Site icon

Negara Gagal Menjamin Makanan Halal dan Thayib Bagi Rakyatnya

WhatsApp Image 2024-08-05 at 19.56.34

Oleh : Nina

Makanan merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi bagi setiap manusia (Hajatul Udlowiyah). Apabila tidak terpenuhi maka akan menghantarkan kehidupan manusia pada kerusakan bahkan kematian. Unsur makanan yang harus dipenuhi dalam Islam haruslah memenuhi standar kehalalannya. Baik itu cara memperolehnya, cara mengolahnya, bahkan sampai tata cara makan harus sesuai tuntunan agama yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dilansir dari Jakarta, CNN Indonesia, ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena gagal ginjal. Dokter mengungkap salah satunya adalah kebiasaan konsumsi makanan dan minuman kemasan yang tinggi gula.

Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Eka Laksmi Hidayati mengatakan pola hidup tidak sehat mendominasi faktor penyebab gagal ginjal. “Penyebab gagal ginjal yang bisa terjadi itu lifestyle, itu pengaruhnya dari obesitas. Itu berisiko sekali terjadi penurunan fungsi ginjal,” kata Eka dalam Instagram live RSCM Official, Kamis (25/7).

Banyak kasus beredar tentang anak-anak yang menjalani pengobatan dengan cuci darah. Jika kita mendengar tentang cuci darah, yang ada di pikiran kita adalah usia seseorang yang menjalani cuci darah tidak akan berusia lama. Bagaimana hal ini bisa terjadi di usia anak-anak. Tentu saja ada pemicunya. Seperti yang dikatakan Dokter spesialis Anak di RSCM Eka Laksmi Hidayati, salah satu penyebabnya adalah makanan dan minuman yang mengandung tinggi gula.

Tak dapat dipungkiri, jika kita melihat kasus yang terjadi pada anak-anak sekarang. jajanan yang mereka beli di sekolah atau di tempat umum, kebanyakan mengandung gula buatan. Seperti minuman sachet yang mengandung gula melebihi kadar angka kecukupan gizi, makanan berpengawet, pewarna dan lain-lain. Apabila mereka konsumsi itu setiap harinya, dalam jumlah yang melebihi batas normal. maka tentu saja sangat berakibat buruk pada tumbuh kembang mereka.

Sebagai konsumen terutama anak-anak, yang menjadi target pasar bagi produsen makanan ringan. Mereka tidak bisa memilih mana makanan yang tidak baik atau yang mengandung bahan zat adiktif lainnya yang tidak layak dikonsumsi mereka, yang menarik perhatian mereka adalah kemasan dan rasa yang menggiurkan.

Seharusnya, negara sebagai pengurus rakyat (ra’in) dalam hal ini bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi bahan konsumsi bagi masyarakat terutama anak-anak. Tidak bisa sembarang makanan atau minuman yang bisa lolos dalam Badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) dan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Harus melalui produser tertentu untuk bisa menjual produk-produk yang mereka hasilkan. Makanan yang diperjualbelikan harus layak, aman, terjangkau dan juga menyehatkan.

Dalam sistem kapitalis, sebuah perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman terkadang tidak memperhatikan bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan tersebut. Yang menjadi tujuan mereka hanyalah dengan modal sekecil-kecilnya, tetapi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Negara yang menganut sistem Islam sangat memperhatikan kesehatan bagi rakyatnya. Tidak sembarang makanan bisa diperjualbelikan. Asal makanan harus jelas dari mana/cara memperolehnya, kemudian prosesnya juga harus halal tidak boleh bercampur dengan yang diharamkan agama. Karena dari makanan yang mereka konsumsi akan mempengaruhi tubuh mereka.

Makanan yang halal dan baik akan mengalirkan darah yang sehat di tubuh mereka, memudahkan mereka untuk beribadah, tidak mudah malas ketika melakukan aktifitas, tidak mudah terserang penyakit dan lebih mudah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lain halnya apabila makanan yang didapat tidak jelas halal haramnya, diperoleh dari mencuri, atau bahkan mengandung bahan yang haram seperti daging babi, atau hewan yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah. Makanan yang tidak halal dan tidak Thayib akan mempengaruhi seseorang dalam hubungannya kepada sang Pencipta.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Di dalam Islam, manusia yang melanggar perbuatan yang diharamkan oleh Allah maka akan mendapatkan dosa, tetapi apabila manusia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah, maka ganjarannya adalah pahala.

Wallahu’alam.

Exit mobile version