Oleh: Ima Fransiska
Militan Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada 18 Maret lalu usai dua bulan melakukan kesepakatan gencatan senjata.
Meski telah melanggar kesepakatan tersebut, Zionis Israel nampak semakin garang melakukan penyerangan terhadap kaum muslim di Palestina.
Lebih parahnya lagi Israel memblokade seluruh pasokan makanan, air dan juga obat obatan untuk memasuki gaza, membuat kondisi rakyat Palestina semakin memburuk dengan krisis kelaparan yang ekstream.
Cikal Bakal Nakba Kedua
Komite khusus PBB menyatakan genosida yang dilakukan oleh Zionis merupakan praktik praktik licik atas kejahatan kemanusiaan, yang menjadikan cikal bakal terjadinya “Nakba Kedua” akibat dari eskalasi kekerasan dan blokade kemanusiaan yang dilakukan Israel.
“Israel terus menyebabkan penderitaan yang tak terbayangkan bagi rakyat yang hidup dibawah penduduknya, sambil memperluas perampasan tanah sebagai bagian dari aspirasi kolonial yang lebih luas. Apa yang kita saksikan bisa jadi adalah Nakba lainnya,” ujarnya saat menutup misi lapangan di Amman (Kompas, 9 Mei 2025).
Komite khusus PBB juga mempunyai bukti dokumentasi berupa penyiksaan, kekerasam seksual sistematis serta pemaksaan kelaparan sebagai metode perang oleh militer dan otoritas Israel, serta penggunaan blokade total terhadap Gaza sebagai bentuk ‘senjata kelaparan’ yang digunakan untuk menundukkan seluruh populasi.
Seperti diketahui Nakba atau dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “Malapetaka” merupakan kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada Masyarakat Arab dan Palestina.
Peristiwa ini terjadi pada 1948 ketika pengusiran hampir 750.000 warga Palestina dari tanahnya disertai penghancuran lebih dari 500 desa Arab, pembantaian, serta pembersihan etnis.
Hingga kini peristiwa tersebut menjadi simbol luka kolektif dan perlawanan dalam identitas nasional Palestina.
Diamnya Para Pemimpin Negeri Muslim Langgengkan Genosida
Kondisi yang kritis serta keadaan yang mencekam di Gaza tak mampu menggerakkan posisi negeri negeri muslim, diamnya para penguasa Arab terhadap apa yang terjadi di Gaza malah melanggengkan Genosida dan penjajahan.
Meski seruan jihad bergema di seluruh penjuru dunia, namun tak mampu membuka hati para pemimpin muslim yang harusnya melakukan pembelaan serta mengirim pasukan untuk melawan zionis.
Ironis memang disaat saudara seakidahnya dijajah dan dibantai, mereka para penguasa muslim malah memberikan karpet merah serta berjabat tangan dengan para pemimpin yang menjadi sponsor utama pembantaian darah kaum muslim di Gaza oleh Zionis Yahudi.
Gaza Butuh Jihad dan Khilafah
Kondisi yang mengenaskan ini tak mungkin terjadi jika umat Islam berada di sistem Islam yakni Khilafah, karena dengan Khilafah, pemimpinlah yang akan menjalankan perannya sebagai rain dan junnah untuk melindungi umat Islam dari penjajahan dalam bentuk apapun.
Sebagaimana yang pernah dilakukan para pemimpin islam dulu saat membebaskan Baitul Maqdis, sebut saja seperti Umar Bin Khattab dan Salahudin Alayyubi yang mampu mengepung pasukan musuh dan membuat mereka bertekuk lutut mengakui kekalahannya.
Di bawah naungan khilafah jugalah umat islam akan mampu membentuk kekuatan secara militer, politik, serta ekonomi yang kuat dan independen.
Namun untuk mengembalikan perisai umat mutlak membutuhkan perjuangan dari kelompok dakwah islam ideologis, kelompok dakwah dalam bentuk partai politik islam sebagaimana partai Rasulullah SAW yakni Hizb Rasul.
Rasulullah SAW telah memberi teladan yang sejatinya adalah syariat melenyapkan system kufur dengan mengganti M2Q, Mafahim (pemahaman) Maqayis (standar) Qanaat (penerimaan) masyarakat dengan aqidah dan syariat Islam.
Untuk itu Rasulullah menghimpun para sahabatnya dirumah Arqam bin Abi Arqam untuk di – tatsqif (dibina) agar memiliki syakhshiyyah islmiyyah (kepribadian islam) ini bertujuan agar para sahabat menjadi pribadi yang militant dalam mengemban dakwah.
Atas dasar pemikiran Islam inilah, mereka akan bergerak menyadarkan umat dalam kesabaran, keikhlasan dan ketangguhan sebagaimana para sahabat dalam mengemban dakwah dan menghadapi segala rintangan yang menghadang.
Berkat kesabaran serta dakwah yang terus menerus dillakukan oleh rasul dan para sahabat akhirnya berbuah manis dengan tegaknya negara islam pertama di Madinah atau yang sering disebut Madinah Al Muanawaroh
Kelompok dakwah ideologis yang mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW mereka bersabar untuk mengajak umat agar umat mau bekerja bersama mereka untuk mewujudkan kembali institusi sebagaimana yang pernah didirikan oleh Rasulullah SAW di Madinah.
Karena itu sudah saatnya umat Islam bersatu bergerak, dan berjuang dengan ikhlas untuk kepentingan, maka umat islam harus yakin bahwa kebatilan akan lenyap dan yang haq akan datang. Allahualam Bishowab

