palestina dengan memimpin jihad fi sabilillah. Khilafahlah yang akan mengembalikan wibawa umat sebagaimana seharusnya. Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasulullah saw. yang pasti wujudnya.

Kemunculan Khilafah ini sangat ditakuti penguasa Amerika dan sekutunya, termasuk oleh pemimpin Zion*s yang hari ini tengah menghinakan Palestina, khususnya Gaza. Ketakutan mereka ini tecermin dari berbagai statemen yang mereka lontarkan soal Khilafah. Mereka bahkan menunjukkan permusuhannya dan bertekad kuat untuk mencegah kehadirannya.

Kita ingat Netanyahu, pada 23-4-2025, pernah berkata, “Kami bertekad untuk membebaskan para tawanan dan kami tidak akan membiarkan berdirinya Khilafah Islam (Kekhalifahan) mana pun, baik di utara maupun di selatan, atau di tempat lain mana pun. Jika para ekstremis mengalahkan kami, dunia Barat akan menjadi target mereka berikutnya.” Apa yang ia katakan ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Presiden Amerika ke-43, George W. Bush jauh sebelumnya, “Mereka berharap untuk mendirikan utopia politik yang penuh kekerasan di seluruh Timur Tengah, yang mereka sebut Kekhalifahan, di mana semua orang akan diperintah sesuai dengan ideologi kebencian mereka.”

Ketakutan ini tampak sudah merasuk dalam darah dan daging mereka. Itulah yang melatari munculnya berbagai upaya perang melawan teror yang diikuti dengan perang global melawan radikalisme. Mereka menciptakan berbagai drama dan narasi sesat demi memonsterisasi Islam politik dan konsep negara Khilafah. Mereka menciptakan gagasan Islam moderat yang diaruskan demi memupus cita-cita umat untuk hidup di bawah naungan Khilafah sebagai institusi penegak hukum-hukum syariat.

Mereka mengerahkan segala daya dan upaya, mulai kekuatan politik, ekonomi, budaya, hingga media massa demi mewujudkan targetnya. Mereka rangkul berbagai pihak yang mudah diiming-iming dengan materi dan kedudukan sesaat, termasuk di antaranya para penguasa muslim dan para tokoh umat yang haus materi, kedudukan, dan jabatan kekuasaan.

Mewujudkan kembali Khilafah memang tidak semudah membalik telapak tangan. Terlebih tidak sedikit umat yang termakan propaganda hingga turut alergi, bahkan tidak percaya bahwa masa depan peradaban ini ada pada kepemimpinan politik Islam. Sebagian mereka bahkan rela berdiri di garda depan untuk melawan kebangkitan Islam. Mereka rela berdiri di sisi musuh-musuh Islam dan memilih menjadi kaum munafik yang menusuk umat dari belakang.

Namun, itulah PR kita sebagai bagian umat yang sudah berkesadaran. Ada tanggung jawab besar untuk melakukan penyadaran bahwa selain urgen, hidup dengan Islam adalah konsekuensi iman. Penyadaran inilah yang disebut dengan dakwah. Namun, tentu bukan sembarang dakwah, melainkan dakwah yang mengarah pada penerapan Islam kafah di bawah naungan Khilafah Islam.

Dakwah seperti ini tidak mungkin dilakukan sendirian, melainkan harus bergabung bersama gerakan yang terbukti ikhlas berjuang demi kemuliaan Islam, serta berjalan di atas manhaj dakwah yang Rasulullah saw. contohkan. Yakni sebuah gerakan politik ideologis yang bergerak tanpa sekat negara dan kebangsaan, serta konsisten berjuang di atas asas dan aturan Islam demi mewujudkan kepemimpinan Islam tanpa kekerasan. Wallahualam bissawab.

Exit mobile version