Site icon

Penembakan Massal di AS, Ciri Masyarakat Sakit

WhatsApp Image 2022-05-18 at 22.53.34

Oleh : Desi Anggraini (Pendidik Palembang)

Penembakan massal bermotif rasisme guncang AS, otoritas keamanan mengatakan 10 orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka ketika seorang pria melepaskan tembakan ke sebuah supermarket di Buffalo, New York, Amerika Serikat (AS). Polisi mengatakan pelaku penembakan yang sekarang ditahan, akan didakwa dengan pembunuhan dalam apa yang disebut petugas keamanan sebagai kejahatan rasial dan kasus ekstremisme kekerasan bermotivasi rasial.

“Ini benar-benar kejahatan,” kata Sheriff Erie County John Garcia. “Ini adalah kejahatan kebencian bermotiv rasial langsung dari seseorang di luar komunitas kami,” imbuhnya seperti dikutip dari CBS News, Minggu (15/5/2022).

Komisaris Polisi Buffalo Joseph Gramaglia pada konferensi pers mengatakan bahwa sekitar pukul 14:30 waktu setempat, seorang pria kulit putih berusia 18 tahun yang bukan berasal dari daerah itu keluar dari kendaraannya di Tops Friendly Market. Pria itu, yang belum diidentifikasi secara publik oleh pihak berwenang, “bersenjata berat” dan memakai helm dan perlengkapan taktis. Pelaku juga memiliki kamera dan menyiarkan secara langsung aksi penembakan itu. (SindoNews, Minggu, 15/05/2022).

Kebebasan yang AS elu-elukan pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka. Prinsip kebebasan ini pula yang memicu rasisme di AS. Mereka merasa berhak menghina dan melecehkan warga kulit hitam karena punya kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Kita tentu masih mengingat kejahatan berbasis ras yang terjadi di sana. Dari kebencian terhadap Asia akibat retorika yang menyalahkan orang Asia sebagai biang kerok penyebaran Covid-19, hingga pembunuhan oleh pelaku berkulit putih atas warga kulit hitam, seperti yang dialami George Floyd, dan lainnya.

Beberapa kasus pembunuhan warga kulit hitam AS kebanyakan dilatarbelakangi motif rasial. Supremasi kulit putih atas kulit hitam tidak pernah berhenti meski AS koar-koar kepada dunia bahwa ia menjunjung tinggi toleransi dan HAM. Bagai tong kosong nyaring bunyinya, hal itu tidak benar-benar terealisasi. Hanya sekadar teori, minim aksi.

Inilah sederet fakta bahwa kebebasan yang menjadi pilar demokrasi telah gagal mencegah rasisme di AS. Amerika yang kita kenal sebagai pencetus dan pelopor HAM di dunia tidak menjalankan apa yang mereka buat sendiri.

Mengakunya pencetus HAM, justru jadi pelanggar HAM. Mengakunya negara toleran, malah lebih intoleran dibanding negara lainnya. Mengakunya menghargai kebebasan, nyatanya gagal menjaga keselamatan nyawa warganya. Pantaskah negara semacam ini menjadi role model membangun masyarakat?

Di AS, sistem yang memengaruhi perasaan dan pemikiran mereka ialah sekularisme. Agama tidak akan menjadi tolok ukur dalam perbuatan dan tidak boleh turut campur mengatur kehidupan mereka. Aturan manusialah yang menjadi standar perbuatan yang melahirkan budaya liberal dan permisif.

Kebebasan menjadi hal yang wajib dilindungi. Kehidupan masyarakat AS sangat bebas. Fenomena zina, hamil di luar nikah, kumpul kebo, eljibitiqi, bunuh diri, tingginya kriminalitas, suburnya rasisme, dan sebagainya, adalah contoh nyata sistem kehidupan masyarakatnya bermasalah.

Sekularisme membuat nilai kebaikan dan moral makin terkikis. Hal ini yang membuat kehidupan sosial masyarakat Barat sakit dan rusak. Dari luar tampak maju, tetapi dari dalam masyarakatnya rapuh.

