Site icon

Tarif PDAM Naik, Negara Abai Nasib Rakyat?

WhatsApp Image 2023-02-06 at 04.13.29

Oleh : Ummu Anggun

Para perempuan dari berbagai kalangan yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Indramayu menolak rencana kenaikan tarif air bersih Perumdam Tirta Darma Ayu Kabupaten Indramayu. Penolakan itu disampaikan kepada para wakil rakyat, dalam audensi di gedung DPRD Indramayu, Jumat (27/1/2023).

Mereka diterima langsung oleh Ketua DPRD Indramayu, Syaefudin dan sejumlah ketua serta anggota komisi DPRD. Salah seorang perempuan asal Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Lili Marlina (34 tahun), mengatakan, rencana kenaikan tarif PDAM sebesar 30 persen sangat memberatkan.

KPI Indramayu menolak rencana kenaikan tarif PDAM. Hal itu disampaikan dalam audiensi dengan DPRD Indramayu, Jumat (27/1/2023).

Apalagi, perempuan yang sehari-hari berjualan rumbah (pecel) itu baru akan bangkit setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19. “Sebagai pedagang, kami baru mulai bangkit. Dagang belum kembali ramai seperti dulu. Tapi sekarang malah dihadapkan pada rencana kenaikan tarif PDAM,” keluh Lili.

Lili mengungkapkan, dengan kondisi dagangannya yang masih sepi, dirinya bahkan tidak mampu membayar tagihan PDAM sebesar Rp 48 ribu pada bulan lalu. Jika tarif PDAM bulan depan naik menjadi 30 persen, maka hal itu dipastikan akan semakin menambah berat bebannya.

Lili menyatakan, sebagai pedagang rumbah, air menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk mencuci sayuran yang akan dimasaknya. Untuk itu, dia berharap, tarif PDAM tidak naik.

Hal senada diungkapkan perempuan asal Desa Totoran, Kecamatan Pasekan, Utik. Tak hanya memberatkan masyarakat, kenaikan tarif PDAM juga tidak sebanding dengan pelayanannya yang selama ini masih kurang maksimal. “Saya sangat keberatan tarif PDAM naik, apalagi air suka nggak ngocor. Bahkan, kemarin dua hari air total gak keluar sama sekali. Untung ada air hujan,” cetus Utik.

Hal senada diungkapkan Waskeni, perempuan dari Desa Gelarmendala, Kecamatan Balongan. Dia mengatakan, selama ini, setiap Bakda Magrib dan jelang Subuh, air ledeng hanya keluar sedikit. “Air keluarnya ngicir. Jadi repot,” kata Waskeni.

Sekretaris KPI Cabang Kabupaten Indramayu, Dina Meliyanih, mengatakan, kondisi perekonomian masyarakat di Kabupaten Indrmaayu saat ini belum sepenuhnya bangkit usai dihantam pandemi Covid-19. Karena itu, rencana kenaikan tarif PDAM sebesar 30 persen akan semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat Indramayu.

“Kami menolak kenaikan tarif PDAM. Apalagi yang paling mengalami dampak langsung dari kenaikan tarif itu adalah perempuan,” tegas dia.

Dina mengungkapkan, pihaknya pun menyoroti alasan yang disampaikan PDAM dibalik rencana kenaikan tarif air ledeng. Dalam sosialisasi yang pernah dilakukan sebelumnya, PDAM berdalih tarif rata-rata yang berlaku saat ini belum dapat menutup biaya secara penuh (full cost recovery) dan dikarenakan tarif yang berlaku masih di bawah dari tarif batas bawah yang ditetapkan oleh Gubernur Jawa Barat.

“Dengan melihat persoalan di atas, seharusnya tarif menyesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat, dan bukan malah masyarakat yang harus menyesuaikan dengan kondisi PDAM,” tegas Dina.

