Site icon

Tim Kementrian Budaya Lakukan Riset ” Muji Benih di Desa Kebun Jati

IMG-20260406-WA0144

Kliksumatera.com Lahat — Dalam upaya melestarikan Budaya
kearifan lokal, serta menjadi ciri khas suatu daerah dan agar warisan turun-temurun ini tidak luntur dimakan zaman, terkikis oleh teknologi era digital saat ini. Untuk itulah Kementerian Kebudayaan Nasional melalui LPDP mengunjungi Desa Kebun Jati  menggali  kisah Muji Benih untuk dijadikan riset dasar untuk diangkat menjadi Cerita Bergambar ( Cergem).

Hal ini diungkapkan M, Khotibul Umam SP, Tim , Tim Kementrian Budaya, ketika melakukan Riset ” Muji Benih di Desa Kebun Jati Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat pada Senin 6 April 2026, bertempat di Balai Desa, kegiatan ini dihadiri Kades Kebun Jati Supransyah, Jurai Tue (Ketua Adat)Bukhari, beserta Perangkat Desa dan Anggota BPD.

Menurut  M, Khotibul Umam SP, bahwa sudah selayaknya kita angkat kepermukaan sebagai upaya kepada generasi penerus untuk mendorong Literasi minat baca, nantinya kita akan kemas secantik mungkin seperti Cergam( cerita gambar) supaya membacanya ngak bosan. ujar nya.

” Sudah hampir 7 tahun tahun  kami melakukan riset menggali berbagai potensi cerita rakyat,  pada hari ini, yang kedua kalinya kita mendatangi desa  Kebun Jati menggali Asal usul Muji benih ini. Yang diceritakan oleh Jurai Tue tersebut.

Adapun  intisari yang dapat dipetik dari paparan Jurai Tue tadi yaitu :
Muji benih merupakan kepunyaan tiga desa yaitu Desa Kebun Jati, Desa Bintuhan dan Desa Tanjung Raman, tujuan muji benih menjalin hubungan tali silaturahmi,Silsilah keturunan,  Muja benih, pusaka, upacara adat.

Sementara itu Kades Kebun Jati Supransyah menyambut positif dengan diangkatnya Cerita Asal Usul terjadinya Muji Benih bisa membawa nama Desa Kebun Jati diharapkan akan terkenal dengan tradisi yang dilaksanakan 10 tahun sekali secara bergilir di tiga tempat yaitu Desa Tanjung Raman, Desa Bintuhan dan Desa Kebun Jati.

Lebih dari sekadar ritual, Muji Benih merupakan simbol kuat persaudaraan, peneguh silsilah keturunan, serta bagian dari pusaka adat yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antarwarga.
Yang membuatnya semakin istimewa, upacara adat Muji Benih hanya digelar setiap 10 tahun sekali secara bergilir di tiga desa tersebut.

Sebuah siklus panjang yang menjadikannya sakral sekaligus dinanti.
Kepala Desa Kebun Jati, Supransyah, menyambut baik langkah riset ini. Beliau
berharap pengangkatan Muji Benih dalam bentuk cergam dapat membawa nama desa semakin dikenal luas.

“Ini kebanggaan bagi kami. Semoga tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga dikenal hingga luar daerah,” ujarnya.
Di saat banyak tradisi perlahan memudar, langkah kecil dari Desa Kebun Jati ini menjadi pengingat: budaya tidak akan hilang selama masih ada yang mau menjaga dan menceritakannya kembali.

Laporan wartawan Novita.

Exit mobile version