Oleh: Fatimah Zahrana
Perjanjian aliansi militer antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat akan memberi efek domino bagi kawasan Indo-Pasifik, secara khusus negara-negara ASEAN. AUKUS, demikian nama aliansi tiga negara itu, bahkan menjadi ancaman nyata bagi keamanan kawasan ASEAN. ”Kita sedang berada pada tahap awal perubahan ini. Efek domino, dalam pandangan saya, akan sulit diprediksi,” kata Duta Besar Perancis untuk Indonesia Olivier Chambard kepada sejumlah jurnalis di Jakarta, Jumat (24/9/2021).
Pemimpin Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia mempertanyakan kawasan bebas Indo-Pasifik dan menyampaikan fokus mereka soal China. Mereka juga menyatakan tidak akan gentar pada paksaan di pertemuan puncak yang membahas soal ini. “Kami mendukung supremasi hukum, kebebasan navigasi dan penerbangan, penyelesaian sengketa secara damai, nilai-nilai demokrasi, dan integritas teritorial negara-negara,” Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama, dilansir dari Reuters, Sabtu (25/9/2021).
Harus disadari bahwa munculnya AUKUS menambah banyak pintu masuk kepentingan negara besar untuk menjajah Kawasan.
– Indonesia kehilangan kekuatan, kekayaan dan kemampuan menyejahterakan-melindungi rakyat akibat proyek2 penjajahan negara besar
– Padahal semestinya bisa menjadi negara yang memimpin dan mengarahkan Kawasan utk lepas dari penjajahan dengan syarat Indonesia sadar posisi dan potensin strategisnya dan mengadopsi ideologi islam untuk membangun polugrinya.
Masalah kesatuan wilayah ini ada dua: Pertama, terkait dengan wilayah yang hendak dipecahbelah, melalui gerakan sparatisme. Kedua, wilayah yang asalnya satu, dan kini sudah terpecahbelah, dan hendak disatukan kembali.
Dua-duanya merupakan konotasi yang dinyatakan oleh nas-nas syara’, sebagaimana dalam hadits Nabi saw. Seperti, “Jika dibai’at dua Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” [Hr. Muslim], juga hadits Nabi, “Siapa saja yang membai’at seorang imam [Khalifah], lalu mengulurkan tangan dan meridhainya, maka dia harus mentaatinya semampunya. Jika ada orang lain yang hendak merebutnya, maka penggallah lehernya.” [Hr. Muslim]
Begitu juga, setelah merdeka, seperti kasus Indonesia dan Sudan, wilayahnya pun tetap dikerat-kerat, seperti Sudan Utara dan Selatan yang berhasil dipecah, begitu juga Timor Timur yang berhasil dipisahkan dari Indonesia. Menyusul Papua, Maluku dan Bali. Semuanya ini adalah fakta tentang kesatuan wilayah. Karena itu, dalam pandangan Islam, baik fakta pertama maupun kedua, sama-sama wajib dijaga, dipertahankan, dan direbut kembali jika sudah lepas.
Dalam konteks ini, Rasulullah SAW menyatakan, “Siapa saja yang terbunuh karena membela harta, kehormatan dan agamanya, maka dia mati syahid.” [Hr. at-Tirmidzi]. Sejengkal tanah yang dimiliki adalah harta, apalagi berjengkal-jengkal. Maka, mempertahankannya hingga terbunuh dinyatakan sebagai syahid. Selain itu, perintah Nabi SAW di atas juga menegaskan hal yang serupa. Karena itu, menjaga kesatuan wilayah, baik yang akan dipisahkan, maupun yang sudah dipisahkan, dan hendak direbut kembali, hukumnya wajib.
