Kliksumatera.com, PALEMBANG- Para guru ngaji atau ustadz dan ustadzah yang membagi ilmu baca huruf Al Quran di TPA seluruh Kota Palembang sudah beberapa tahun terakhir ini tidak lagi menerima insentif sama sekali dari pemerintah.
Minimnya perhatian pemerintah terhadap pengajar ilmu akherat ini sangat terlihat jelas, dari beberapa TPA yang terpantau, ustadz dan ustadzah yang mengajar mengakuinya, Minggu 20 Februari 2022.
Seperti terlihat di TPA Solihah Jalan Rambutan dalam 30 Ilir Kec IB 2 Palembang. TPA yang didirikan oleh Ustadzah Solihah ini sejak berdiri beberapa tahun yang lalu hingga kini tidak pernah menerima insentif apapun dari pemerintah. Solihah mengajak anak-anak di sekitar kediamannya belajar mengaji, dan banyak orang tua yang menitipkan anaknya mengaji di TPA miliknya. “Saya mengajar ngaji atas kemauan sendiri, mengenai bayaran saya tidak pernah minta kepada orang tua murid kalau pun ada semampu mereka saja,” aku Solihah.
Demikian halnya dengan Ustadzah Devi pengajar TPA/TPQ Ar Rahman Mesjid Tauhidurrahman Jalan Pasundan samping SMPN 34 Kelurahan Sungai Selayur Kecamatan Kalidoni. Dia mengakui sebagai guru ngaji tidak pernah merasakan insentif dari pemerintah walaupun hanya selembar kain. Dia mengajar Lillahita’ala saja. Tidak mengharapkan gaji. “Tidak dipungkiri ada pungutan yang diambil dari anak-anak tapi itu seadanya saja,” ujar Devi guru ngaji yang setiap hari membagi ilmunya pada puluhan anak didik ini.
Begitupun TPA Hudzaifah asuhan Ustadzah Sunarti yang terletak di Jalan Pasundan Kelurahan Kalidoni Kecamatan Kalidoni, beranda rumah yang dibuat Sunarti TPA sejak 2004 telah menciptakan masyarakat sekitar melek huruf Al Quran, namun sayang luput dari perhatian pemerintah.
Setiap sore puluhan anak–anak mengaji di TPA milik Sunarti. Soal honor pengajar Sunarti mengambil pungutan dari anak – anak hanya sekedarnya saja.
Hal senada diungkapkan Ustadz Ivan, Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Palembang. ”Selama beberapa tahun ini memang tidak ada insentif yang diberikan pada ustadz dan ustadzah pengajar ngaji di TPA. Saya berharap pemerintah Kota Palembang memberikan perhatian kepada mereka, karena rata–rata pengajar ngaji tidak meminta bayaran hanya pengertian dari orang tua yang menitipkan anaknya belajar ngaji,” ujarnya.
Jumlah uztadz dan uztadzah di Kota Palembang sekitar dua ribuan orang, kalau setiap tahun diberi insentif pasti mereka akan senang sekali. “Kalau dulu ada insentif dari pemerintah untuk para guru ngaji ini, tapi berapa tahun terakhir ini sudah tidak ada lagi sama sekali,” tandasnya.
Hal itu pun diakui Husnul Khatimah selaku Ketua BKPRMI Kecamatan Ilir Barat II Palembang. Dia mengatakan, dulu Ustadz-Ustadzah selain dapat insentif pertahun, mereka juga dapat kartu asuransi yang dapat dipergunakan untuk berobat atau melahirkan. ”Tapi kini sudah tidak ada lagi. Saya berharap pemerintah dapat memberi perhatian kepada para ustadz dan ustadzah,” pungkasnya.
Sumber : Berita Sriwijaya/Kliksumatera.com
Editor/Posting : Imam Ghazali

