Site icon

Sekulerisme Dalang Maraknya Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Pemuda

WhatsApp Image 2023-10-26 at 21.24.20

Oleh: Putri Sakinatul Kirom

Fenomena bunuh diri menjadi marak di kalangan mahasiswa belakangan ini, terhitung pada Oktober ini saja, sudah ada empat kasus mahasiswa yang diduga melakukan bunuh diri.

Kasus terakhir terjadi pada mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro pada Rabu malam, 11 Oktober 2023. Korban EB yang berusia 24 tahun ditemukan tewas di kamar indekosnya di daerah Tembalang, Semarang.

Sehari sebelumnya, mahasiswi Universitas Negeri Semarang juga ditemukan tewas di area pintu keluar parkir Mall Paragon Semarang. Dugaan sementara kepolisisan bahwa korban NJW bunuh diri dengan jatuh dari lantai empat area parkir.

Dari hasil olah tempat kejadi tersebut polisi menemukan tas milik korban, tanda pengenal, kartu mahasiswa, serta secarik surat yang berisi permohonan maaf kepada keluarganya (dikutip dari tekno.tempo.co 14/10/2023).

Menurut World Health Organization (WHO), per 28 Agustus lebih dari 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya, mirisnya lagi bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi keempat pada usia 18-29 tahun (unpad.ac.id).

Dua kasus di atas bukanlah hal yang baru. Pasalnya sebelumnya telah banyak kasus bunuh diri ditemukan di sejumlah perguruan tinggi. Motifnya pun beragam, mulai masalah tekanan hidup, keluarga, akademik, percintaan, dan lainnya. Mereka depresi hingga tak sanggup menjalani kehidupan yang terasa amat berat menurut mereka.

Apa Penyebabnya?

Banyak faktor penyebab seseorang itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pertama, rapuhnya mental pada generasi saat ini.

Laporan Indonesia Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan 1 dari 3 remaja Indonesia berusia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental.

Tergolong muda memang, namun sayangnya dari usia tersebut kebanyakan kasus tidak terdeteksi sejak dini. Alhasil, permasalahan mental terbawa saat mereka menjadi mahasiswa atau bekerja. Ini juga penyebab mengapa generasi saat ini bermental lembek bahkan mudah rapuh ketika dihadapi masalah, tidak heran mereka kerap dijuluki generasi stroberi.

Kedua, persoalan gaya hidup yang materialistis. Mahasiswa atau pemuda saat ini memiliki gaya hidup serba hedon dan materialistis membuat mereka juga terjerat kasus pinjol, belum lagi mereka dibebankan dengan biaya kuliah dan biaya hidup yang mahal menuntut mereka untuk menyelesaikan studi.

Di sisi lain mereka harus bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup mereka, kemudian tuntutan percintaan, masalah keluarga, pertemanan, dll.

Ketiga, kurikulum perguruan tinggi saat ini fokus pada akademik yang menuntut mahasiswa cakap dalam bekerja. SKS yang begitu padat belum lagi ditambah tugas-tugas kuliah yang menumpuk, menyebabkan mahasiswa stres. Tidak heran kalau ada mahasiswa yang bunuh diri akibat stres skripsi dan stres akan bayang-banyang kehidupan setelah wisuda.

Sekulerisme, Materialistis dan Liberalistis Dalang di Balik Fenomena Bunuh Diri

Jika kita telisik penyebab bunuh diri sejatinya berpangkal dari cara pandang Barat yang meracuni di benak pemuda, yakni sekulerisme.

Cara pandang ini menjangkiti kawula muda hingga mereka lupa jati dirinya. Sedari lahir hingga jenjang pendidikan tinggi, nilai-nilai kehidupan yang sekuler terus ditanamkan pada mereka.

Begitu pula ketika memasuki jenjang pendidikan, kurikulum yang diterapkan sekuler yang tidak menghadirkan agama sebagai mata pelajaran pokok. Pelajaran agama hanya sampingan yang tak menjadi perioritas.

Alhasil, generasi yang dihasikan tak dapat membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Kehidupan masyarakat materialistik yaitu cara pandang yang membuat masyarakat terus fokus pada perolehan materi semata.

Bagi masyarakat sekuler, materi dianggap sumber kebahagiaan. Walhasil, mereka berlomba-lomba mencari materi sebanyak-banyaknya demi mengejar kebahagiaan yang semu.

Kehidupan yang jauh dari agama akan menghantarkan siapa pun untuk melakukan hal semaunya. Tak pandang halal atau haram semua dilakukan demi mencapai tujuan duniawi.

Maka tak heran, kehidupan liberalistis jadi patokan. Maraknya bunuh diri tak bisa dipisahkan dari peran media sosial. Dari tontonan yang ada menjadi contoh pelaku melakukan aksi. Inilah kehidupan sekuler yang melahirkan masyarakat yang materialistis, liberalistis, dan sekuler. Hasilnya hidup menjadi kacau dan keluar dari fitrahnya.

Solusi Hakiki

Solusi dari semua permasalahan termasuk bunuh diri hakikinya hanya ada dalam Sistem Kehidupan Islam.

Untuk itu sedari dini harusnya mereka sudah diajarkan san dipahamkan tentang hakikat tujuan penciptaan manusia yakni beribadah kepada Allah SWT.

Dalam menjalani kehidupan, seseorang akan senantiasa mengikuri perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebesar apapun masalah yang dihadapi bunuh diri bagi mereka bukanlah solusi.

Bagi seorang muslim paham bahwa bunuh diri itu haram. Mereka senantiasa hadirkan Allah di semua aktivitasnya.

Selain keimanan yang menjadi kunci pertahanan diri yang kuat. Negara dalam Sistem Islam akan menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Hal ini akan menghilangkan tekanan stes pada mahasiswa karena biaya hidup.

Selain itu Negara akan melindungi rakyatnya dari pemikiran asing yang rusak dan merusak. Konten-konten tak bermutu yang dapat menyebabkan kekacauan manusia akan disaring dan dibasmi oleh Negara.

Islam juga akan menciptakan lingkup keluarga hingga sekolah yang kondusif menjaga kesehatan mental serta terus menanamkan akidah Islam agar hidup mereka sesuai dengan fitrahnya.

Juga kurikulum pendidikan yang digunakan dalam sistem Islam akan membuat para pelajar menikmati ilmu dan bukan untuk materi, melainkan untuk kontribusi terbaik bagi umat.

Wallahua’lam Bishawab.

Exit mobile version