Oleh: Qomariah (Muslimah Peduli Generasi)
Sebentar lagi umat muslim akan kedatangan tamu istimewa yaitu Bulan Suci Ramadhan. Dimana bulan ini umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal saleh dan lebih fokus dalam beribadah. Namun, sangat disayangkan bahwa masyarakat saat ini tercederai dengan rasa gundah karena harga pangan membumbung tinggi. Membuat masyarakat tidak fokus dalam beribadah. Semua ini disebabkan penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menciptakan kezaliman terhadap rakyat.
Badan pusat statistik (BPS) memberikan peringatan dini terkait potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjelang bulan Ramadan 2025. Adapun komoditas pangan yang menjadi perhatian utama adalah telur ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng.
Pasalnya, sejumlah pangan tersebut diprediksi akan mengalami lonjakan harga akibat meningkatnya permintaan selama bulan puasa dan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar juga mengungkapkan kekhawatiran ini dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah di Jakarta, Selasa (RubicNews.com4/2/2025).
Semestinya saat Ramadan dan Idul Fitri, pemerintah harus bisa melakukan berbagai upaya antisipasi terhadap inflasi agar bisa ditekan.
Namun tampaknya, penguasa masih saja kalah cepat dengan pergerakan harga komoditas pangan saat momen potensial puncak inflasi tersebut. Akibatnya, penguasa selalu gagal melakukan antisipasi yang ada. Terlebih tidak sedikit komoditas volatile food yang merupakan produk impor. Tentu mengenai hal ini sangat berpeluang mempengaruhi kenaikan harga bahan pangan.
Belum lagi berbagai ancaman komoditas lainnya. Seperti, kelangkaan maupun penimbunan barang. Bahwa volatile food selalu berulang setiap tahunnya, hal ini dipengaruhi oleh gangguan alam, hingga faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun internasional yang melambung tinggi.
Kenaikan harga ini terus berulang seolah- olah sebuah tradisi tahunan. Jadi masyarakat pun teropinikan bahwa kenaikan harga pada momen Ramadan dan lebaran merupakan hal yang wajar terjadi, sehingga masyarakat terbiasa dan menerimanya sebagai sebuah hal lumrah.
Amalia menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun lalu, pada awal Ramadan 2024 terjadi inflasi sebesar 0,52%. sedangkan inflasi pada makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,41% dan baru turun setelah lebaran.
Problematika produksi, distribusi dan daya beli, sebenarnya tinggi permintaan komoditas pangan menjelang Ramadan. Disebabkan adanya praktik penimbunan monopoli, kartel bahkan mafia impor. bisa diprediksi berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya. Berbasis data ini pemerintah seharusnya bisa mengalkulasi stok bahan pangan yang harus tersedia agar mencukupi kebutuhan masyarakat, dan memastikan distribusinya lancar sehingga tidak terjadi lonjakan harga.
Demikianlah, mafia impor leluasa mengatur harga pangan nasional sesuka mereka, acap kali oknum penguasa menjadi bagian dari mafia impor tersebut. Kepentingan pribadi penguasa dan kroninya berkelindan dengan kebijakan impor sehingga impor dilakukan bukan untuk kemaslahatan rakyat tetapi demi meraup keuntungan pribadi.
Penguasa dalam sistem kapitalisme tidak berperan sebagai pengurus rakyat (raa’in), tetapi sebagai regulator yang hanya memikirkan stok pangan tanpa memastikan distribusinya hingga ke rumah-rumah rakyat, bahkan kapitalisme melahirkan para (oknum) penguasa yang mempermainkan kebijakan pangan demi keuntungan pribadi, sedangkan kemaslahatan rakyat dikorbankan.
Berbeda dalam sistem Islam (Khilafah). Dalam pandangan Islam, ketersediaan pangan dan distribusi yang merata hingga sampai ke rumah-rumah warga merupakan tanggung jawab negara. Pandangan ini berbasis pemahaman bahwa penguasa adalah pengurus rakyat.
Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya imam (penguasa) adalah rain (pengurus) dan ia bertanggung jawab terhadap (rakyat) yang dipimpinnya.” (HR.Bukhari).
Khalifah akan mewujudkan ketahanan pangan dengan memberikan dukungan penuh pada petani, peternak, dan industri dalam negeri. untuk memproduksi pangan dengan jumlah yang mencukupi kebutuhan masyarakat, dan ada kelebihan sebagai cadangan pangan untuk kondisi darurat.
Khalifah akan menyediakan suplai pangan lebih banyak pada momen-momen khusus seperti, Ramadan dan dua hari raya sehingga tidak terjadi kekurangan bahan pangan. Pada aspek distribusi, daulah Islam (Khilafah) melakukan pemantauan dan pengendalian harga komoditas pangan setiap hari dan segera melakukan antisipasi sesuai syariat ketika ada gejolak harga. Dan memastikan tidak ada praktik-praktik tidak islami yang merusak keseimbangan permintaan dan penawaran. Seperti, penimbunan, kecurangan, permainan harga, dan lain-lain.
Demikianlah jaminan Islam terhadap kebutuhan pangan rakyat, sehingga kebutuhan setiap individu tercukupi secara berkualitas, Insya Allah. Wallahua’lam bishawwab.

