Oleh: Putri Sakinatul Kirom (Mahasiswi)
Genosida yang dilakukan Israel atas warga Palestina menimbulkan reaksi kemarahan bagi masyarakat seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia sendiri.
Kecaman demi kecaman, hingga aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat demi bisa membela saudaranya di Palestina.
Berbagai upaya yang dilakukan masyarakat demi bisa menyuarakan kebenaran dan dukungan terhadap warga Palestina. Yakni gerakkan seruan aksi boikot untuk tidak membeli produk-produk dari perusahaan yang diduga berafiliasi terhadap Israel.
Hal ini menyusul adanya informasi terkait salah satu merk makanan terkenal yang diduga berafiliasi atau menyokong Israel dalam membantai warga Palestina.
Alhasil sejumlah produk barang dan jasa yang dinilai mendukung kubu Israel menjadi sasaran boikot dan ditinggal para konsumennya.
Bahkan imbas dari pemboikotan ini ada salah satu produk yang rela melakukan promo besar besaran demi menarik konsumtif dari para pembeli.
Di sisi lain masyarakat yang ikut melakukan aksi boikot memandang, itulah tindakan nyata dalam usaha menghentikan serangan Israel ke Gaza. Mereka percaya boikot dapat memutus atau setidaknya menghambat pendapatan perusahaan-perusahaan itu dan berimbas pada sokongan dana terhadap Israel (dikutip www.kompas.id 7/11/2023).
Tindakan boikot yang dilakukan masyarakat untuk membela saudara Muslim di Palestina memang perlu diapresiasi.
Hal ini menyusul banyaknya gelombang penolakan atas kezaliman yang dilakukan kafir harbi dalam hal ini Zionis Yahudi Laknatullah.
Namun apakah tindakan memboikot produk-produk yang disinyalir pro-Israel berdampak signifikan untuk pembebasan penduduk Palestina dari tindak kezaliman mereka.
Boikot yang bertujuan untuk menjatuhkan prekonomian zionis Yahudi ini faktanya didukung oleh negara-negara Barat, Amerika dan Eropa.
Sangat banyak produk-produk Yahudi yang saat ini dipakai dan dikonsumsi terutama oleh negeri-negeri Muslim. Contohnya saja Google, Facebook, Handphone yang ada di genggaman kita pun buatan Yahudi, dan masih banyak lagi.
Kalaupun negeri-negeri Muslim yang lain ikut memboikot produk-produk mereka maka hal ini tidak akan berdampak signifikan dan menyolusi untuk dapat menghentikan penjajahan yang dilakukan Yahudi terhadap saudara kita di Palestina.
Bahkan jalur politik yang ditempuh saat ini pun belum mampu menuntaskan dan nampak tidak menyolusi dalam menyelesaikan persoalan yang ada di Palestina dan Israel. contohnya PBB yang sudah mengeluarkan 45 resolusi tapi tidak pernah digubris oleh Israel.
Adapun solusi lain yang ditawarkan yaitu solusi dua negara. Bagaimana bisa solusi dua negara menjadi solusi masalah ini. Akan menyakitkan bagi yang terjajah, yakni Palestina. Sedangkan Israel mendapatkan hasil caplokan tanah milik kaum Muslim dengan penjajahan dan ini di legalkan.
Padahal tanah Al-Aqsa itu merupakan tanah kharajiyah, yakni tanah yang ditaklukan oleh kaum muslimin melalui peperangan. Solusi ini jelas batil. Para penguasa negeri Islampun akan berdosa ketika membiarkan umat Islam di Palestina berperang sendirian menghadapi Zionis Yahudi. Seolah-olah mereka tidak pernah membaca firman Allah SWT: “Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (TQS. Al-Baqarah:191).
Betapa solusi yang ditawarkan PBB ataupun negera-negara di dunia tidak akan pernah bisa memberikan jalan keluar yang hakiki.
Harusnya jika ingin memboikot produk negara negara israel dan barat, maka kaum muslim juga wajib memboikot hadarah atau pemikiran dan ide ide kufur yang sudah bercokol di hati kaum muslim, seperti produk akal manusia yakni kapitalis, liberal dan sekulerisme, kemudian menggantikannya dengan pemikiran islam yang kaffah.
Dimana Islam dengan perangkat aturannya yang sistematis inilah yang menjadi solusi tuntas mengatasi masalah ini, Islam yang dibingkai dalam naungan khilafah islamiyah akan menyerukan jihad.
Karena dengan jihad Palestina akan bisa dibebaskan, Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang akan menjadi perisai untuk rakyatnya dari berbagai bentuk kedzoliman yang ada.
Khalifah akan menggerakkan tentara-tentara Muslim untuk mengusir penjajah Zionis Yahudi Laknatullah dari tanah Palestina.
Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda: “[Imam/Khalifah itu tak lain] laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” [Hr. Bukhari dan Muslim] .
Khilafah juga laksana perisai yang akan melindungi umat sehingga masyarakat akan merasa aman dan nyaman, bukan hanya Muslim tapi juga non Muslim.
Wallahua’lam Bishawab.

