Site icon

Valentine Day Momen Penyesatan Makna Kasih Sayang

WhatsApp Image 2024-02-12 at 22.05.10

Oleh : Hj. Padliyati Siregar ST

Perayaan Valentine Day setiap Februari seolah menjadi bagian kehidupan remaja muslim hari ini. Mulai dari promosi berbagai produk, hingga perilaku bebas mengatasnamakan cinta. Sejatinya, ini adalah gempuran produk industri para kapitalis yang serakah memanfaatkan potensi remaja bagi keuntungan materi mereka.

Seakan-akan menjadi hari yang khusus bagi manusia secara umum, bahkan bagi seorang muslimah sekalipun. Dengan pengaruh dari berbagai media dan lingkungan, para gadis sibuk ikut-ikutan merayakan hari tersebut. Ada yang sibuk membuat coklat dan kue-kue untuk orang yang disayanginya, mengirimkan kartu, atau sengaja mengkhususkan membuat pengakuan cinta untuk lelaki pujaan hatinya.

Berapa banyak korban akibat hari tersebut yang kehilangan harga diri dan kehormatan seorang muslim. Sebuah fakta yang sangat menyesakkan dada. Kondisi ini menyerang para generasi muda terutama bagi mereka yang tidak memiliki akidah kuat akan mudah terbawa arus perayaan tersebut.

Budaya bejat dan penuh kemaksiatan dengan mengatas namakan cinta semu seolah menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan. Berlomba lomba merayakan hari kasih sayang tersebut dari yang sederhana memberi coklat dengan nuansa pink hingga pesta seks bertukar pasangan. Sebuah fenomena yang sangat menyedihkan.

Arus globalisasi menjadikan budaya Valentine makin mendunia hingga menyasar ke negeri-negeri muslim. Budaya free seks, liberal, hedonis dan cuek terhadap segala aturan agama telah menjadi bagian dari kehidupan remaja sekarang. Istilah budak cinta (Bucin) dari hari ke hari semakin menggila berlindung di perayaan Valentine.

Sudah sepatutnya kita mengetahui bahwa Valentine Day bukan merupakan budaya yang berasal dari Islam.

Ada berbagai versi tentang Valentine tetapi memang semuanya samar dan jelas-jelas mengandung kesyirikan. Mengutip penjelasan ustadzah Hj Irene Handono yaitu :

1. St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Februari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Eksekusi yang didapatnya ini karena perbuatannya yang menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi, yang hal tersebut justru dilarang. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.

Kedua, valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.

Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.

Dengan demikian budaya Valentine’s Day mengandung sinkretisme agama. Sebuah ide kufur yang harus di waspadai dan sengaja digaungkan oleh sistem demokrasi kapitalis sekuler untuk menghancurkan generasi muda khususnya umumnya umat Islam.

Islam Mengatur Kasih Sayang dan Mengharamkan Pergaulan Bebas

Memang benar ajaran Islam menganjurkan menyebarkan kasih sayang. Bahkan dalam sejumlah hadis Rasulullah saw menyebutkan kasih sayang sebagai salah satu sebab turunnya rahmat Allah SWT, seperti sabda beliau: “Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahman (Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-pen), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924).

Implementasi kasih sayang yang diperintahkan Islam tidak sama dengan wujud kasih sayang yang disebarkan para pecinta valentine day. Di antara keduanya memiliki perbedaan yang jauh sekali.

Berikut ini adalah ketetapan Islam terkait kasih sayang yang harus diperhatikan:

Pertama, menyebarkan kasih sayang landasannya bukan semata karena rasa suka dan cinta, namun didasari karena ketaatan pada perintah Allah SWT seperti yang dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud di atas.

Kasih sayang semata karena Allah tidak dibatasi waktu dan tempat. Muslim manapun akan senantiasa terdorong untuk melaksanakannya setiap saat demi untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT, Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukan hanya terbatas di momen Valentine’s Day.

