PURBALINGGA — Di antara rangka kayu yang masih tersisa dan dinding yang hampir rampung, Misdi berdiri terpaku. Tatapannya menyapu setiap sudut bangunan yang kini tak lagi sekadar angan. Rumah yang dulu hanya ia bayangkan, kini berdiri di hadapannya dan hampir selesai dibangun.
Siang itu terasa berbeda. Bukan hanya karena teriknya matahari yang menembus sela konstruksi, tetapi juga karena perasaan yang memenuhi dada Misdi. Haru yang selama ini tertahan, perlahan terlihat dari raut wajahnya. Ia menyaksikan sendiri perubahan besar dalam hidupnya.
Bertahun-tahun, Misdi hidup di rumah yang jauh dari kata layak. Dindingnya rapuh, ruangannya sempit, dan kondisi yang sering kali membuatnya harus bertahan dalam keterbatasan. Namun kini, melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga, harapan itu menemukan jalannya.
Satu per satu bagian rumah berdiri. Dinding kokoh mulai menutup sisi-sisi bangunan, jendela telah terpasang, dan rangka atap terus disempurnakan. Setiap detail yang terbangun menjadi bukti nyata hadirnya kepedulian.
Misdi tak banyak berkata. Sesekali ia hanya mengangguk pelan, matanya tak lepas dari rumah yang hampir selesai itu.
“Saya tidak menyangka, bertahun-tahun hidup dengan kondisi rumah yang tidak layak, sekarang rumah saya akan jadi lebih nyaman,” ucapnya lirih, Jumat (1/5/2026).
Program RTLH TMMD bukan sekadar membangun fisik rumah, tetapi juga menghadirkan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Gotong royong antara Satgas TMMD dan warga menjadi kekuatan utama yang menggerakkan proses pembangunan hingga sampai pada titik ini.
Bagi Misdi, rumah ini adalah lebih dari sekadar tempat tinggal. Ia adalah simbol perjuangan, harapan, sekaligus awal baru untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
“Saya berharap, setelah rumah ini terbangun, rumahnya bisa awet, bisa buat anak istri senang, dan kedepannya saya bisa fokus dalam bekerja,” tuturnya.
Di ambang pintu rumahnya yang hampir jadi, Misdi berdiri lebih lama. Seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. Raut harunya tak bisa disembunyikan, seolah menjadi ungkapan tulus dari seseorang yang akhirnya bisa melihat mimpinya terwujud.
Dan hari itu, di tengah proses pembangunan yang masih berlangsung, Misdi tak hanya melihat rumahnya berdiri, tetapi ia juga melihat masa depan yang kini terasa lebih pasti.(anr)

