Oleh: Rustina (Muslimah Peduli Generasi)
Bulan suci Ramadan di Palestina jauh dari kedamaian. Kondisi Gaza tak beranjak dari keterpurukan dan kesedihan. Padahal Ramadan dan hari kemenangan di depan mata. Pengkhianatan Zionis atas perjanjian gencatan senjata terus terjadi.
Korban jiwa yang dibantai secara keji oleh entitas zionis Yahudi tidak terbilang banyaknya. Terakhir, sejak 7 Oktober 2023 hingga kini, jumlah korban kejahatan genosida yahudi di Gaza mencapai lebih dari 45.000 jiwa. Ini belum termasuk lebih dari 100.000 warga Palestina mengalami luka serius (www.aa.com).
Bangunan rumah tempat tinggal, sekolah , rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya, Sebagian besar roboh terkena bom Bardir. Hingga tahun 2024, sekitar 66% bangunan di Jalur Gaza telah mengalami kerusakan atau hancur akibat serangan militer entitas yahudi. Dari total 163.778 bangunan yang rusak, sebanyak 52.564 bangunan hancur total, 18.913 mengalami kerusakan parah, 35.591 kemungkinan rusak, dan 56.710 terkena dampak sedang, Kota Gaza menjadi area dengan kerusakan terparah. Sebanyak 36.611 bangunan hancur.
Permasalahan palestina sesungguhnya merupakan persoalan hidup dan mati. Kini jutaan warga Palestina di Gaza harus menjalani ibadah puasa dalam bayang-bayang kelaparan dan terjangan bom.
Adapun permasalahan yang dihadapi umat islam, baik dari internal maupun eksternal. Pertama: Permasalah internal, umat Islam terpecah-belah di beberapa negara (nation state), para penguasa negeri-negeri Muslim salah dalam memilih metode memerdekakan Palestina. Yaitu, solusi dua negara (two state solution)yang solusinya menyakiti dan mengkhianati Umat Islam seluruh dunia.
Dan belum lagi pengkhianatan para penguasa negri muslim yang mana menjalin hubungan diplomatik dengan entitas Yahudi. Sehingga tidak bisa berbuat apa-apa ketika saudaranya sesama muslim dibantai.
Kedua: Permasalahan eksternal, Entitas Yahudi didukung oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, baik dalam bentuk bantuan militer, ekonomi maupun diplomasi. Belum lagi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga mendukung entitas Yahudi. Sehingga kebebasan yang diharapkan Palestina jauh dari kenyataan. Karena tidak mungkin PBB mengeluarkan kebijakan untuk mendukung palestina.
Semua ini terjadi karena umat Islam tidak memiliki pelindung atau Junnah. Sementara itu, para penguasa negeri-negeri Muslim cenderung diam dan menjadi ‘pelindung’ zionis.
Umat seharusnya makin menyadari pentingnya kepemimpinan Islam untuk melawan dan mengusir orang-orang kafir dari tanah Palestina. Dan menyadari ketiadaan Junnah kaum Muslimin berarti membiarkan umat muslim di Gaza hidup sengsara, padahal mereka adalah saudara seiman. “Yang mana setiap muslim seperti satu tubuh ketika salah satu anggota tubuhnya sakit maka anggota tubuh yang lain ikut sakit merasakannya.”
Tegaknya Khilafah sebagai Junnah membutuhkan dakwah dari kelompok dakwah Islam ideologis, yang menyeru umat untuk memahami islam secara Kafah dan berjuang dengan menempuh jalan sebagaimana kelompok dakwah Rasulullah SAW.
Sehingga umat sadar dan mau memperjuangkan sistem Khilafah. Dan mau berjihad di jalan Allah SWT. Hanya dengan menggerakkan pasukan jihad dengan kekuatan penuhlah kejahatan Yahudi Zionis terhadap bangsa Palestina dapat dihentikan. Dengan itu pula penjajahan dan pendudukan Yahudi Zionis atas tanah Palestina bisa diakhiri. Wallahu a’lam bi ash-shawaab.

