Site icon

Solusi Islam Mengentaskan Krisis Air Bersih

WhatsApp Image 2023-09-10 at 23.26.54(1)

Oleh: Riska Umma Hamzah

Musim kemarau mulai mendekati sebagian wilayah Indonesia. Dampak kemarau dapat diprediksi akan menyebabkan kekeringan yang menyebabkan pasokan air di sejumlah daerah semakin menipis bahkan krisis. Kondisi tersebut bukanlah kabar baik, sebab air adalah salah satu kebutuhan mendasar yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat baik di kota maupun di desa.

Seperti halnya warga di Kota Lubuklinggau mulai krisis air bersih, sumur kering dan sudah hampir sebulan terakhir tak turun hujan. Sumur sebagai sumber air mulai menyusut volume airnya. Bahkan saat ini ada sebagian sumur milik warga sudah banyak yang kering tak berisi air, akibatnya warga kesulitan memenuhi air bersih.

Andre warga Kelurahan Batu Urip mengatakan sudah seminggu terakhir air sumur di rumahnya terus menyusut, tak bisa ditarik lagi dengan mesin pompa air. “Sekarang airnya sudah tak bisa lagi ditarik pakai mesin pompa. Karena terus susut dan mulai kering,” ungkap Andre pada wartawan, Rabu (23/8/2023), (TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU).

Hal di atas adalah sedikit gambaran dari banyaknya permasalahan tentang krisis air bersih yang dialami oleh bangsa kita ini, dari sekian banyaknya masalah, tidak ada satupun yang bisa diselesaikan secara tuntas. Malah semakin hari semakin menumpuk dan bertambah permasalahan, dan entah kapan masalah ini akan terselesaikan.

Tentu saja masalah ini tak akan pernah selesai jika kita masih menganut sistem ekonomi kapitalis, air bersih yang seharusnya kita konsumsi secara gratis tapi malah di perjual belikan. Penanganan dari pemerintah pun tidak maksimal terkait penyaluran air secara merata kepada seluruh daerah yang mengalami krisis air bersih ini.

Sebab krisis air ini selain karena perubahan iklim global, ada beberapa faktor bencana yang menyebabkan kekeringan melanda Indonesia. Pertama, kebijakan liberalisasi sumber daya air. Liberalisasi dari hilir menjadikan perusahaan swasta semakin leluasa mencengkeram sumber daya air untuk dieksploitasi. Hal tersebut tampak menjamurnya perusahaan swasta yang menguasai dan mengelola air dalam bentuk kemasan.

Kedua, minimalkan daerah resapan. Tumbuh suburnya peralihan fungsi terbuka hijau menjadi bangunan baik gedung-gedung maupun rumah tinggal mempengaruhi kondisi tanah sebagai tempat cadangan air. Maka, ketika turun hujan yang seharusnya tanah mampu menyerap air secara maksimal, namun disebabkan tanah tersebut tertutup beton. Pada tempatnya, air tidak bisa diserap tanah. Hal itu yang menyebabkan cadangan air sedikit dan kekeringan pun tak bisa dihindari.

Ketiga, kerusakan hidrologis. Kerusakan fungsi wilayah di hulu sungai seperti pada saluran irigasi dan waduknya banyak berisi sedimen yang menyebabkan daya tampung dan kapasitas air berkurang sehingga pada musim kemarau tiba-tiba memicu kekeringan.

Keempat, langkanya hutan lewat kebijakan kapitalistik. Banyak hutan yang mengalami alih fungsi dengan dibangunnya infrastruktur, dibukanya investasi secara besar-besaran, dan penambangan barang tambang. Padahal, hutan adalah salah satu bagian yang berfungsi mengurangi dampak pemanasan global.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem Islam. Dalam hal pemenuhan air bersih yang sangat urgen bagi rakyat, negara Islam akan berupaya memenuhinya. Baik melalui mekanisme pengelolaan lahan dan pemakaian teknologi pendukung. Karena, Islam memandang pemenuhan hak dasar rakyat adalah kewajiban negara.

Apalagi air adalah kebutuhan yang sangat vital bagi manusia. Maka, baik pemeliharaannya dan pemenuhan bagi rakyat maka sudah pasti wajib dipenuhi. Tidak akan diberikan pengelolaan sumber-sumber air kepada pihak swasta. Karena, sejatinya itu adalah harta kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai oleh perorangan atau kelompok.

Rasulullah SAW bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput (hutan), dan api (energi).” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Islam akan sangat mendukung pemakaian teknologi demi menunjang kemaslahatan umat. Pembangunan yang lebih diutamakan juga dengan mempertimbangkan kemaslahatan umat, bukan kepentingan dari segelintir orang. Infrastruktur yang dibangun adalah kebutuhan dan kepentingan bagi rakyat. Waallahu’alam Bi Shawab.

Exit mobile version