Dina menambahkan, seharusnya Dewan Pengawas PDAM Indramayu pun melakukan audit terlebih dulu untuk mengecek persoalan tersebut. Dengan demikian, tidak membebankan persoalan itu kepada pelanggan PDAM.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Indramayu, Imron Rosadi, mengatakan, pihaknya telah memanggil jajaran direksi Perumdam Tirta Darma Ayu dan Pemkab Indramayu pada Kamis (27/1/2023). Dalam pertemuan itu, pihaknya meminta kepada Perumdam Tirta Darma Ayu agar mengkaji ulang rencana kenaikan tarif air ledeng untuk golongan rumah tangga. “Kami juga meminta agar Perumdam Tirta Darma Ayu untuk memperbaiki layanan secara optimal kepada pelanggan,” ucap Imron.

Menanggapi pernyataan wakil rakyat itu, pengurus KPI Cabang Indramayu, Indah Trianasari, menyatakan, akan terus mengawal sampai tuntutan agar kenaikan tarif bagi rumah tangga dan klaster tiga dibatalkan, bisa terwujud

Lagi lagi rakyat harus menelan pil pahit melihat fakta kenaikan harga bahan pangan yang semakin melambung tinggi di ikuti dengan naiknya kebutuhan dasar lainnya salah satunya air bersih, di negeri sekuler kapitalis ini air menjadi bahan kebutuhan pokok yang sangat mahal, ini menjadi bukti bahwa air yang seharusnya menjadi harta milik umum kini di kuasai oleh pihak swasta dan menjadi pemasukan untuk negara dengan menjualnya kepada rakyat.dan memang menjadi watak dari para kapitalis untuk bisa mengeruk keuntungan sebanyak mungkin tanpa memikirkan nasib orang lain.

Air merupakan kebutuhan utama dalam hidup, tanpa air seluruh kehidupan di muka bumi ini akan mati, tapi kini kehidupan rakyat akan semakin menderita mengingat pemenuhan kebutuhan akan air bersih yang semakin sulit dan mahal, juga sangat di sayangkan terjadi kenaikan tarif PDAM tapi tidak di ikuti dengan turut serta naiknya pelayanan dan kualitas air yang baik dan bersih,bahkan banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi air, mulai dari air yang tidak mengalir setiap hari hingga air yang mengalir tapi keruh dan kotor ,serta air yang bening tapi di sertai aroma penjernih air yang menyengat sehingga untuk memenuhi kebutuhan air minum rakyat harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli air siap minum .hal ini menunjukkan bukti gagalnya negara dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya .

Dalam Islam, pemenuhan kebutuhan rakyat salah satunya air bersih di jamin oleh negara. Karena negara adalah pelindung umat dan pengurus umat, SDA akan di kelola dengan baik oleh negara dan akan dikembalikan lagi untuk pemenuhan hajat hidup rakyatnya tanpa harus membayar. Rakyat akan bebas menikmati air bersih dan pelayanan umum lainnya termasuk pendidikan dan kesehatan secara gratis. Di kutip dari sabda Rasulullah SAW bahwa “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : Air, Rumput dan Api (HR. Ibnu Majah). Oleh karena itu di dalam Islam tidak memperbolehkan air yang merupakan harta kepemilikan umum di kuasai oleh swasta maupun perusahaan asing, haram hukumnya menjadikan air sebagai komoditi yang diperjualbelikan untuk mencari keuntungan semata.

Terbukti di negeri negeri Islam pada masa Rasulullah SAW rakyat hidup sejahtera di bawah naungan khilafah yang menjamin terpenuhinya setiap kebutuhan pokok rakyatnya tanpa menimbulkan penderitaan sedikitpun bagi rakyat. Negara hadir sebagai pengurus dan pelayan umat. Dan sekarang saatnya kita mencampakkan sistem sekuler kapitalis dan kembali kepada sistem Islam karena dengan sistem Islamlah rakyat akan kembali merasakan kehidupan yang sejahtera di bawah kegemilangan daulah Islam.
Pahami Agamamu Bangga Berislam Kaffah
Wallahu a’lam bisshowab.

Exit mobile version