Site icon

Peran Pemuda dalam Politik

WhatsApp Image 2023-12-12 at 15.38.09

(Oleh :Ummu Aziz)

Pesta demokrasi yang katanya berlangsung setiap 5tahun sudah di depan mata. Berbagai corak ,warna menghiasi jalan jalan dengan berbagai pose. Pasangan yang mecalonkan kandidat mulai dari presiden hingga pejabat daerah.

Pada hari Selasa (28 November 2023) resmi kampanye di buka hingga menjelang pemilu nanti di bulan Februari.

Peran pemuda memasuki tahun politik ialah melawan politik pecah belah. Anak muda bertanggung jawab mengawal persatuan, terutama menuju Pilpres 2024 mendatang.

Penguasa, pejabat, dan politisi mengetahui dan menyadari bahwa pada Pemilu 2024, generasi muda berusia 22—30 tahun akan mendominasi pemilihan. Porsi generasi muda ada sekitar 56% atau 114 juta, separuhnya termasuk pemilih pemula.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan, pemilih muda erat hubungannya dengan media sosial yang menjadi salah satu sarana distribusi informasi mengenai pemilu hingga kampanye. (BBC Indonesia, 5-9-2023).

Gen Z sendiri merupakan kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik. Diperkirakan, generasi muda Indonesia cenderung apatis terhadap perkembangan politik dan tidak senasionalis generasi sebelumnya. Pemilih muda juga tidak mudah didorong oleh preferensi keluarga mereka terhadap kandidat tertentu dalam pilpres nanti. Dengan potensi jumlahnya yang sangat besar, tentu peluang untuk mereka terlibat dalam Pemilu 2024 nanti juga sangat besar.

Oleh karenanya, mengingat jumlah pemilih muda sangat besar itu, parpol dan kandidat potensial mulai menerapkan strategi media sosial untuk menarik mereka. Tidak main-main, mereka menggandeng anak muda untuk dijadikan sebagai politisi muda demi melariskan “dagangan” kampanye mereka.

Pemuda Bervisi Politik Islam

Pemuda dalam Islam wajib beraktivitas politik. Mereka mengoreksi kebijakan penguasa yang tidak membela kepentingan umat, ataupun ketika penguasa lalai terhadap tugas utamanya mengurusi kepentingan umat. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang zalim.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Hakim).

Pemuda tidak boleh diam. Mereka harus berbicara yang hak, berdiri melawan kezaliman yang mengancam kedaulatan bangsa, serta memaksimalkan semua potensi keimanan, kecerdasan, dan keberaniannya.

Para pemuda juga seyogianya melakukan sejumlah hal. Pertama, menghunjamkan keimanan bahwa Islam adalah agama yang paripurna, mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual.

Kedua, mengkaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Mereka terikat dengan syariat Islam hingga bisa menilai baik dan buruk berdasarkan ajaran Islam.

Ketiga, senantiasa memiliki sikap berpihak pada Islam, bukan netral, apalagi oportunis demi mencari keuntungan duniawi. Mereka pun memiliki visi politik yang islami, bukan mengambil nilai-nilai demokrasi.

Keempat, terlibat dalam dakwah Islam demi tegaknya Islam kafah dalam naungan Khilafah. Al-Quran telah merekam keteguhan iman dan kesungguhan perjuangan para pemuda Kahfi hingga mereka mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah Taala.

Ingatlah sabda Nabi SAW, wahai pemuda, “Janganlah kalian menjadi imma’ah (suka ikut-ikutan)! Kalian berkata, ‘Jika manusia berbuat baik, kami pun akan berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, kami juga akan berbuat zalim.’ Akan tetapi, kukuhkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian juga berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, jangan kalian berlaku zalim.” (HR At-Tirmidzi).

Exit mobile version