Site icon

Stabilkan Harga Minyak Goreng dengan Khilafah

WhatsApp Image 2022-04-07 at 16.26.12

Oleh : Ummu Umar

Kelangkaan minyak goreng di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) masih terus terjadi. Sebuah video membeludaknya warga yang mengantre demi mendapaykan minyak goreng murah di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, viral di media sosial.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Harissandi mengatakan, operasi pasar minyak goreng direspons warga dengan antusias, sehingga kerumunan tak terhindarkan.

Masyarakat terlalu antusias atas operasi pasar minyak murah yang digelar Disperindag. Kita sudah atur, berkoordinasi dengan Disperindag agar antreannya kondusif,” ujar AKBP Harissandi ketika dikonfirmasi, Kamis (10/3/2022).

Dalam video viral tersebut, tampak ribuan warga berdesakan memenuhi antrean warga dalam operasi pasar di kawasan Gedung Olahraga (GOR) Lubuklinggau, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Lubuklinggau.

Sementara itu, Endang (49), seorang warga yang ikut mengantre mengatakan, operasi pasar tersebut digelar secara serentak di beberapa wilayah di Lubuklinggau. Hal itu dia ketahui berdasarkan surat edaran Disperindag Lubuklinggau. News.id

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) mulai menjual minyak goreng kemasan dengan harga di atas Rp 23 ribu per liter pada Kamis (17/3). “Nanti pengiriman baru udah baru harganya. Perkiraannya di atas Rp23 ribu (per liter) lah ya. Kalau saya lihat ya. Karena modalnya sudah Rp21 ribu plus pajak dan sebagainya,” ungkap Corporate Affairs Director Sumber Alfaria Trijaya Solihin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/3).

Ia mengatakan harga baru akan berlaku saat pengiriman pasokan minyak goreng baru sudah sampai di toko-toko. Berdasarkan pantauannya, minyak goreng dengan harga Rp14 ribu rata-rata sudah habis terjual.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menilai penghapusan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan membuat harganya dapat menyentuh level Rp25 ribu per liter.

Lebih rinci, ia memprediksi harga minyak kemasan premium dapat menyentuh level Rp 24.800 hingga Rp 25 ribu per liter. Sementara, untuk kemasan sederhana Rp 22.900 hingga Rp 23 ribu per liter.

Sebagai catatan, sebelumnya HET untuk minyak goreng kemasan sederhana adalah Rp 13.500 per liter. Sementara, untuk kemasan premium Rp 14 ribu per liter.

Namun, kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan harga minyak goreng kemasan akan mengikuti keekonomiannya dengan mempertimbangkan kondisi global.

Minyak goreng banyak digunakan untuk campuran bahan makanan seperti dalam pembuatan mie instan, roti, kosmetik dan sebagainya. Maka banyak perusahaan makanan atau usaha kecil membutuhkan minyak goreng termasuk setiap rumah tangga.

Namun persoalannya sekarang adalah harganya menjadi mahal setelah sebelumnya terjadi kelangkaan minyak goreng. Mengapa hal ini justru terjadi di Indonesia yang merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia?

Kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai energi alternatif yang tidak menghasilkan karbon dioksida, sehingga kelapa sawit diperebutkan oleh dunia. Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia didorong untuk memperluas perkebunan kelapa sawit yang dapat menyebabkan kerusakan ekologi seperti bencana banjir.

Indonesia juga telah berkomitmen untuk meninggalkan energi fosil dan beralih menggunakan energi baru terbarukan dengan mendorong produksi biodiesel. Bahkan presiden Jokowi mentargetkan akan memproduksi dan menyalurkan 9,2 juta kiloliter dalam peresmian pabrik biodiesel milik PT Jhonlin Agro Raya di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan pada bulan Oktober tahun 2021. Indonesia yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler demokrasi sebagai aturan hidup berbangsa dan bernegara kehilangan kewibawaannya ketika menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 14.000 minyak goreng justru tidak ditaati oleh pengusaha dan pedagang. Justru minyak goreng menghilang dari peredaran. Kemudian setelah pemerintah mencabut aturan HET Rp 14.000, minyak goreng berlimpah dengan harga dua kali lipat sebelum terjadi kenaikan.

Jika harga minyak goreng tinggi, pasti akan berdampak kepada harga makanan, penjual gorengan pasti akan menaikkan harga gorengannya. Inilah beban yang diberikan oleh negara kapitalis terhadap rakyat yaitu kesengsaraan apalagi terhadap rumah tangga, sebelum harga minyak goreng naik saja, sudah banyak pedagang yang gulung tikar, apalagi jika harga minyak naik seratus persen.

Sesungguhnya Islam telah memberikan aturan tentang bagaimana cara mengelola sumber daya alam yang merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Rasulullah SAW bersabdah : Manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, api (energi) dan Padang rumput (hutan).
Minyak goreng termasuk dalam kategori api (energi) yang dibutuhkan setiap orang untuk memasak, maka jika harganya mahal pasti akan berdampak terhadap kelangsungan hidup manusia.

Oleh karena itu peran negara sangatlah penting dalam mengendalikan harga minyak goreng dan mendistribusikannya Kepada masyarakat. Negara juga wajib memberikan hukuman yang tegas kepada para penimbun minyak goreng. Tidak boleh terjadi kelangkaan minyak goreng di pasar.

Untuk menerapkan aturan tersebut dibutuhkan negara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yaitu negara Khilafah Islam. Insyaallah umat akan merasakan ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Jauh dari intervensi asing, kuat, mandiri dan terdepan.
Wallahu alam bishawab.

Exit mobile version