Kedua, wujud kasih sayang ditampakkan harus sesuai dengan ketentuan syariat. Di antara ketetapan tersebut adalah:
1). Ungkapan kasih sayang di antara perempuan dan laki-laki bukan mahram hanya ada dalam ikatan pernikahan yang terwujud dalam pergaulan suami istri. Ketaatan istri pada suaminya adalah bukti nyata kasih sayangnya.

Adapun tanggung jawab, perhatian, dan kepemimpinan seorang suami merupakan bentuk kasih sayang paling utama dalam rangka meraih keridaan Allah SWT. Sementara kasih sayang diantara pasangan muda-mudi diluar ikatan resmi pernikahan yang ditampakkan dalam ritual Valentine’s Day sudah pasti dilakukan karena dorongan hawa nafsu, bukan untuk mendapatkan pahala-Nya.

2). Kasih sayang dari orang tua kepada anak-anaknya. Diwujudkan dalam pemeliharaan, pengasuhan, pendidikan, sampai mengantarkan mereka ke gerbang akil balig. Semua itu bukan perkara instan juga tidak mudah untuk melaksanakannya. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh juga diperlukan waktu yang panjang.

Kasih sayang orang tua tak berbatas masa dan usia. Akan ada setiap saat. Kasih sayang demikianlah yang akan melahirkan anak yang saleh dan salihah yang kelak akan berbuah pahala yang terus mengalir, layaknya investasi tiada henti.

Sabda Rasulullah SAW:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh” (HR Muslim no. 1631). Karenanya sangat naif jika kasih sayang hanya ditampakkan setiap setahun sekali.

3). Kasih sayang anak kepada orang tuanya. Ditunjukkan dengan bakti dan ketaatan mereka kepada perintah keduanya selama bukan dalam kemaksiatan (QS Luqman: 14-15), serta lemah lembut dalam bergaul dengan keduanya (QS Al Isra: 23-24).

Berbuat baik kepada orang tua adalah salah satu kewajiban anak setelah perintah beriman kepada Allah dan Rasul. Seorang anak senantiasa dituntut melakukannya, bahkan manakala orang tuanya sudah tiada pun dia tetap wajib menunaikannya, walau hanya berupa untaian doa untuk mereka.

4). Kasih sayang di antara orang beriman. Orang beriman adalah saudara. Satu sama lain ibarat satu tubuh yang tak terpisahkan. Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berkasih sayang (QS Al Fath: 29).

Namun tentu saja wujudnya berbeda dengan kasih sayang di antara pasangan suami istri juga tidak sama dengan kasih sayang dari orang tua kepada anaknya. Kasih sayang di antara saudara seiman ditampakkan dalam pemenuhan hak dan kewajiban sesama muslim.

Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi SAW: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR Muslim, no. 2162).

Dalam hadis ini pun tampak bahwa kasih sayang sesama muslim tidak terikat waktu dan keadaan. Wajib dilakukan dalam setiap kondisi, baik dalam keadaan senang, susah, sakit, bahkan ketika ajal sudah menjemput masih memiliki hak yang harus ditunaikan oleh saudaranya.

5). Kasih sayang sesama makhluk Allah SWT.  Islam mengajarkan pada pemeluknya untuk memiliki kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Diantara bentuk kasih sayang sesama ciptaan Nya adalah: perintah saling mengenal (QS Al Hujurat: 13); menyeru kepada kebenaran Islam dengan cara yang baik (QS An Nahl: 125).

Dakwah kepada Islam merupakan wujud kasih sayang terindah yang wajib dilakukan. Dakwah merupakan wasilah sampainya hidayah. Dakwah Islam bisa menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup di dunia dan membebaskannya dari azab pedih di akhirat kelak. Tetap membiarkan mereka dalam kesesatan justru bertentangan dengan hakikat kasih sayang.

Tidak hanya terhadap sesama manusia, kepada binatang dan hewan ternak pun Islam memerintahkan kita untuk memberikan kasih sayang, seperti hadis Rasulullah SAW berikut ini:

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةً، رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang berkasih sayang meskipun terhadap seekor sembelihan maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat.” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod). ***

Exit mobile version