Site icon

Potret Buram Dunia Pendidikan, Buah Sistem Sekuler-Liberal

WhatsApp Image 2022-02-15 at 18.04.17

Oleh : Mutiara Aini

Pada dasarnya, orang tua dan guru merupakan pelindung dan penjamin keselamatan bagi anak-anaknya. Namun, apa jadinya jika pihak yang melakukan perlindungan tersebut justru menjadi ancaman terbesar bagi mereka? Tentunya tidak akan ada lagi tempat paling aman bagi mereka.
Belakangan, berita mengenai kasus kekerasan terhadap siswa makin marak. Seperti yang terjadi pada Siswa SMP kelas 8 di salah satu sekolah swasta di Palembang insial H (15) diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum Kepala Sekolah swasta di Palembang.

Awal kejadiannya pada pertengahan bulan November tahun 2021 lalu, di sekolah SMP yang berlokasi di Jl Kadir TKR Kelurahan 36 Ilir. H diketahui memiliki penyakit maag, diduga mengalami kekerasan di bagian pinggang belakang karena diinjak saat melakukan push up.

H bersama teman-temannya yang telat datang ke sekolah diminta untuk melakukan push up sebanyak 100 kali. Karena tidak sanggup, ia pun mendapat tindakan kekerasan tersebut hingga penyakit maag yang ia derita menjadi semakin parah, hingga melukai ususnya, dan kini tengah menjalani perawatan serta segera dioperasi di RSUD Bari Palembang (TribunSumsel.com) Jumat, 11/2/22).

Buah Penerapan Sistem Sekuler-Liberal

Sebagai kepala sekolah ataupun Guru, semestinya menjadi pengayom dan teladan dalam berperilaku. Namun justru malah menganiaya anak didiknya. Kasus seperti ini bukan saja bentuk kriminal atau kejahatan, tetapi telah mencederai profesi guru yang notabene memiliki tugas mulia mendidik generasi.

Mencermati makin maraknya perbuatan kriminal yang mengintai anak-anak, kita harus melihat kasus-kasus tersebut secara cermat dan bijak. Sebab, hal ini bukan sekadar persoalan hukuman bagi pelaku atau nasib korban yang nantinya mengalami trauma berkepanjangan. Bahkan kasus serupa selalu berulang dari tahun ke tahun tanpa ada solusi yang tepat.

Pemerintah melakukan beragam upaya untuk meminimalisasi dan mencegah tindakan tersebut terhadap anak. Namun, sejumlah regulasi rupanya belum cukup menangkal hal ini. Itu artinya, terdapat kesalahan dalam merumuskan akar permasalahan. Sehingga regulasi yang ada gagal menyolusi kasus ini.

Dalam sistem ini sekolah tidak bisa menjadi tempat pendidikan. Karena orientasinya tidak mendidik murid dengan baik, melainkan hanya sekadar tempat mentransfer ilmu. Hal ini merupakan salah satu potret kegagalan sistem pendidikan kapitalis.

Merebaknya kasus penganiyaan terhadap anak, disebabkan karena tidak adanya perlindungan berlapis untuk anak dan disebabkan oleh tereduksinya pemahaman tentang kewajiban negara, masyarakat, dan keluarga. Serta tidak diberlakukannya aturan baku di tengah-tengah masyarakat.

 

Islam Sebagai Solusi

Kegagalan menyolusi berbagai persoalan akibat kesalahan menemukan akar masalah. Maraknya kasus asusila pada anak adalah buah penerapan sistem sekuler liberal. Sistem ini telah mengikis pondasi paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu keimanan serta pemberlakuan syariat Islam.

 

Akibat sekularisme tersebut, kaum muslim kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Islam hanya terbatas pada ibadah ritual semata. Aturan Islam tergantikan dengan hukum sekuler buatan manusia. Aturan inilah yang mendominasi tingkah laku manusia. Padahal, Islam sesungguhnya sudah memiliki solusi yang pas dan sempurna dalam mengatasi berbagai masalah, termasuk tindakan amoral.

Dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Jabir bahwasannya Rasulullah bersabda: “Takutlah engkau semua -hindarkanlah dirimu semua- akan perbuatan menganiaya, sebab menganiaya itu akan merupakan berbagai kegelapan pada hari kiamat.”
Maka, sudah saatnya mengganti sistem rusak ini dengan sistem Islam yang rahmatanlil alamin. Wallahu àlam bisshowwab

Exit mobile version