Oleh : Desi Anggraini (Pendidik Palembang)
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta langsung para anak-anak yang berkumpul di acara Citayam Fashion Show, Dukuh Atas, Jakarta Pusat, membubarkan diri pada pukul 22.00 WIB, kemarin. Menurutnya, hal itu untuk membiasakan disiplin waktu, mengingat hampir semuanya masih pelajar SD, SMP, hingga SMA.
Dia menambahkan, pihaknya akan terus mencarikan tempat lain bagi anak-anak yang ingin melakukan fashion week, agar tidak dilakukan di zebra cross Dukuh Atas. Utamanya, saat ada hak pejalan kaki atau pengguna jalan raya lain yang juga terhalang kebebasannya. Dia mengatakan, pihaknya memang mendukung kreatifitas berekspresi anak-anak dengan melakukan fashion show di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Namun demikian, seperti disampaikan pihak kepolisian, kata dia, akan lebih baik jika acara tersebut tidak dilakukan di jalanan atau zebra cross.
Meski acara yang terkenal dengan sebutan Citayam Fashion Week itu tak perlu izin, dia berharap anak-anak tersebut bisa mematuhi ketentuan untuk pulang tidak lebih dari pukul 22.00 WIB. Riza menegaskan, pihaknya akan mencarikan tempat lain untuk fashion show tanpa menggunakan jalur penyeberangan, (Republika.co.id,ahad,24/07/2022).
Keberadaan CFW tentu saja tidak melulu soal pamer gaya. Di sana, para anak baru gede (ABG) juga mampu meraup cuan dari pagelaran mode tersebut. Salah satu pentolan di CFW mengaku berpenghasilan paling besar Rp 1 juta dalam sehari. Penghasilan tersebut hasil ngonten bersama sejumlah kreator konten di kawasan tersebut.
Kondisi ini sungguh menampakkan betapa pragmatisnya cara berpikir kaum muda tersebut. Lagi-lagi motif ekonomi mendominasi tindakan gaje (enggak jelas) yang telah mereka lakukan. Padahal, mereka adalah para remaja putus sekolah yang semestinya dibina dan disadarkan akan peran sejati mereka. Jangan malah membiarkan mereka latah dengan perbuatan yang tidak jelas tujuannya, bahkan hanya ikut-ikutan dengan gaya hidup yang tidak bermanfaat.
Ini harus menjadi tamparan keras bagi penguasa akibat kegagalannya membangun sistem pendidikan yang mampu menghidupkan jati diri generasi muda. Pendidikan selama ini justru menjadi instrumen bisnis. Sekolah yang selalu diklaim terbaik ternyata berbiaya cukup fantastis. Belum lagi polemik sistem zonasi.
Coba kita telaah kembali, apa daya guna pemuda saat terlibat di ajang pamer gaya semacam CFW itu? Tidakkah itu wujud perbuatan yang justru tiada guna?
Pemuda adalah golongan orang berenergi tinggi, tetapi jika salah arah, hawa nafsu duniawilah yang akan menguasainya. Kebanyakan dari mereka mudah lalai dari akhirat, bahkan suka bersenang-senang dan berfoya-foya.
Dalam iklim sekularisme, pemuda bervisi akhirat makin jarang kita temui. Jika pun ada, mereka langsung dicap radikal. Tempat-tempat mereka belajar agama, seperti masjid dan pondok pesantren, sering mendapat stigma hingga ada yang terkoyak sedemikian rupa dengan perilaku asusila sejumlah oknum.
Begitu pula dengan kurikulum pendidikan mereka yang jejali dengan ide-ide moderasi beragama, berakibat makin jauhnya mereka dari syariat-Nya.
Bagaimana hendak mewujudkan diri menjadi pemuda yang Rasulullah SAW gambarkan dalam hadis di atas jika semasa hidup di dunia mudah terkesima dengan tingkah latah, tetapi sejatinya hanya nikmat sesaat? Ini jelas sungguh jauh dari karakter pemuda perindu surga.
Betapa rugi negeri ini ketika generasi muda yang sejak lama disebut ‘bonus demografi’, nyatanya lebih difasilitasi untuk sesuatu yang tidak berguna dibandingkan untuk melayakkan diri dalam rangka mengisi peradaban sahih. Fasilitas yang ada sungguh tidak ubahnya koridor untuk menjerumuskan pemuda, alih-alih melejitkan potensinya.
Demikianlah tata aturan liberal dalam sistem demokrasi. Negara yang miskin identitas hanya mampu membebek gaya hidup hasil impor dari negara-negara Barat selaku pengusung dan pengasong ide-ide liberal. Sangat ironis jika generasi muda muslim tidak punya jati diri. Jika tidak mencari ilmu, mereka akan sangat mudah ikut arus tanpa tahu cara kembali ke jalan lurus.
Betapa hina pula penguasa yang membiarkan generasi mudanya terjerumus, apalagi sampai melegalisasi suatu peraturan perundangan untuk memfasilitasi hantaman ide liberal pada mereka.
Hendaklah kita renungkan Allah Taala, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah [5]: 50)
Juga sabda Rasulullah SAW, “Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.” (HR Muslim)
Jika hal seperti ini terus terjadi, jangan salahkan pihak-pihak yang menyatakan pemimpin saat ini tidak peka. Bukannya mengarahkan dan menyiapkan anak muda menjadi generasi penerus bangsa, malah menjerumuskan mereka pada jurang gemerlap dunia fana.
Legitimasi dan dukungan ini nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban sebab aktivitas kebebasan berekspresi ini tidak lepas dari pembiaran dan dukungan para penguasa.
Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُو لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْ أَةُ رَاعِيَة فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُو لَة عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan diminta (pertanggungjawaban) atas orang yang berada di bawah pimpinan kalian.”
Pemimpin bertanggung jawab atas rakyat. Suami adalah pemimpin keluarga dan ia bertanggung jawab atas mereka. Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab untuk hal itu. Pelayan adalah penjaga harta tuannya dan ia bertanggung jawab tentang hal itu. “Masing-masing kalian adalah seorang pemimpin dan seorang yang bertanggung jawab, serta akan dimintai pertanggungjawaban (tindakannya kepada) orang yang berada di bawah pimpinannya.” (HR Bukhari Muslim)
Pemimpin adalah Penegak Kebenaran
Bagi seorang pemimpin, apalagi seorang muslim, harus berani menegakkan kebenaran. Mereka wajib berpendirian dan berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap Islam sehingga bisa membedakan mana kegiatan yang boleh dan tidak boleh, mana kegiatan yang baik dan buruk. Standar penilaiannya adalah Islam.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa yang melihat kemungkaran, cegahlah dengan tanganmu. Apabila belum bisa, cegahlah dengan mulutmu. Apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman.” (HR Muslim).
Hadits ini menjelaskan kewajiban orang yang memiliki kekuatan (kekuasaan/pemimpin) untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan. Jika bersandar pada Islam, banyak aktivitas di CFW yang memang tidak sesuai syariat, apalagi itu semua adalah aktivitas yang membuat terlena. Tidak ada jaminan semua yang terlibat di sana menjalankan kewajibannya sebagai muslim.
Walhasil, seorang pemimpin, terlebih pemimpin muslim, wajib mendidik generasi untuk peduli pada bangsanya, bukan malah mendukung aktivitas hura-hura. Sudah seharusnya mereka bersikap tegas dan menjadikan Islam sebagai standar penentu suatu aktivitas benar atau salah. Wallahualam bissawab.

