Site icon

Selalu Gagap Saat Tanggap Darurat

WhatsApp Image 2022-12-06 at 18.07.21

Oleh: Lindawati

Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam. Ini secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, lempeng benua Australia, lempeng samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari pulau Sumatera, Jawa, Nusa tenggara, Sulawesi, dan sisinya pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika serikat (Arnold, 1986).

Gempa bumi yang di sebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Bencana yang melanda negeri tercinta ini, kita ambil sikap empati dan aksi spontan untuk menolong saudara-saudara kita, serta mendorong pemerintah untuk melakukan reaksi cepat mengatasi dampak bencana tersebut.

Namun pada kenyataan, lain halnya yang terjadi, bersamaan dengan musibah ini pemerintah malah mengadakan acara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aksi tanggap darurat bencana. TEMPO.CO, Jakarta – Beragam cerita seperti puas, kecewa, dan bingung, datang dari acara pertemuan akbar relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tergabung dalam Gerakan Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Sabtu, 26 November 2022.

Seperti halnya Sumitri, relawan yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Dia mengungkapkan bersama rombongan pengajian sudah mulai berangkat dari bakda isya dan sampai di lokasi sekitar pukul 03.30 WIB. Mengaku ingin bersilaturahmi dengan Jokowi, dia berangkat dengan bus yang sudah disewakan oleh pihak panitia. “Ya ada senangnya, ada enggaknya. Tadi katanya mau shalawat qubro tapi ternyata ini enggak, beda (dari agenda). Saya kecewanya di situ sih,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan Wipa. Anggota rombongan yang berasal dari Garut, Jawa Barat, ini mengira dalam acara tersebut akan ada Habib Luthfi bin Yahya, kiai Nahdlatul Ulama yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dia mengaku bersama rombongan berangkat pukul 24.00 WIB dan sampai di lokasi pukul 05.00 WIB.

“Rencana ke sini enggak tahu. Diajak doang oleh temen. Disediain bus main ke Jakarta. Cuma enggak tahu mau ngapain. Karena lagi libur kerja, diajak main ya udah (ikut). Awalnya (dibilang) ada silaturahmi Nusantara. Cuma enggak tahu kalau ada Pak Jokowi,” ujar dia.

Silaturahmi nasional dengan tema “Nusantara Bersatu” digelar oleh gabungan Relawan Jokowi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Rombongan warga dari berbagai latar belakang dan daerah memadati area GBK, mulai dari kelompok ibu-ibu, anak muda hingga para santri. Dalam acara tersebut Presiden Jokowi memaparkan sejumlah pencapaiannya selama memerintah, terutama di bidang infrastruktur.

Jokowi pada kesempatan itu juga menjabarkan sejumlah catatan yang dia anggap penting untuk dicermati oleh relawan terkait sosok dan kriteria calon presiden 2024.

Sebagai negeri muslim, Indonesia kaya akan kekayaan alamnya, tapi juga banyak akan berbagai musibah dan konflik. Sudah berapa musibah besar terjadi di negeri ini?.

Bukan hanya yang menimpa fisik, musibah akidah dan akhlak juga semakin merajalela. Paham sesat liberalisme dan sekulerisme yang dikemas apik dan menawan semakin mendapat tempat. Sebaliknya gerakkan dakwah untuk tegaknya hukum Allah di bumi Indonesia, di musuhi dan dicitrakan sebagai paham ekstrimis.

Pengabaian Syariah Islam Jika aturan yang di terapkan tidak didasarkan pada iman dan untuk mewujudkan ketakwaan, maka masyarakat pun akan tidak shalih. Apalagi kalau aturan melegalkan kemungkaran dan melindunginya, maka negeri ini akan rusak.
Sehingga musibah dan bencana akan turun karenanya.

Di riwayatkan dari Ibnu Umar Ra, ia berkata : Rasullah SAW pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda : “Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya : Tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabuk, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada pada generasi sebelumnya.

Tidak lah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan di siksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidak lah mereka menahan membayar zakat kecuali hujan dari langit akan di tahan dari mereka. Dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan di beri hujan.

Tidak lah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasulnya, kecuali akan Allah jadikan musuh mereka (dari kalangan kuffar) menguasai mereka, lalu ia merampas sebagian kekayaan yang mereka miliki. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) berhukum dengan selain kitabullah dan menyeleksi apa-apa yang Allah turunkan (syariat Islam), kecuali Allah timpakan permusuhan di antara mereka (HR.Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pemimpin yang tidak menerapkan syariat akan menyebabkan perbuatan- perbuatan keji akan tersebar dan terang-terangan di tengah-tengah manusia.Kita juga perlu mengambil hikmah dengan lebih taqarrub kepada Allah SWT, saling introspeksi diri, saling bantu satu dengan yang lain, saling mengingatkan satu sama lain untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai umat Islam agar selalu berpegang teguh kepada tali agama Allah SWT.

Lebih dari itu, harus selalu di sadari, ketakwaan adalah sumber keberkahan, sebaliknya, kemaksiatan adalah sumber bencana, yaitu adalah pengabaian syariah Islam. Semua kemaksiatan itu akan menjadi faktor penyebab berbagai bencana yang menimpa umat secara keseluruhan tidak hanya menimpa pelaku kemaksiatan saja (Q.s al-anfal:(8):25).

Maka dari itu, berbagai bencana yang datang silih berganti sejatinya mendorong para penguasa dan rakyat negeri ini untuk segera mencampakkan berbagai kemaksiatan mereka kepada Allah SWT, lalu bersegera menerapkan syariah-Nya secara kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Itulah bukti sejati ketakwaan mereka dan itu lah jalan keberkahan hidup mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ( TQS. Al-A’raf (7): 96).

Wallahu ‘alam bishawab.

Exit mobile version