Site icon

Setengah Juta Generasi Putus Kuliah Saat Pandemi, Dimana Peran Negara?

WhatsApp Image 2021-09-07 at 00.42.09

Oleh: Salsabila Zachra (Aktivis Muslimah)

Pandemi menyisakan kesengsaraan rakyat terutama bagi generasi-generasi putus kuliah. Setengah juta mahasiswa putus kuliah dikarenakan faktor ekonomi dan sosial.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mengalami pertumbuhan negatif ini merupakan puncak dari semua kelesuan ekonomi karena hampir seluruh sektor usaha di tutup untuk penyebaran SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Faktor yang terdampak Corona yang selanjutnya adalah faktor sosial. Lockdown jelas akan menghalangi dan mengurangi aktivitas sosial masyarakat. Mereka akan dilarang berkerumun dan menghadiri acara-acara termasuk beribadah.

Contohnya adalah ketika sejumlah mahasiswa mengantre menggunakan kendaraannya saat wisuda drive thru dilobi rektorat yang dilakukan di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, wisuda Drive Thru ini berlangsung selama tiga hari dengan dibagi dua sesi yang diikuti sebanyak 808 wisudawan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Lembaga Beasiswa Baznas Sri Nurhidayah dalam peluncuran Zakat untuk Pendidikan di Jakarta secara virtual Senin (16/8). Mengutip data dari Kemendikbudristek, Sri mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. (jawapos.com, 16/08/2021).

Pada masa Pandemi COVID-19, beberapa mahasiswa menghadapi ancaman putus kuliah karena status ekonomi keluarga mereka menurun. Akibatnya, banyak mahasiswa menghadapi ancaman tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau biaya kuliah lainnya.

Menurut survei yang dilakukan oleh BEM Universitas Indonesia, 72% dari 3.321 mahasiswa mengaku kesulitan membayar biaya kuliah. Prihatin dengan masa depan mahasiswa, Ternak Uang bersama Najwa Shihab dan Kita bisa secara aktif meluncurkan program donasi untuk membantu mahasiswa melanjutkan studi. (jabodetabek.com, 20/08/2021).

Setengah juta mahasiswa putus kuliah karena faktor ekonomi dan sosial. Sehingga kebijakan penanganan pandemi tidak cukup untuk mencakup pembebasan biaya sekolah/kuliah. Dan negara akan mendapat ancaman kehilangan potensi intelektual generasinya di depan mata.

Untuk mengatasi generasi yang putus kuliah akibat pandemi tidak lain hannyalah menegakkan negara khilafah. Yang dimana kebijakan Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif.

Khilafah tak akan pernah kehabisan dana untuk membiayai pendidikan, pangan, dan kesehatan. Karena semua pembiayaan diambil dari Baitul maal yang sumbernya beragam.

Karena khalifah memahami bahwa ia adalah pengurus dan bertanggung jawab atas rakyatnya sebagaimana sabda Rasulullah Saw. “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad, Bukhari).

Dengan penerapan syariat Islam secara totalitas maka dunia akan keluar dari berbagai permasalahan yang ada akibat penerapan sistem kapitalisme. Ditambah lagi dengan krisis yang diakibatkan pandemi, generasi terancam suram masa depannya.

Khilafahlah satu-satunya harapan untuk masa depan generasi yang gemilang. Sudah seharusnya diperjuangkan dan menjadi kebutuhan mendesak bagi dunia dan seluruh manusia.

Wallahualam Bissawab.

Exit mobile version