Kliksumatera.com Lahat — Menjamurnya pembangunan Gedung Kopdes Merah Putih di sejumlah desa di Bumi Seganti Setungguan kembali memunculkan pertanyaan publik. Apakah koperasi ini akan benar-benar menjadi penggerak ekonomi desa, atau hanya sekadar program sesaat istilah masyarakatnya, “angat-angat tahi ayam”?
Pengalaman masa lalu pada era Presiden Suharto melalui Koperasi Unit Desa (KUD) menjadi pelajaran penting. Saat itu, koperasi digerakkan secara besar-besaran, namun tidak semuanya mampu bertahan. Sebagian tumbang bukan karena konsepnya salah, melainkan karena lemahnya tata kelola, minim pengawasan, dan kurangnya keterlibatan anggota.
Kini, Kopdes Merah Putih pada Era Presiden Prabowo Subianto hadir dengan wajah baru. Gedung berdiri, papan nama terpasang, bahkan struktur kepengurusan sudah dibentuk. Namun masyarakat menilai, ukuran keberhasilan bukan pada megahnya bangunan, melainkan pada:
Apakah koperasi benar-benar menjalankan usaha produktif?
Apakah anggota merasakan manfaat nyata?
Apakah laporan keuangan transparan dan terbuka?
Apakah ada pendampingan dan pembinaan berkelanjutan?
Jika hanya sebatas pembangunan fisik tanpa aktivitas ekonomi yang hidup, kekhawatiran publik tentu beralasan. Gedung bisa saja berdiri kokoh, namun kosong aktivitas.
Sebaliknya, bila dikelola secara profesional, berbasis kebutuhan riil masyarakat desaseperti simpan pinjam sehat, distribusi hasil pertanian, atau penguatan UMKM maka Kopdes berpeluang menjadi motor ekonomi desa yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, apakah ini akan menjadi kebangkitan koperasi desa atau sekadar tren musiman, sangat bergantung pada komitmen pengurus, pengawasan pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat.
Ataukah nantinya akan jadi ajang bagi- bagi kue, waktu akan membuktikan: bertahan dan berkembang, atau hanya sebatas euforia pembangunan semata. Kita lihat saja nanti.
Lahat 21 Februari 2026.
Penulis Novita.

