Oleh : Serlida Fitriananda (Aktivis Kampus Palembang)
Sumpah Pemuda yang diadakan setiap tahun pada tanggal 28 Oktober merupakan salah satu hari bersejarah dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.
Sumpah Pemuda merupakan ikrar pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Seremonial itu merupakan momen penting dalam sejarah Indonesia yang menandai semangat persatuan dan solidaritas serta perjuangan pemuda untuk merdeka dari penjajahan Belanda.
Presiden Joko Widodo pun menyerukan hari sumpah pemuda menjadikan Indonesia bersatu menuju negara maju. Seskab (Sekretaris Kabinet) juga meminta para pemuda/i Indonesia untuk terus bekerja demi mewujudkan cita-cita menjadi Indonesia maju. Ini sejalan dengan tema HSP ke-95 “Bersatu Memajukan Indonesia”.
Pemerintah telah menetapkan bahwa strategi untuk mencapai hal tersebut adalah dengan meningkatkan investasi dan perdagangan luar negeri (meningkatkan ekspor).
Namun kenyataannya, Indonesia masih menjalankan sistem ekonomi kapitalis yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi global dan bukan kesejahteraan individu. Oleh karena itu, selama kapitalisme masih digunakan, kesejahteraan tidak akan tercapai secara merata.
Dalam kapitalisme, kebijakan ekonomi berfokus pada peningkatan PDB. Alhasil, pemerintah membuka saluran investasi seluas-luasnya, termasuk melakukan deregulasi berbagai peraturan.
Pada akhirnya, kemakmuran hanya dirasakan oleh sejumlah kecil pelaku yang mempunyai modal besar, sementara masyarakat biasa hanya menerima sedikit dampak ekonomi. Masyarakat sangat merasakan kerusakan alam akibat eksploitasi alam yang sembarangan. Ketimpangan ekonomi semakin parah dan kesejahteraan masyarakat tidak menjadi kenyataan.
Perayaan keterlibatan pemuda harus mencerminkan peran pemuda masa kini dalam kemajuan negara dalam konteks berbagai agenda yang merampas potensi pemuda di berbagai bidang. Di sisi lain, sistem yang ada saat ini melahirkan generasi muda yang memiliki pola pikir pragmatis dan individualistis.
Oleh karena itu, visi Indonesia untuk menjadi negara maju seolah hanya tinggal impian. Faktanya, Indonesia semakin terjajah dalam segala aspek, dan hal ini juga terjadi pada bidang pendidikan kepada generasi muda.
Konon generasi muda negeri ini terpanggil untuk menjadi seorang pemimpin. Ironisnya, sistem pendidikan saat ini tidak dirancang untuk membantu mereka menjadi ahli di bidangnya. Sebaliknya, mereka diubah menjadi pekerja terampil yang akan mengisi industri, sementara industri dikuasai oleh kapitalis – dalam dan luar negeri – yang menerima banyak tunjangan dari pemerintah untuk mengendalikan perekonomian internasional.
Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) juga telah menurunkan jumlah lulusan sekolah yang diharapkan menjadi sumber daya manusia berkualitas, menjadi sekedar lapangan kerja di dunia kerja. Hal ini membentuk pemikiran siswa bahwa tujuan bersekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak ada tujuan mulia dalam mencerdaskan bangsa agar lepas dari penjajahan.
Liberalisasi ekonomi, dimana negara membuka impor seluas-luasnya, juga menciptakan arus barang yang besar ke Indonesia. Setiap hari, generasi muda dibombardir dengan produk-produk yang terus berubah sehingga mengaburkan kesenjangan antara kebutuhan dan keinginan. Generasi muda sudah menjadi konsumeris, sampai-sampai uang yang mereka miliki tidak lagi cukup untuk membiayai hidup mereka.
Sebaliknya remaja yang tidak dapat menjalankan gaya hidupnya akan dikucilkan dan ditindas secara sosial. Akibatnya, mereka merasa tertekan bahkan berani melakukan self-harm (merugikan diri sendiri). Misalnya saja menggores pergelangan tangan atau bahkan bunuh diri seperti yang terjadi belakangan ini.
Oleh karena itu, pemuda memerlukan perubahan dari keadaan yang terpuruk saat ini menuju kebangkitan yang sesungguhnya untuk mewujudkan kejayaan bangsa. Kebangkitan sejati ini hanya bisa dicapai melalui ideologi Islam, satu-satunya ideologi yang bersumber dari wahyu Sang Pencipta. Misalnya, sistem pendidikan Islam akan menghasilkan manusia yang berkarakter Islami dan ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sistem ekonomi Islam akan membawa kesejahteraan bagi semua orang, tidak hanya pihak tertentu saja. Sistem politik pemerintahan Islam akan membebaskan umat Islam dari kolonialisme, baik militer maupun non-militer.
Untuk dapat melakukan perubahan terhadap Islam, langkah pertama yang harus dilakukan generasi muda adalah menanamkan ideologi Islam dengan berpartisipasi aktif dalam pengembangan ideologi Islam. Inilah halakah yang Rasulullah SAW lakukan bersama sahabat beliau di Rumah Arqam bin Abi Arqam.
Di halakah, generasi muda akan mempelajari keyakinan Islam untuk membentuk keimanan yang kuat. Mereka mempelajari syariat Islam agar menjadi individu yang bertakwa, sekaligus mengajak orang lain juga ikut bertakwa. Generasi muda juga akan dilatih menjadi pribadi-pribadi muslim.
Karena, Islam peduli terhadap peran pemuda dan memerintahkan Negara untuk membina generasi muda menjadi generasi yang membangun peradaban yang mulia, berakhlak Islami, dan mempunyai orientasi hidup jauh ke depan, bukan sekedar hal-hal duniawi.
Wallahu A’lam Bishawwab

