Site icon

Pajak Motor Meningkat, Hidup Rakyat Makin Berat

WhatsApp Image 2024-02-20 at 03.18.47

Oleh: Syarifah Aini, S.Kom., M.Kom.

Baru-baru ini mencuat wacana pemerintah untuk menaikkan pajak kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Wacana menaikkan pajak motor berbahan bakar minyak ini disinyalir sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara terutama di Jabodetabek.

Meski masih wacana, kebijakan untuk menaikkan pajak kendaraan bermotor ini tentu akan makin mempersulit kehidupan rakyat.

Faktanya, mayoritas pengguna kendaraan bermotor adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah, dimana alasan mereka menggunakan kendaraan bermotor karena biaya yang murah.

Pada kenyataannya di sistem ekonomi kapitalisme yang saat ini diterapkan, pajak dijadikan sebagai sumber utama pendapatan negara.

Pajak dijadikan sumber untuk segala pembiayaan negara seperti pembangunan, gaji pegawai negara, kesehatan, dan lainnya, padahal kebijakan ini menjadi sebuah kezaliman, karena memaksa rakyat untuk membayar pajak ditengah himpitan ekonomi yang kian mahal.

Sebagaiman Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Asy-Syura: 42)

Miris memang di tengah pajak yang diberlakukan kepada rakyat tersebut, nyatanya tidak membuat rakyat sejahtera, beginilah potret kehidupan di sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan.

Karena dalam sistem kapitalisme, negara mengabaikan perannya sebagai pengurus umat. Mereka justru berpihak pada korporasi atau pemilik modal. Padahal negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang bisa menjadi sumber utama pendapatan negara.

Namun kenyataannya, sumber daya alam tersebut justru diserahkan kepada swasta dan korporasi dalam pengelolaannya. Negara hanya mendapatkan pembagian hasil keuntungan pengelolaan sumber daya alam tersebut tidak sampai seperempat dari keuntungan yang didapatkan.

Sementara sisanya menjadi hak dari swasta dan korporasi yang mengelolanya. Maka, selama sistem kapitalisme ini masih diterapkan, kesejahteraan rakyat secara menyeluruh tidak akan tercapai.

Umat harusnya menyadari bahwa dibutuhkan sistem pengganti, untuk menggantikan sistem kapitalisme saat ini. Umat harusnya melihat ada sebuah sistem hari ini yang mampu mengeluarkan rakyat dari jeratan ketidaksejahteraan, yakni sistem yang berasal dari Allah Al-Khaliq, yaitu Islam.

Sebagai ideologi, Islam tidak hanya mengatur aspek ritual, tetapi juga seluruh aspek dalam kehidupan termasuk aspek ekonomi, hukum, sosial, budaya, politik, dan sebagainya. Aspek tersebut berwujud dalam bentuk sistem kepemimpinan islam atau khilafah.

Sistem ini tegak diatas landasan akidah dan berfungsi menegakkan hukum-hukum syariat. Dengan dua hal ini, khilafah mampu menjalankan dua fungsi kepemimpinan, yaitu rain (pengurus) dan junnah (penjaga) umat.

Dengan dua hal ini pula, kepemimpinan ini tidak hanya akan memberikan manfaat secara duniawi, yaitu terwujudnya kesejahteraan dan keadilan rakyat, tetapi akan menghasilkan kepemimpinan yang berorientasi pada akhirat, yaitu pertanggungjawaban di yaumil hisab.

Konsep kepemimpinan seperti ini akan menjadi pencegah terjadinya penyelewengan dan kezaliman terhadap seluruh aspek kehidupan termasuk manusia, makhluk hidup, sumber daya alam, dan seluruh elemen yang terdapat dalam aspek kehidupan tersebut.

Dalam khilafah, pajak tidak akan dipungut kepada rakyat, kecuali jika ada pembiayaan wajib atau kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh kas negara.

Rakyat yang dipungut pajak pun adalah rakyat yang sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar dan perlengkapan secara sempurna sesuai standar tempat mereka tinggal.

Apabila pembiayaan wajib atau kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, pajak akan dihentikan. Dalam khilafah, tidak akan ada pajak tidak langsung, pajak pertambahan nilai, pajak hiburan, pajak jual beli, pajak kendaraan, dan berbagai jenis pajak lainnya sebagaimana yang diterapkan oleh sistem kapitalisme saat ini.

Maka tidak ada sistem lain yang mampu menandingi islam, sebagaimana daulah islam dulu baik di zaman rasul, sahabat tabiin serta tabiut mampu membangun negara tanpa pajak yang mencekik rakyat serta memudahkan hidup umat.

Allahualam bishowab

Exit mobile version