Oleh: Wida Nusaibah (Pemerhati Masalah Sosial)
Demi meringankan kerugian pemilik ternak yang ternaknya mati, entah karena sakit atau sebab lain, masyarakat Gunung Kidul rela mempertaruhkan kesehatan, meskipun dampak terburuknya adalah kematian. Hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun sejak nenek moyang mereka. Tradisi ini disebut Mbrandu.
Tradisi mbrandu di Padukuhan Jati, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul inilah yang diduga menjadi penyebab sebanyak 87 warga terpapar antraks. Ketika ada ternak mati, maka warga berembug untuk menentukan harga ternak tersebut. Kemudian ternak yang sudah mati itu disembelih dan dijual dengan harga di bawah harga pasar. Seluruh warga diwajibkan membeli, meskipun mereka tidak diwajibkan memakannya baik bagi warga muslim maupun nonmuslim. (Republika.co.id, 7/723)
Potret Buram Kapitalisme
Tradisi Mbrandu jelas menampilkan wajah suram kehidupan di bawah naungan Sistem Kapitalis. Paradigma Kapitalisme yang lebih berorientasi pada keuntungan materi telah menjadikan masyarakat abai terhadap kesehatan hanya karena faktor ekonomi akibat takut rugi atau untuk mengurangi kerugian materi.
Tak hanya itu, pandangan hidup Kapitalisme yang hanya memburu kepuasan materi telah menjadikan masyarakat lebih cenderung mengejar kesenangan. Akibatnya, kalaupun media digital telah dapat dinikmati oleh hampir seluruh kalangan, tetapi masyarakat tidak memanfaatkannya dengan bijak untuk menambah pengetahuan literasi mereka terutama terkait gizi atau kesehatan. Lebih banyak masyarakat yang justru memanfaatkan media digital untuk menyaksikan konten-konten unfaedah maupun hiburan semata. Pola seperti ini jelas menyebabkan rendahnya literasi masyarakat.
Tak hanya itu, peran pemerintah jelas patut dipertanyakan. Bagaimana bisa tradisi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bisa terus berlangsung dari waktu ke waktu? Kalaupun selama ini belum pernah jatuh korban, tetapi hal yang membahayakan masyarakat jelas harus dihindari. Hal ini seakan menunjukkan kelalaian pengawasan atau abainya pengurusan pemerintah mulai dari tingkat pemerintah desa hingga pusat terhadap keselamatan masyarakat sehingga tradisi tersebut bisa tetap berlangsung.
Islam Memberikan Kebaikan Bagi Semua
Paradigma Kapitalisme di atas jelas bertentangan dengan paradigma Sistem Islam. Sebab, Islam adalah Rahmat bagi semesta alam, artinya Islam akan memberikan kebaikan bagi seluruh makhluk di dunia baik muslim maupun non muslim. Islam memiliki paradigma yang khas dan sempurna, karena diturunkan oleh Allah Sang Pencipta dan Sang Pengatur.
Dalam Islam, penguasa diwajibkan menjaga akidah, kehormatan, keamanan, harta, dan termasuk menjaga nyawa rakyatnya. Maka dari itu, berbagai upaya pun dilakukan untuk dapat menghindarkan rakyatnya dari bahaya dan kematian. Sebab, begitu berharganya nyawa seorang manusia baik muslim maupun nonmuslim.
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah Saw: “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Sistem Islam juga mewajibkan penguasa untuk menjamin kebutuhan rakyat sampai tataran individu, sehingga tidak boleh ada individu yang diabaikan kebutuhan hidupnya. Dengan begitu, rakyat tidak akan khawatir mengalami kerugian materi karena takut kebutuhan hidupnya terbengkalai. Penguasa juga memahamkan rakyat, bahwa setiap kerugian yang terjadi merupakan takdir Allah. Sebab, kematian maupun penyakit setiap makhluk adalah merupakan ketetapan-Nya. Manusia hanya diberi kesempatan untuk berusaha mengobati ketika ternaknya sakit. Masalah ternak tersebut sembuh ataukah mati adalah di luar kuasa manusia, dan tidak akan diminta pertanggungjawaban atas hal itu.
Penguasa dalam Islam beraktivitas atas landasan iman, sehingga akan memaksimalkan dirinya untuk mengurusi urusan rakyat. Penguasa akan dengan optimal memberikan edukasi dan menjamin setiap individu rakyat mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan begitu, rakyat menjadi manusia terdidik yang kuat literasi dan memahami aturan agama dengan benar. Tidak akan terjadi masyarakat yang abai terhadap kesehatannya. Sebab, mereka memahami bahwa Allah melarang hamba-Nya menyakiti atau membahayakan nyawa dirinya maupun orang lain demi menjaga keberlangsungan kehidupan.
Oleh karena itu, sangat jelas bahwa insiden yang terjadi akibat masyarakat yang mengonsumsi bangkai hewan terutama yang mati karena sakit merupakan tanggung jawab semua pihak untuk membenahi. Tidak layak menuding salah satu pihak saja yang salah. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kebiasaan atau tradisi masyarakat yang membahayakan atau bertentangan dengan nilai sosial dan agama harus dihentikan. Sedangkan pihak yang paling layak dan mampu melakukannya hanyalah penguasa. Sebab, penguasa yang memiliki kemampuan dan wewenang untuk menjaga kehidupan rakyatnya. Dan paradigma penguasa semacam itu akan lebih mudah diwujudkan dalam paradigma kehidupan Islam. Wallahu a’lam….

