Site icon

Perempuan Dalam Kubangan Moderasi

WhatsApp Image 2021-12-25 at 00.38.24

Oleh: Ummu Aisyah

Baru-baru ini telah berlangsung Pelantikan Kepengurusan BKMT (Badan Koordinasi Majelis Ta’lim) di Kecamatan Ilir Barat 2. Dan pada pekan yang sama dihari Sabtu, 11 Desember 2021 juga telah berlangsung Rakerja BKPAKSI yang dihadiri oleh seluruh guru TK/TPA di Sumsel yang bertempat di Asrama Haji Palembang. Dan Banyak lagi kegiatan yang dilakukan Organisasi Islam ini.

Di samping berbagai kegiatan diatas yang semakin di gencarkan, terdapat pula program-program pengelolaan dana guna pemberdayaan Ekonomi perempuan melalui arahan FKMT adalah bahwa diharapkan selurhuh anggota MT (majelis Ta’lim) terlibat atau bergabung dan Koperasi Simpan Pinjam.

Akad batil Koperasi yang sedang di aruskan untuk mengarus deraskan moderasi Islam. Hasil pengamatan dan diskusi dengan beberapa orang yang sudah bergabung dengan koperasi adalah sebagai berikut:
1. Ada sejumlah uang (Rp 10.000) yang harus disetorkan oleh anggota setiap bulannya.
2. Bila anggota koperasi keluar maka uang tidak dikembalikan atau hangus
3. Uang dapat diambil dalam bentuk pinjaman, dan harus dikembalikan.

Selain koperasi yang di tawarkan di MT-MT, pemerintah yang bekerjasama dengan bank juga menawarkan pinjaman Mekarsari, dan pembayaran dilakukan setiap pekan sekali. Untuk menarik minat masyarakat, maka disertakan bantuan pemerintah senilai 1,2 Jt – 2,4 Jt.

Sudah barang tentu ini menggoda keimanan masyarakat yang sedang dilanda berbagai persoalan ekonomi akibat pandemi Covid-19

Kapitalisme Sekulerisme Telah Menyengsarakan Umat

Dari fakta di atas, kita melihat begitu kompleksnya persoalan yang sedang membelenggu umat saat ini. Masjid yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu/mengkaji Islam, mentdaburi Al Quran, serta berbagai aktivitas ibadah lainnya, kini justru menjadi pusat bertemunya para kapitalis yang mencoba mengumpulkan recehan yang tersisa pada umat untuk mereka kelola mengatasnamakan Simpan Pinjam dan Gotong royong.

Tidak hanya itu saja Majelis Ta’lim (MT) kini sibuk dengan berbagai kegiatan sosial PKK seperti (lomba masak dan lqin-lain). Mereka tidak menyadari kondisi ini sengaja diciptakan agar umat Islam semakin jauh dari agama-Nya. Ini juga sebagai bukti bahwa pengarusan Moderasi ditataran bawah sudah begitu masifnya.

Kapitalisme telah mengalihkan fungsi perempuan yang seharusnya menjadi pendidik Generasi, malah menjadi mesin produksi.

Islam Memuliakan Perempuan

Memuliakan dan melindungi perempuan bukanlah dengan menjadikan mereka sebagai pencari nafkah dengan berpartisipasi dalam sektor ekonomi atau memberi posisi sebagai top leader dalam bisnis-bisnis korporasi. Akan tetapi, caranya dengan mengembalikan perempuan pada fungsi utama sebagai pendidik generasi dan pengurus rumah.

Islam memberikan tanggung jawab pada seorang ibu untuk menjaga kehamilan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak, serta mengatur rumah suaminya pada seorang ibu. Tidak ada beban bagi seorang perempuan untuk bekerja keras menyejahterakan ekonomi keluarga karena hal itu merupakan tanggung jawab laki-laki (suami dan wali).

Islam juga memberikan aturan khusus bagi perempuan untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga suaminya sekaligus pemimpin bagi anak-anaknya. Rasulullah saw. bersabda sebagaimana penuturan Ibn ’Umar, “Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…, seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….” (HR Bukhari-Muslim).

Pemberdayaan perempuan dalam Islam bukanlah dengan menjadikan mereka sebagai tumbal ekonomi negara, melainkan sebagai ibu pendidik generasi yang dinafkahi suami dan walinya. Jika suami dan wali tidak mampu, tanggung jawab itu beralih pada negara.

Oleh karena itu, tidak perlu berbangga dengan pemberdayaan ekonomi perempuan yang menjadi target kesetaraan gender. Inilah cara kapitalisme mengapitalisasi perempuan, serta menghapus fungsi utama mereka sebagai pendidik generasi dan pengurus rumah tangga. Kaum perempuan harus segera menyadari bahaya ini dan menjadikan Islam satu-satunya solusi untuk mengakhiri arus sesat ide kesetaraan gender di setiap negeri.
Wallahua’lam bishawwab

Exit mobile version