Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah)
Kliksumatera.com,- Belakangan ini, publik di kejutkan oleh gadis berusia 19 tahun asal Demak yang bernama Agesti Ayu Wulandari, lantaran gadis tersebut melaporkan ibu kandungnya ke polisi. Agesti melaporkan Sumiyatun (36), yang tak lain adalah ibu kandungnya, dengan tuduhan penganiayaan. Yang bermula dari masalah sepele (yakni pakaian) yang berujung keributan dan mengakibatkan luka tak di sengaja di pelipis mata anak. Meski kemudian ia mencabut laporannya, tetapi sang ibu berinisial S (36) sempat mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota pada 9 Januari 2021 lalu. Detik.com
Peristiwa semacam ini bukanlah kali pertama dan satu-satunya, pasalnya sebelum-sebelumnya juga telah banyak perseteruan ibu atau orang tua dan anak yang berujung pidana bahkan pembunuhan.
Melansir TRIBUNNEWS.COM. M (40), warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) datang ke Mapolres Lombok Tengah juga hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah tidak terima sang ibu membeli motor tanpa sepengetahuannya. Yang mana uang tersebut dari hasil penjualan warisan senilai 400 juta dan sang ibu mendapat bagian 15 juta. Dan laporan M tersebut pun ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono. Penolakan laporan itu pun viral di media sosial Facebook dan Youtube.
Juga pada tahun lalu Polres Muaro Jambi pun menangkap Fahrur (30) anak yang tega membunuh ibu kandungnya, Ernawati (60) dan menganiaya ayahnya, Sayuti (62) dengan senjata tajam di Desa Penyigat Olak, Kecamatan Jalulo, Kabupaten Muaro Jambi, Jumat (11/12/2020). Dari hasil pemeriksaan, motif pembunuhan itu karena tersangka kesal lantaran tidak diberi uang oleh korban. Tersangka lalu pergi ke dapur dan mengambil pisau lalu menusukkannya ke tubuh ibu dan ayahnya. Inews.id
Miris sungguh miris, melihat fakta-fakta atau peristiwa diatas, bahkan membuat kita bertanya-tanya kenapa moral manusia hari ini sungguh memprihatinkan. Apakah ini akibat sistem sekular liberal yang telah lama bercokol di negeri ini? yang mulai menampakkan kegagalannya sebagai sistem hidup yang juga tidak mampu melahirkan moral anak pada orang tuanya. Justru, interaksi dan hubungan dalam keluarga didasarkan dan diukur pada kepentingan materi. Anak begitu mudah menyakiti bahkan menghilangkan nyawa orang tuanya sendiri hanya karena mereka tak mampu memenuhi permintaannya, bahkan ketika seorang ibu di dorong lantas reflek menarik kerudung anaknya, sehingga mengakibatkan luka tidak di sengaja pun, harus dipenjarakan oleh anak kandungnya, dengan dalih mencari keadilan. Sungguh nilai liberal gagal menghadirkan penghormatan terhadap orang tua, gagal menghasilkan ketenangan, dan keluarga bersinergi, bahkan justru melahirkan generasi yang durhaka.
Ditambah lagi sistem pendidikan ala kapitalisme hari ini. Yang hanya berorientasi untung rugi. Sehingga mendorong setiap generasi bangsa hanya terobsesi pada kecerdasan akademik dan bagaimana mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Namun nihil dalam membentuk moral dan juga karakter mulia. Sehingga orang tua pun di anggap mesin penghasil materi, ketika menguntungkan mereka berarti namun ketika tidak mereka pun di sakiti. Begitu pun dengan orang tua yang hanya menjadikan anak sukses dalam akademik namun lupa menamankan Islam sejak dini. Alhasil kerusakan dalam rumah tangga pun acap kali terjadi. Tentu harus di sadari bahwa ini sebab dan akibat dari ditinggalkannya hukum Allah Swt/syariat islam dalam mengatur kehidupan dan dalam memberi tuntunan terhadap orang tua dalam mendidik dan menjaga anak dan keluarganya. Padahal jelas. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at Tahrim: 6)
Dengan adanya dalil tersebut, maka menjadi tugas orang tua terutama ayah dalam membentengi keluarganya, juga peran kepala negara dalam melindungi warga negaranya sebab pemimpin (khalifah) ibarat perisai.
“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Maka sesungguhnya negara dan pemimpin yang takut kepada Allah lah benteng utama bagi rakyatnya untuk berlindung dari paham sekularisme, liberalisme yang merusak moral umat hari ini.
Dengan menjadikan islam kaffah sebagai aturan kehidupan, mulai dari lingkup keluarga sampe negara, sebab sistem islam (Khilafah) mampu menjadikan setiap orang tua memiliki peran islami untuk membangun keluarga yang bermoral. Metode pendidikan Islam juga mampu menjadikan para generasi muda, cerdas dalam akademik, sains dan teknologi tanpa menggeser moral dan pribadi islami sebagai karakter utamanya. Dan ini hanya mampu diwujudkan dengan kembali kepada islam sepenuhnya.
Wallahu’alam.

