Oleh : Diana Wijayanti
Hot isue dunia dalam beberapa pekan ini adalah hengkangnya Amerika Serikat (AS) dari negara Afghanistan setelah 20 tahun menginvasinya. Thaliban akhirnya berkuasa, setelah terjadi kesepakatan Thaliban-AS di Doha, Qatar pada Februari 2020.
Sungguh kedigdayaan kaum muslimin di Afghanistan benar-benar telah teruji dan terbukti. Kekuatan besar dunia, baik Inggris, Uni Soviet hingga AS tak mampu menaklukkan semangat jihad kaum muslimin.
Tipologi wilayahnya yang dipenuhi pegunungan, batu-batu cadas dan sangat gersang membuat Afghanistan adalah medan yang sulit ditembus baik militer maupun ekonomi dengan pembangunan infrastruktur, untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya. Wajar jika orang menyebut Afghanistan ibarat negara yang masih “perawan” karena belum dijamah para Korporasi Kapitalisme di balik negara penjajah.
Pada tahun 2010, sebuah laporan yang dirilis ahli geologi AS memperkirakan bahwa Afghanistan, salah satu negara termiskin di dunia, memiliki kekayaan mineral hampir 1 triliun dollar AS (senilai Rp 14.000 triliun). Kekayaan tersebut antara lain biji besi, tembaga, lithium, kobalt, dan logam langka dengan kandungan cukup banyak.
Zaman digital seperti saat ini, membuat kebutuhan logam mineral seperti tembaga dan lithium untuk bahan baku memproduksi berbagai produk teknologi non-fosil seperti panel surya dan kendaraan listrik permintaannya terus naik dan harganya pun meroket. Wajar jika negara besar ‘ngiler’ melihat kekayaan Afghanistan.
Salah satu perusahaan pertambangan raksasa Asia, Metallurgical Corporation of China (MCC), telah memiliki konsesi 30 tahun untuk menambang tembaga di Provinsi Logar yang tandus di Afghanistan. Inilah kelihaian China memanfaatkan penguasa Thaliban.
Sekarang, setelah konflik yang berkepanjangan, kehidupan masyarakat sangat miskin dan memprihatinkan, infrastruktur pun hancur, maka Afghanistan berada di persimpangan untuk kemudian memilih sistem mana yang akan diambil untuk menanta kehidupan masyarakatnya.
Ada Ideologi Kapitalisme dan Sosialisme yang terbukti membawa kehancuran dan ada Ideologi Islam yang secara keyakinan melekat kuat dibenak masyarakatnya tinggal penerapan secara praktis yang belum terwujud.
Sungguh terdapat modal besar untuk kebangkitan Afghanistan menjadi cikal bakal pelaksanaan ideologi Islam dalam naungan Khilafah yaitu keyakinan yang kuat terhadap Islam. Tinggal penguasa yang harus berani memberikan nushrah kepada partai yang shahih untuk menegakkan khilafah tsaniyah ala minhajin nubuwah.
Penguasa Thaliban harus segera menghentikan negosiasi kufur dengan AS, kemudian mengambil dustur wa qanun Islam sebagai pijakan negara yang independen tanpa intervensi dari negara manapun. Insyaa Allah pembangunan masyarakat khilafah akan berjalan cepat sebagaimana Rasulullah SAW menstabilkan Madinah Al Munawwarah setelah Islam berkuasa.
Tidak sampai dua tahun Rasulullah SAW berhasil mengurus urusan dalam negeri dan segera menjalankan politik luar negeri dengan berpijak pada dakwah dan jihad.
Hanya kurang lebih 10 tahun saja Rasulullah SAW berhasil menyatukan jazirah Arab dalam satu kepemimpinan Islam dan berlanjut hingga dua pertiga dunia dikuasai kekhilafahan Islam.
Suri tauladan yang hakiki sudah terpatri dalam sejarah Islam, kaum muslimin saat ini tinggal meneladani tahapan demi tahapan hingga Allah SWT meridhoi.
Kekuasaan Imarah Islam yang dipilih penguasa Thaliban saat ini harus diganti dengan pemerintah khilafah karena hal itu dimurkai Allah SWT menyelisihi Rasulullah SAW.
Wahai kaum muslimin saatnya tampil tunjukkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah umat terbaik yang Allah lahirkan di tengah manusia. Kalian adakah Khalifah yang diwajibkan Allah SWT mengurus manusia di muka bumi ini menerapkan seluruh hukum Allah SWT.
Wujudkan negara baldatun thayyibatun wa rabbun Ghafur, penuh keberkahan dari langit dan bumi. Waspadai segala bentuk perampokan negara penjajah melalui ideologi kapitalisme dan sosialisme. Wallahu a’lam bishshawab.

