Oleh : Ummu Mauza
“Pertanggungjawaban kita pada hari kiamat kelak pun hanya berdasarkan perintah dan larangan-Nya”
Pelarangan LGBT di Indonesia menghadapi banyak tantangan khususnya dari para pegiat HAM, terlebih paska pengesahan KUHP yang baru, yang tidak secara tegas melarang LGBT.
Pada 6 Desember 2022, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengesahkan KUHP baru yang menjadikan seks suka sama suka atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (kohabitasi) sebagai tindak pidana. Undang-Undang ini membolehkan gangguan ke dalam keputusan paling intim dari individu dan keluarga, melanggar hak atas privasi.
Kemudian Dewan Pimpinan Pusat Advokat Persaudaraan Islam (DPP API) mengkritisi lemahnya Kitab Undang-Undang Hukum (KUHP) baru dalam melarang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). DPP API menyarankan ada Undang-Undang (UU) tersendiri guna mencegah LGBT. Dikutip dari beritaREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA .
DPP API menganalisa hanya dua pasal yang berpotensi menjerat LGBT di KUHP baru yaitu Pasal 414 dan Pasal 411 ayat (1). Namun kedua pasal itu memang tak mengatur khusus soal LGBT karena berlaku umum.
Bahkan pasal itu akan jadi pasal karet guna menjerat pasangan suami istri yang sedang ada masalah pribadi di antara mereka,” kata Advokat dari DPP API, Aziz Yanuar kepada Republika.co.id, Ahad (8/1/2023).
Di balik semua fenomena meluasnya LGBT dan kampanye masif melalui sejumlah gerakan sosial, terdapat peran dan campur tangan politik HAM luar negeri AS. Tidak dimungkiri, AS begitu gencar mengampanyekan legalisasi LGBT ke seluruh dunia, termasuk dengan membajak berbagai kebijakan PBB. Pada era Joe Bidan, kampanye Lgbt makin masif dan agresif dijalankan ke seluruh dunia, bahkan Biden dinobatkan sebagai Presiden AS paling pro dengan LGBT.
Justru Desember 2022 yang lalu Biden mengutus Jessica Stern dan memilih tiga lokasi negara Asia Tenggara, yakni Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Dipilihnya ketiga negara ini tentu menarik untuk ditelisik. Selain karena memiliki populasi penduduk tertinggi di Asia Tenggara, tiga negara ini sama-sama belum mengesahkan UU pernikahan sesama jenis sebagaimana Taiwan dan Thailand.
Negeri muslim harus makin waspada, terutama terhadap penetrasi ide-ide liberal ini pada kaum mudanya. Apalagi selama enam dekade terakhir, promosi gaya hidup Lgbt telah meningkat sedemikian rupa sehingga sulit untuk dilepaskan dari kehidupan modern.
Hingga Bintang pop gay pun bermunculan, seperti Troye Sivan dari Australia (yang secara eksplisit membahas seks gay dalam musiknya), Olly Alexander asal Inggris, Nakhane (penyanyi Afrika Selatan yang telah mengeksplorasi konflik antara agama dan seksualitas dalam musiknya), dan musisi Inggris MNEK telah dinominasikan Grammy.
Di Asia turut bermunculan artis-artis gay melalui industri drama seri dan musik yang bermunculan dari Cina, Jepang, dan belakangan banyak diprakarsai Thailand.
Hal ini menunjukkan arus gerakan LGBT ini, tentu membutuhkan kapasitas besar, tidak cukup dengan satu dua kali penolakan, melainkan perlu upaya yang lebih sistematis dan terorganisir untuk mengimbangi kerusakan yang disponsori oleh kaum kafir barat.
Umat Islam memerlukan pemimpin adil yang kuat dan bervisi demi mengadang gelombang kerusakan yang terus dikampanyekan oleh barat terutama negara adidaya AS, dalam korporasi kapitalis mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya, al-imam (khalifah) itu perisai, (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).
Apalagi secara normatif, umat Islam sudah memahami bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan yang jelas-jelas menyalahi fitrah manusia dan mendatangkan murka dari Allah SWT.
Sebagaimana Islam sangat tegas memberikan sanksi bagi kaum homo dan lesbi sebagai perbuatan menyimpang, sebagaimana laknat Allah Taala pada kaum Sodom yang menentang Nabi Luth.
Oleh karenanya, yang diperlukan saat ini adalah kembalinya perisai umat yaitu sistem yang kaffah sebagai satu-satunya sistem yang direstui oleh Sang Pencipta seluruh umat manusia yang menunjukkan jalan yang benar menuju luhurnya moral dan martabat manusia, serta kemakmuran di dunia ini.
Waallahubissawab.

