Oleh: Diana Wijayanti, SP
Lonjakan kasus positif Corona Virus Disease (Covid-19) atau Virus Corona di Indonesia kembali mencatat rekor tertinggi. Data terbaru, ada penambahan kasus hampir 3.000 kasus atau tepatnya sebanyak 2.657 kasus hingga pukul 12.00 WIB, Kamis, 9 Juli 2020.
Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga saat ini telah mencapai angka 70.763 kasus. Lantas, apakah kasus Covid-19 yang melonjak tajam beberapa waktu belakangan ini menandakan Indonesia mulai memasuki puncak pandemi?
Namun di tengah lonjakan kasus Covid-19, pemerintah dituntut dunia, khususnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya, untuk tegas mengatasi masalah radikalisme, yang secara sepihak disematkan kepada Islam.
Hal ini karena beberapa hari terakhir, Islam sering menjadi trending twiter setiap harinya sebagai solusi masalah Seperti #Islamsolusiatasipandemi
#KhilafahajaranIslam
#KhilafahJanjiAllah
#RinduKhilafah
Yang membuktikan bahwa umat Islam semakin sadar bahwa mereka membutuhkan Islam sebagai solusi persoalan yang melanda saat ini, termasuk menghadapi pandemi.
Beberapa ungkapan nyiyir terhadap khilafah terus bergulir di media cetak, dan medsos. Di antaranya “Virus khilafah di tengah pandemi”, “Virus khilafah lebih berbahaya dibanding Virus Corona” dan lain-lain. seolah memberi pesan bahwa Pemerintah diminta lebih serius lagi menangani masalah radikalisme di tengah pandemi.
Nampaknya isu radikalisme tidak pernah hilang dalam benak mereka. Yang tidak jarang diucapkan oleh seorang muslim. Memang aneh, bagaimana muslim bisa membenci Islam?
Ini adalah buah dari upaya misionaris yang melancarkan perang pemikiran maupun budaya di tengah kaum muslimin. Tujuannya satu menghalang-halangi kebangkitan Islam.
Akhirnya banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui Islam, ajaran dan hukum-hukumnya. Ajaran jihad, khilafah yang merupakan ajaran mulia dianggap radikal, mengikuti narasi Kaum kafir penjajah. Banyak yang tidak paham bahwa Islam adalah solusi terhadap persoalan kita saat ini.
Bagaimana Islam memandang hal ini? Dengki itulah kata yang tepat untuk menggambarkan berlangsungnya perang salib. Tepatlah ungkapan “Never ending war of crusade antara Islam dan orang kafir”.
Narasi kekerasan muslim, dengan jihad dan Khilafahnya terus dijajakan di negeri-negeri Islam dengan program ‘War on Terorisme’ perang melawan terorisme, dilanjutkan dengan ‘deradikalisasi’ yang melibatkan akademisi, intelektual dan ilmuan muslim sebagai pelegalisasi tuduhan tersebut.
Mereka menyatakan bahwa Penerapan Islam Kaffah, penegakan khilafah akan membawa masalah bagi muslim dan dunia. Kerusakan dunia akibat Khilafah.
Hal itu pula yang terjadi di Indonesia, saat kaum muslimin mengkritik kebijakan rezim yang tidak tepat terhadap penanganan Covid-19 yang amburadul. Dan seruan untuk kembali kepada solusi Islam maka tindakan representatif langsung diterapkan. Wajar banyak kalangan yang menyebut bahwa penguasa saat ini anti Islam.
Kaum pembenci Islam meradang, mereka coba mengkaitkan #IslamSolusiuntuknegeri, sebagai solusi masalah pandemi sebagai benih-benih radikalisme, dan dianggap sebagai ujaran kebencian.
Ini bukan kali pertamanya, rezim dengan tim cirlidersnya, pemandu soraknya sering menuduh pejuang syariah Kaffah, sebagai biang keladi karut marut masalah ekonomi, politik, pendidikan dan semua problem kehidupan.
Padahal kaum muslim yang memaparkan syariah Islam, rincian solusi atas persoalan hanya berdakwah, hanya mengingatkan kaum muslimin, untuk taat dan patuh pada Aturan Tuhannya yaitu Allah SWT.
Bahwa mereka telah melupakan solusi Islam, yang dipandu oleh Al Quran, As Sunnah, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas.
Kelompok dakwah ini hendak mendekatkan fakta yang dihadapi kaum muslimin saat ini dengan Sikap yang dicontohkan Rasulullah SAW dan kekhilafahan setelahnya.
Toh dunia barat telah mengakui keunggulan Islam, sebagaimana dilaporkan oleh ‘United State Which’ bahwa Muhammad, Rasulullah SAW adalah orang yang pertama kali menyarankan lockdown. Will Durant juga telah mengungkapkan betapa adil, makmur dan nya dunia dipimpin Khalifah Islam. Ini adalah beberapa contoh kecil pengakuan barat.
Kalau pengkampanye program deradikalisasi mau jujur. Mereka yang didominasi oleh kaum cerdas dan terdidik pasti akan mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya solusi atas persoalan, baik masalah pribadi atau publik, masalah agama maupun masalah politik, masalah perempuan maupun masalah laki-laki.
Sebagai seorang muslim, kita harus percaya sepenuh hati bahwa Islam adalah satu-satunya solusi, sehingga apa yang diserukan Islam diterima dan ditaati.
Karena hal itu berdasarkan firman Allah SWT :
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali” (QS Al Baqarah: 285).
Maka ini sudah cukup sebagai jawaban atas kedengkian orang kafir. Tinggal, kaum muslimin ikut berjuang demi kebangkitan Islam, hingga meraih kemuliaan di dunia dan akhirat atau sebaliknya. Mengikuti narasi Kaum kafir memerang Islam dan ajaran nya yang akan hina di dunia dan akhirat. ***
Wallahu a’lam bishshawab.

