Oleh : Henny
Pandemi Covid yang tak kunjung berakhir membuat masyarakat semakin takut. Masyarakat merasa terancam akan hadirnya varian baru dari mutasi covid ini. Dalam beberapa bulan terakhir, tren kasus positif Covid-19 di negeri ini mengalami kenaikan. Pemerinteh menghimbau masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktivitasnya. Pemerintah pun menyarankan agar masyarakat berkenan untuk melakukan vaksinasi guna menghindari bertambahnya kasus baru akibat Virus Covid-19 ini. Selain pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghindari Virus Covid-19, pemerintah pun diharapkan dapat segera bertindak tegas dalam menekan angka penyebaran Virus Covid-19 ini. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan pandemi Virus Corona (Covid-19) saat ini. Hermawan mengatakan pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Menurutnya, pilihan yang paling radikal adalah lockdown. Dia pun menyebut bahwa lockdown regional merupakan opsi yang bisa membantu indonesia keluar dari situasi lonjakan pandemi Covid-19 dan menegaskan lockdown dapat memutus mobilitas orang dengan ketat. Lockdown juga jadi opsi yang disarankan karena berkaca pada negara negara yang sukses mengatasi Pandemi Covid-19. Beberapa di antaran nya seperti Australia, Jerman, Belanda, dan beberapa negara lainnya di Eropa. Hermawan juga mengkritik kebijakan ‘gas-rem’ yang sering kali jadi narasi Presiden Joko Widodo saat kasus melonjak. Kebijakan ini tak cukup kuat mengatasi pandemi, bahkan bisa jadi bom waktu, (CNNIndonesia / Minggu, 20 Juni 2021).
Situasi wabah yang makin tak terkendali menunjukkan bahwa sistem kesehatan yang di terapkan kapitalistik sudah kolaps. Negara sudah salah langkah sejak awal dalam mengatasi pandemi ini. Penanganan pandemi yang dilakukan pemerintah pun tampak setengah hati dan plin-plan dalam mengurusi rakyatnya. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap prokes yang sering dijadikan dalih, sebenarnya hanya untuk menutupi ketidakmampuan negara dalam mengurusi rakyatnya.Jika penguasanya saja sudah kehilangan kepercayaan, maka akan sulit untuk membuat rakyat patuh terhadap kebijakan yang ditetapkan.
Berlarut-larutnya pandemi tak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme yang memimpin di negeri ini. Sistem inilah yang telah memposisikan bahwa nyawa tak lebih berharga dari materi. Bukan hal yang mustahil lagi jika pandemi ini malah dijadikan bisnis bagi para penguasa. Pemerintah nampak jelas hanya sekedar mencari keuntungan pribadi dalam menangani pandemi seperti sekarang ini. Sekali lagi ditegaskan, bahwa negara memang sudah gagal dalam menekan angka penularan Virus Covid-19 sejak awal. Buruknya pelayanan kesehatan dalam kondisi sekarang menunjukkan bobroknya penerapan sistem yang batil, yang sebenarnya sudah tidak layak dipertahankan.
Dalam Islam, penguasa adalah pengurus yang mengedepankan prinsip menjaga jiwa setiap rakyat, terutama dalam masa pandemi seperti sekarang. Bila negara menerapkan sistem Islam, pastilah rakyat akan dibuat lebih tenang dalam menghadapi pandemi yang tak kunjung berakhir. Sebab, pempimpin nya pasti sangat memperhatikan keselamatan rakyatnya. Bagi siapa saja yang sakit, negara akan memberikan layanan berupa fasilitas kesehatan, obat-obatan, dan makanan. Bagi yang sembuh, negara pun akan memberikan biaya untuk pemulihan setelah sakit. Semua ini hanya bisa terealisasi dibawah sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah Islamiyah. Karena kehebatan Islam menangani wabah berdasarkan pada aturan/syariat dari Sang Pencipta untuk mengatur hidup seluruh manusia.
Wallahu a’lam ….