Tidak hanya itu, Islam telah menetapkan masalah ini sebagai qadhiyyah mashiriyyah [masalah vital], yang harus diselesaikan dengan taruhan nyawa. Dengan cara seperti itu, gerakan sparatisme akan ditumpas habis. Khilafah juga tidak pernah menyelesaikan masalah pemisahkan wilayah ini dengan referendum atau hak menentukan nasib sendiri. Begitulah cara Khilafah menjaga persatuan dan kesatuan umat dan wilayahnya. Cara yang terbukti berhasil mewujudkan persatuan dan kesatuan yang belum pernah dicapai oleh sejarah peradaban umat manusia yang lain. Maka, menyebut Khilafah akan menghancurkan persatuan dan kesatuan Indonesia merupakan kebodohan yang luar biasa.
Muawiyah bin Abu Sufyan dikenal sebagai pendiri angkatan laut Islam sejak menjadi gubernur Syam pada era pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Saat menjadi khalifah, Muawiyah mengembangkan angkatan laut dengan mendirikan beberapa pabrik pembuatan kapal di Iskandariyah dan Akka. Dia pun memanfaatkan tenaga-tenaga terampil yang memahami seluk-beluk dunia maritim.
Lewat kekuatan armada laut dan strategi militer yang andal, Muawiyyah berhasil menaklukkan beberapa kota di Laut Mediterania, seperti Siprus, Arwad, hingga Rhodes. Kota-kota ini akan menjadi benteng pertahanan maritim Islam dalam menghadapi ancaman Angkatan Laut Byzantium. Tidak hanya itu, Angkatan Laut Daulah Umayyah bahkan menjadikan kotakota ini sebagai titik tolak untuk mengancam pertahanan Byzantium.
Pada masa Khulafaurrasyidin, angkatan laut Islam berhasil menahan serangan Byzantium atas Iskandariyah pada 25 H. Dalam Perang Dzatu Shawari pada 34 H, Pemerintahan Daulah Umayyah berhasil melakukan blokade atas Konstantinopel pada 54-60 H dan 98-99 H. Pasukan Muawiyyah berhasil melakukan lompatan besar atas blokade yang ditujukan untuk menyerang kota itu.
Tidak hanya di belahan bumi timur, Angkatan Laut Umayyah bahkan melakukan perang besar melawan Byzantium. Ekspedisi ini didukung oleh kekuatan Angkatan Darat. Mereka didukung kabilah Barbar di Negeri Maghribi dan Afrika Utara. Beberapa kali, kapal-kapal Dinasti Umayyah bahkan berupaya menaklukkan Pulau Sisilia pada 46 H. Penyerangan ke Sisilia diinisiasi oleh armada perang di Mesir.
Angkatan Laut Mesir terus berpartisipasi dalam perang laut. Sampai kemudian, Hissan bin An-Nu’man membangun pabrik pembuatan kapal di Tunisia pada 89 H. Itu dilakukan setelah Mesir mendapatkan tekanan berat dari kapal-kapal Byzantium di pantai-pantai Mesir sendiri. Byzantium melakukan manuver itu dengan tujuan membendung agar jangan sampai Angkatan Laut Mesir menguasai pantaipantai di wilayah Maghribi.
Hissan bin An-Nu’man memanfaatkan keterampilan orang-orang Mesir dalam mengembangkan industri pembuatan kapal. Khalifah Abdul Malik bin Marwan pun memberi kebebasan membayar pajak pada para ahli kapal dari Mesir. Kebijakan itu diambil agar mereka mau pindah dan bekerja di pabrik pembuatan kapal di Tunisia.
Galangan kapal itu menghasilkan beberapa kapal besar yang beroperasi di beberapa wilayah berbeda. Armada Syam dan Mesir beroperasi di bagian timur Laut Mediterania. Sementara, armada Tunisia beroperasi di bagian tengahnya. Pada 58 H, Daulah Umayyah melakukan manuver besar-besaran di Laut Tunisia. Tujuan manuver ini untuk membuka pulau-pulau di wilayah Laut Mediterania bagian barat, terutama pulau-pulau di Sisilia. Tujuannya untuk menghalangi kemajuan armadaarmada Byzantium. ***

