Site icon

Puncak Ketaatan dan Pengorbanan serta Keyakinan dan Keikhlasan

WhatsApp Image 2025-07-01 at 19.49.02 (1)

Oleh: Qomariah (Muslimah Peduli Generasi)

Ketaatan kepada Allah SWT jelas membutuhkan pengorbanan, semata-mata demi kemuliaan Islam. Seperti Nabi Ibrahim AS  sanggup berhadapan langsung dengan penguasa kufur dan zalim, ia menyampaikan dakwah tauhid secara terbuka dan terang-terangan. Padahal risiko yang ia hadapi amatlah besar.

Namun, ia yakin Allah SWT senantiasa menolong hambanya yang beriman dan senantiasa bersabar. Seperti Nabi Ibrahim AS yang rela berpisah dengan keluarganya, bahkan ia rela mengorbankan putranya di jalan Allah SWT.

Allah SWT berfirman; “sungguh pada mereka itu (Ibrahim AS dan keluarganya) ada teladan yang baik bagi kalian; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari akhir. Siapa saja yang berpaling, sungguh Allah, dialah yang Mahakaya lagi Maha terpuji, (TQS.al-Mumtahanah: 6).

Nabi Ibrahim AS, juga memberikan keteladanan ketaatan pada Allah tanpa keraguan. Ketika Allah SWT memerintahkan dirinya untuk meninggalkan sanak keluarganya, di negeri yang kering dan tandus, maka perintah itu ia laksanakan tanpa kebimbangan.

Akhirnya, istrinya Hajar bertanya,”apakah Allah yang Memerintahkanmu untuk melakukan ini?”Ibrahim AS menjawab,”ya”. Mendengar jawaban itu, Hajar pun berkata,”kalau begitu, dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Puncak ketaatan dan pengorbanan nabi Ibrahim AS. Adalah ketika Allah SWT memerintahkan penyembelihan putra tercintanya, Ismail AS. Namun, dengan keyakinan dan keikhlasan, nabi Ibrahim AS. Dan Ismail AS melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa sedikitpun kebimbangan. Karena itu Allah pun membalas pengorbanan mereka dengan penuh penghargaan.

Allah SWT berfirman; “sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu, sungguh demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (TQS. ash-Shaffat: 105-106).

Ketaatan kepada Allah SWT jelas membutuhkan pengorbanan, semata-mata demi kemuliaan dan kebangkitan Islam. Betapa sering kita membatasi diri dalam amal dan pengorbanan, selalu merasa puas dengan apa yang telah kita lakukan dan enggan berjuang serta berkorban dengan apa yang kita punya, dan apalagi sampai merasakan akan merugikan harta yang di miliki, baik itu kedudukan ataupun keluarga.

Sungguh ironis, kita mengklaim cinta pada agama, tetapi enggan berjuang dan berkorban dengan pengorbanan terbaik dan terbesar untuk kemuliaan agama kita. Ada orang yang mau berjuang dan berkorban untuk ibadah, tetapi enggan berjuang dan berkorban demi tegaknya kehidupan Islam, melalui penegakan hukum-hukum Allah dan syariah-Nya.

Akibat ketiadaan syariat Islam, kehidupan umat merasakan derita luar biasa. Kriminalitas merajalela, premanisme berkuasa, korupsi makin menggila, sumber daya alam dikuasai oleh pihak swasta dan asing secara semena-mena. Bahkan umat saat ini kesulitan walau untuk sekedar mendapatkan jaminan makanan halal saja.

Seperti hari ini, di tengah perayaan Idul Adha yang dirindukan kaum muslimin. Inilah hari di mana langit semesta dan bumi bergemuruh dengan kalimat takbir, sementara di tanah suci jutaan jemaah haji menunaikan ibadah agung dan menggemakan dzikir, doa serta kalimat Talbiyah, berisi pujian keagungan Allah SWT sekaligus rintihan kerinduan akan rahmat dan ampunan-Nya.

Hari Raya Idul Adha adalah hari raya kurban. Inilah salah satu dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman, inilah hari yang agung.

Rasulullah SAW bersabda;”hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari raya Kurban.” (HR.Abu Dawud).

Setiap kali perayaan hari raya Kurban, kita selalu diingatkan dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Namun, yang paling memilukan, di tengah perayaan Idul Adha, Gaza masih terus menderita. Zion*s Yahudi masih terus melakukan genosida terhadap mereka. Melakukan serangan militer dan blokade bantuan pangan, warga Gaza yang tidak wafat karena senjata kaum zion*s, dibiarkan mati perlahan karena kelaparan.

Maka dari itu, umat ini membutuhkan institusi pemerintahan Islam global.Yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, itulah (Khilafah islamiyah) yang sanggup membebaskan umat ini dari segala derita akibat penjajahan bangsa-bangsa lain.

Rasulullah SAW bersabda; “sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai, dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bishawab.

Exit mobile version