Site icon

Perang Baleho Semakin Marak

WhatsApp Image 2021-08-18 at 17.25.34

Oleh: Desi Anggraini (Pendidik Palembang)

Perang baleho semakin marak, mulai dari Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketum Demokrat AHY. Apakah pemasangan baliho masih efektif meningkatkan popularitas?
Pakar Komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baleho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baleho akan menjadi pusat perhatian publik.

Menurut Firman di musim kampanye perang baleho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Sehingga menurutnya, pesan yang ada di baleho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

Hal kreatif lain, menurut Firman, adalah pemasangan sensor di baleho, sehingga pesan yang ada di baleho dapat terdeteksi langsung di alat komunikasi yang dimiliki para pemakai jalan yang melewati baliho tersebut. Bukan sekadar jumlah dan posisi pemasangan.

Menurut Firman, penggunaan baleho bukan lagi terkait jumlah atau di mana baleho itu terpasang. Firman mengatakan hal itu akan sia-sia. (Detiknews,05/08/2021).

Sayangnya pula, pemasangan baleho dengan harga fantastis itu diiringi dengan penghapusan mural, yang juga terdapat di sejumlah kota. Padahal mural itu berisi curahan hati rakyat, bukti kepiluan mereka di balik hantaman pandemi. Adakalanya, mural itu juga berisi kritik sosial.

Penghapusan mural-mural tersebut, ketika pada saat yang sama terjadi pemasangan baleho-baleho tadi, adalah sebuah bahasa opini represif yang sangat kasat mata. Di sana mengandung bahasa politik antikritik, di mana ada satu opini yang hendak dinaikkan agar menarik publik, sekaligus ada opini lain yang ingin diturunkan demi membungkam kritik.

Padahal, bahasa tubuh publik itu tak bisa didustakan. Publik akan merespons baik jika memang perlakuan yang mereka peroleh juga baik. Demikian sebaliknya.

Justru penguasa akan tampak cenderung arogan ketika terjadi penghapusan mural, tapi di sisi lain tidak disertai upaya perbaikan pengurusan urusan publik dalam bentuk yang lebih persuasif dan bisa meningkatkan/mengembalikan kepercayaan publik kepada penguasa.

Ternyata, alih-alih demi menjawab kritik yang ada. Sebaliknya, penghapusan mural lebih identik dengan pembungkaman sosial.

Sungguh, kinerja sejati penguasa semata-mata akan terwujud ketika para pemegang tampuk kekuasaan itu paham benar konsekuensi berkuasa. Manifestasi berkuasa jelas bukan aji mumpung. Apalagi yang hanya dibalut pencitraan.

Berkuasa berarti menjadi penanggung jawab urusan masyarakat luas. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang harus terus dipegang oleh kaum muslimin, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Dengan mengamalkan sabda Rasulullah SAW tersebut, kinerja itu akan tampak, bukan sekadar tebar pesona. Karenanya, pencitraan juga pantas dilakukan ketika kinerja sudah nyata. Tak semestinya penguasa hanya obral janji, apalagi menebar dusta. Na’udzu billaahi min dzaalik.

Memang yang menjadi biang masalah di negeri toh bukan hanya jungkir balik si penguasa. Lebih dari itu, di sana ada sistem pengampu pemerintahan yang sebenarnya keropos akibat bertumpu pada sekularisme.

Landasan sekuler tersebut sangat besar peluangnya untuk lahirnya kebijakan-kebijakan ala kadarnya, pun yang sarat kepentingan pihak tertentu, khususnya pemodal. Tanggung jawab selaku penguasa pun mudah terkikis hingga akhirnya minimalis, karena mereka tak ubahnya pemerintahan boneka. Mudah dikendalikan dari berbagai arah.

Karena itu, rakyat jangan lelah melakukan muhasabah lil hukkam. Terus gencarkan koreksi kepada penguasa. Jangan diam atas kezaliman. Jangan ragu mengkritik jika yakin benar.

Penguasa mungkin bisa menghapus mural demi naiknya baliho kandidat penguasa baru, tetapi suara kebenaran akan senantiasa seperti air yang terus mencari celah demi tetap dapat mengalir kendati telah dibendung/dibungkam di sana-sini.

Demikianlah Rasulullah saw. bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zalim itu) membunuhnya.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath).

Sungguh, pekatnya sekularisme berbuah kian jauhnya hamba dari aturan Sang Pencipta. Aturan agama dipinggirkan, bahkan tak jarang dinodai tangan durjana pemuja syahwat dunia. Semua dikemas agar tampak indah melalui politik tebar pesona.

Kezaliman memang tengah mendapat panggung. Namun, keadilan dan kebenaran jangan sampai demam panggung tanpa nyali mengoreksi. Karena bagaimanapun, kezaliman dan kekufuran pasti akan lenyap. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah. Wallaahu a’lam bi ash shawab. ***

Exit mobile version