NUNUKAN – Awalnya mereka bertemu karena tugas. Prajurit TNI datang ke Desa Liang Bunyu membawa misi pembangunan melalui TMMD ke-129. Namun memasuki H-1 penutupan, hubungan antara Satgas TMMD dan masyarakat telah berkembang jauh lebih dalam. Gotong royong yang dilakukan hampir setiap hari perlahan berubah menjadi kedekatan dan persaudaraan yang dirasakan kedua belah pihak.
Prajurit tidak hanya bekerja di tengah masyarakat, tetapi juga hidup berdampingan dengan warga. Mereka menyapa anak-anak, berbincang dengan orang tua, membantu pekerjaan warga dan berbaur dalam berbagai kegiatan. Sementara masyarakat memberikan dukungan dengan ikut bekerja menyelesaikan sasaran fisik TMMD. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan program.
Bagi masyarakat Liang Bunyu, kehadiran prajurit membawa perubahan yang dapat dilihat secara langsung. Jalan yang dibangun membuka akses menuju wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Rumah warga yang mendapatkan rehabilitasi memberikan harapan baru bagi keluarga penerima manfaat. Berbagai kegiatan nonfisik juga memperkuat kesadaran masyarakat mengenai kesehatan, ketahanan wilayah, kebersihan lingkungan dan pentingnya kebersamaan.
Di sisi lain, bagi prajurit, Desa Liang Bunyu juga meninggalkan pengalaman yang tidak kalah berharga. Tinggal dan bekerja bersama masyarakat perbatasan membuat personel Satgas semakin memahami kehidupan warga yang berada di garis depan NKRI. Hal tersebut memperkuat makna kemanunggalan TNI-rakyat sebagai kekuatan penting dalam mendukung pembangunan dan ketahanan wilayah perbatasan.
Ketika penutupan tinggal sehari lagi, rasa haru mulai terasa. Sebentar lagi prajurit akan meninggalkan lokasi penugasan dan kembali ke satuan masing-masing. Tetapi masyarakat Liang Bunyu tidak hanya akan mengingat seragam yang pernah datang ke desa mereka. Mereka akan mengingat tangan-tangan yang ikut bekerja, keringat yang jatuh bersama, tawa di sela pekerjaan dan persaudaraan yang terbentuk selama TMMD ke-129. Itulah warisan paling berharga dari sebuah pengabdian.(*)

