Site icon

Quo Vadis Dendang Bergoyang dan Karakter Pemuda Peradaban Cemerlang

WhatsApp Image 2022-11-09 at 14.37.27

Oleh : Pitri Rosada

Konser ‘Berdendang Bergoyang’ yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta Pusat dihentikan pada Sabtu, 29 Oktober 2022 malam karena over kapasitas. Panitia penyelenggara konser pun tengah diperiksa pihak kepolisian. “Saat ini masih diinterogasi, artinya masih dalam penyelidikan. Kami bawa ke Polres Jakarta Pusat,” ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komarudin saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (30/10/2022).

Selain memeriksa panitia penyelenggara, Komarudin juga menyebut pihaknya tengah mendalami indikasi minuman keras (miras) di konser ‘Berdendang Bergoyang’ tersebut.

Quo Vadis, mau dikemanakan karakter generasi pemuda saat ini oleh negara, konser berdendang bergoyang yang tidak membawa manfaat terhadap pembentukan karakter generasi sebagai pilar peradaban cemerlang. Justru mendapatkan izin penyelenggaraan oleh pemerintah. Terlebih, adanya indikasi minuman keras di konser tersebut, menunjukkan pemerintah tidak benar- Benar memperhatikan pembangunan manusia, khususnya generasi muda. Buktinya, justru berbanding terbalik terhadap sikap pelarangan acara hijrah Fest di Surabaya, beberapa waktu yang lalu. Padahal acara yang semisal hijrah Fest yang membawa manfaat bagi pembentukan karakter islami inilah, yang seharusnya mendapatkan izin bahkan apresiasi untuk digencarkan.

Apalagi, pemberhentian acara dendang bergoyang baru akan dilakukan setelah diketahui adanya kekacauan, disebabkan over kapasitas bahwa terdapat 21.000 penonton melebihi kapasitas yang seharusnya hanya bisa menampung 10.000 orang di Istora Senayan. Bukan karena acara tersebut dapat merusak generasi. Seharusnya, pemerintah jika memang memiliki keseriusan dalam membangun dan membentuk karakter generasi yang mulia. Bertindak tegas terhadap mana acara yang membawa kebaikan dan mana acara yang membawa kerusakan. Khususnya rusaknya jiwa, karakter, dan moral mereka.

Perizinan acara yang tidak bermanfaat ini pun, juga menunjukkan bahwa generasi muda hanya dijadikan objek meraih keuntungan. Dengan mengatasnamakan perbaikan ekonomi paska Pandemi. Bagaimana bisa, alih alih mengembalikan ekonomi bangsa. Tapi dengan cara mengorbankan generasinya pada acara-acara yang dapat mematikan karakter jati diri mereka sebagai generasi cemerlang.

Penguasa di sistem kapitalisme ini memang Quo Vadis terhadap generasi, berbeda dengan penguasa dalam Islam yang jelas memiliki perhatian besar terhadap pembentukan generasi. Diantara upaya yang dilakukan penguasa dalam Islam adalah.
1. Menjamin generasi mendapatkan pendidikan dengan cara melakukan pembinaan Islam kaffah. Baik di dunia pendidikan maupun di luar pendidikan.
2. Menghadirkan lingkungan yang kondusif. Dengan pengaturan sistem pergaulan yang sesuai syariat Islam, guna terbentuknya generasi berkualitas yang taat pada Allah. Di samping juga mengarahkan setiap keluarga dan orang tua turut serta memperhatikan serta menciptakan suasana yang penuh religius.
3. Menutup media yang dapat merusak generasi dan melarang acara yang dapat merusak jiwa, karakter, dan akal mereka dari pemikiran liberal dan sekulerisme.
4. Menjamin tersedianya fasilitas dan biaya gratis bagi pendidikan, sehingga mereka dan orang tua fokus pada pembentukan intelektual dan karakter islami mereka dan anak-anak mereka.

Tentunya, konsep yang khas ini hanya bisa di implementasikan. Ketika syariat Islam ditegakkan dalam sistem pemerintahan Islam. ***

 

Exit mobile version