Oleh : Titin Agustina
Tanggal 25 November, merupakan hari yang penting bagi dunia pendidikan. Hari itu merupakan Hari Guru Nasional. Kita perlu memperhatikan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang perannya sangat penting bagi negara kita, sehingga para guru bisa memberikan ilmu pengetahuan dan wawasannya semaksimal mungkin agar generasi selanjutnya bisa memiliki masa depan yang lebih baik lagi.
Guru jadi salah satu orang yang berdedikasi untuk menghabiskan waktunya untuk mencerdaskan bangsa dan memiliki peran penting untuk membentuk seseorang. Guru juga dihormati agar perannya tidak hilang karena sosoknya menjadi pilar penting bagi negara. Melansir dari Kemendikbudristek, peringatan Hari Guru Nasional di peringati pada tanggal 25 Nopember setiap tahunnya karna bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Nasional Indonesia (PGRI). Pada tahun ini Kemendikdasmen mengusung tema bertajuk “Guru Hebat, Indonesia Kuat”.
Tema tersebut dipilih untuk menjadikan dukungan dan apresiasi pada seluruh guru yang ada di Indonesia. Lalu temanya di pilih untuk menggambarkan bagaimana peran guru hebat yang mendedikasikan waktunya untuk mendampingi dan membina generasi muda Indonesia dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang kuat.
Pada tahun ini juga pemerintah merilis logo perayaan Hari Guru Nasional 2024 dalam unggahan pedoman publikasi peringatannya. Logonya didominasi dengan warna merah putih serta tulisan tentang tema perayaan tahun ini.
Peringatan Hari Guru Nasional merupakan peringatan yang dirayakan pada tanggal 25 November setiap tahunnya. Pertama kali peringatan ini dilaksanakan pada masa pemerintahan presiden Soeharto khususnya kepada pemersatu Guru Nasional Indonesia (PGRI). Sementara itu peringatan hari Guru Nasional tertulis dalam Keputusan Presiden (Kappres) Nomor 78 tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional, diketahui tanggal 25 November terpilih sebagai tanggal Hari Guru Nasional karena terdapat sejarah di dalamnya (Liputan6.Com, Bandung).
Begitu penting peran seorang guru hingga ia mesti di hormati dan di hargai karena perannya yang sangat berpengaruh untuk bangsa dan negara ini,namun ironisnya kesejahteraan dan kemakmuran para guru tidak dijamin oleh negara. Pasalnya masih banyak para guru yang bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dikarenakan gaji yang diterima oleh para guru belum mencukupi untuk kebutuhan Seperti menjadi tukang ojek online, jualan kue, jual buket dan jual baju sebagainya. Sehingga jika para guru bekerja sambilan, maka ia sebagai pendidik akan tidak fokus untuk mencerdaskan generasi bangsa ini.
Belum lagi pada saat ini banyak para guru dikriminalisasi oleh anak didiknya gara-gara marah di tegur dan di beri sanksi karena melanggar kedisiplinan seperti merokok, bertengkar, membully, pacaran, rambut gondrong hingga ditegur karena tidak membuat tugas di rumah (pr), yang terakhir ada kasus yang menimpah seorang guru honorer yang di penjara atas tuduhan melakukan pemukulan terhadap siswa meski akhirnya divonis bebas oleh Majelis Hakim.
Sungguh menyedihkan dengan melihat fakta sekarang dengan tidak adanya perlindungan untuk para guru,menjadikan guru mudah di intimidasi/ditindas oleh para siswa dan orang tua mereka jika anaknya ditegur oleh gurunya, maka orang tua bisa memenjarakan gurunya tersebut. Sungguh miris peran guru di era sistem kapitalisme yang asasnya sekulerisme memisahkan agama dari sistem kehidupan termasuk sistem pendidikan yang sekarang di terapkan menjadikan peran agama (Islam) dipersempit bahkan dihilangkan.
Sementara kurikulum merdeka yang diterapkan pada saat ini menjadi salah satu acuan/contoh model pendidikan yang terbaik, namun realitanya justru menimbulkan keresahan yang luar biasa mengerikan. Pasalnya anak-anak di tuntut untuk memilih nilai akademik yang bagus agar dapat diterima di sekolah yang unggul dan selanjutnya bisa di terima di perguruan tinggi negeri yang mendapat terakreditasi terbaik sehingga anak di paksa untuk bersaing ketat dalam mencapai prestasi di kancah dunia kerja. Lalu apa yang terjadi ketika anak di paksa dan mentalnya tidak kuat?
Ya, anak akan mudah depresi sehingga anak bisa melakukan hal yang mengerikan termasuk bunuh diri dan bisa pula membunuh ayah dan ibunya karena tertekan dengan tuntutan nilai bagus seperti kasus yang baru-baru ini terjadi.
Inilah potret buram pendidikan sekarang terjadi di Indonesia.
Lalu apakah hanya kasus tersebut?
Tidak, masih banyak kasus yang lain menjerat remaja pada saat ini seperti kriminalitas remaja. Narkoba, hamil di luar nikah, aborsi, pergaulan bebas, bullying, tawuran, judi online dan sebagainya. Alhasil secara kualitas generasi sekarang mulai di ambang kehancuran. Karena dalam sistem kapitalisme anak-anak hanya menjadi mesin pabrik (pegawai) untuk memenuhi pos-pos perusahaan oligarki saja, itulah tujuan dari kurikulum merdeka yang di terapkan sekarang.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Di dalam Islam menutut ilmu itu hukumnya wajib, Rasulullah SAW bersabda : “menurut ilmu (agama) itu wajib bagi seorang muslim maupun muslimah”.
Di dalam sistem pendidikan Islam juga wajib menjadikan aqidah Islam menjadi asas utama dalam kurikulum pelajaran maupun pembelajaran, dan jika itu di terapkan maka akan terbentuk pola pikir dan pola sikap yang bersyaksiyah Islam (berkepribadian Islam). Maka dari sini tumbuhlah generasi yang tidak hanya pintar secara intelektual namun juga yang Sholeh, Sholehah dan bertakwa.
Dari peradaban Islam yang pernah diterapkan selama 13 abad lamanya lahirlah para ulama dan ilmuwan yang terkenal. Hasil penelitian dan ilmunya masih bisa kita pakai dan kita rasakan hingga saat ini. Seperti Ibnu Sina (pakar kedokteran), Khawarizmi (pakar matematika), Al Idris (pakar geografis), Al zarqali (pakar astronomi), Ibnu Alhaitsam (pakar fisika), Jabir Ibnu Hayyan (pakar kimia) dan sebagainya.
Lalu kita bertanya bagaimana para ulama itu bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik dari negara yah pada masa itu?
Ya, jawabannya adalah negara Islam memberi pendidikan yang cuma-cuma kepada seluruh rakyatnya baik yang kaya maupun yang miskin dengan memberikan fasilitas yang terbaik.
Karena negara menjadikan pendidikan suatu hal vital bagi keberlangsungan hajat hidup masyarakat untuk kemajuan dan kemaslahatan umat. Maka jika kita menginginkan generasi yang tidak hanya unggul dan bertakwa maka
Kembalilah kepada aturan Allah SWT dengan menerapkan sistem Islam dalam bingkai negara. Waallahu alam.