Jika kita ingin menilai layakkah ideologi kapitalisme dan akidah sekulernya diterapkan, lihatlah AS. Apakah dengan ideologi itu mereka menjadi masyarakat yang beradab? Apakah dengan ideologi tersebut kehidupan masyarakatnya lebih baik? Tentu saja tidak. Oleh karenanya, Barat, utamanya AS, sangat tidak layak menjadi kiblat dan percontohan dalam membangun masyarakat.

Mengubah masyarakat tidak cukup hanya mengubah individu. Jika sistem yang diterapkan rusak, individu yang baik pun bisa rusak. Ibarat air laut yang tercemar, ikan-ikan di dalamnya akan ikut teracuni. Begitulah pentingnya sebuah sistem atau lingkungan yang baik. Oleh karena itu, upaya membangun masyarakat yang baik, selain memperhatikan aspek individu, juga harus fokus mengubah sistem yang diterapkan atas mereka.

Islam telah memberikan panduan dalam membangun masyarakat.

Pertama, individu bertakwa. Hal ini dilakukan melalui pembinaan agar setiap muslim berkepribadian Islam, yaitu pola pikir dan sikapnya sesuai tuntunan Islam.

Kedua, masyarakat taat. Islam mengatur secara terperinci tata pergaulan dan sistem sosial di masyarakat. Mereka akan terbiasa beramar makruf nahi mungkar dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, negara berdakwah. Peran negara sangat penting dalam membentuk sistem. Negara akan menerapkan syariat Islam secara kafah. Mulai sistem pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan hankamnya harus berdasarkan pandangan Islam.

Islam tidak mengenal perbedaan golongan, suku, atau ras. Ketika Islam datang, semua manusia diperlakukan sama. Tatkala Islam menaungi suatu negeri, ia menjadi perekat kuat bangsa-bangsa. Kekuasaan Islam membentang dari Asia hingga Afrika melintasi batas negara dan bangsa-bangsa. Peradabannya menjadi mercusuar dunia.

Contoh paling sederhana ialah bagaimana Rasulullah ﷺ melepaskan ikatan kebangsaan dan kesukuan yang berlaku saat itu menjadi ikatan ukhuwah islamiah yang berasaskan akidah Islam.

Beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, layaknya Bilal, mantan budak yang hitam legam, dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah, salah satu Anshar.

Rasul berhasil membentuk masyarakat Islam yang khas. Beliau melenyapkan fanatisme kesukuan jahiliah serta meruntuhkan semua perbedaan yang didasarkan pada keturunan, warna kulit, ras, dan kebangsaan.

Islam hanya mengenal perbedaan pada derajat takwa setiap hamba. Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Abu Dzar, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR Ahmad)

Perlakuan Islam terhadap sesama manusia inilah yang menjadikannya sebagai ideologi yang mampu mempersatukan berbagai suku, ras, dan golongan di antara umat manusia. Penerapan keberagaman ini tecermin dalam lembaran sejarah peradaban Islam. Khilafah menampilkan diri sebagai negara yang menerapkan keberagaman yang adil.

Penerapan sistem Khilafah memberi manfaat dan kebaikan, baik muslim maupun nonmuslim, yang memilih hidup sebagai warga negara sebagai ahli zimi, maupun yang hidup di luar negara Khilafah sebagai muahid (yang terikat perjanjian), serta musta’min (kafir yang masuk ke negeri Islam dengan jaminan).

Dunia di bawah demokrasi sekuler nyatanya gagal membangun masyarakat ideal. Faktanya sudah sangat banyak. Bukti kerusakannya tampak jelas. Lantas, mengapa masih ada yang meragukan Islam sebagai solusi atas problematik kehidupan? Mengapa pula masih saja ada yang meyakini demokrasi sebagai sistem terbaik di antara yang buruk? Wallahu a’lam bissawab.

Exit mobile version