Oleh : Syizka Sepridha
Peristiwa bermula pada hari Jumat (7/5/2021), saat Sholat Taraweh, tentara Israel menembak jamaah dan menimbulkan kerusuhan sehingga ada sekitar 200 jamaah terluka saat itu. Kemudian Al Jazeera mengabarkan (12/5/2021) militer Israel terus membombardir Jalur Gaza yang dikepung pada Selasa (11/5/2021), menargetkan beberapa daerah setelah roket ditembakkan dari daerah kantong tersebut.
Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 32 warga Palestina, termasuk 10 anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di Jalur itu sejak Senin malam, setelah Hamas meluncurkan roket dari wilayah pesisir menuju Israel.
Tembakan roket terjadi setelah Hamas mengeluarkan ultimatum yang menuntut Israel mundur dari kompleks Masjidil Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki setelah berhari-hari melakukan kekerasan. Yang kemudian ultimatum itu diabaikan Israel.
Data terbaru pertanggal 17 Mei 2021 ada total 1450 serangan udara, 198 gugur syahid Inshaa Allah dengan rincian 58 anak-anak, 35 perempuan dan 2 orang manula, sisanya adalah para pejuang. Kemudian korban luka juga diperkirakan berjumlah 1300 orang.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan Hamas dan Jihad Islam akan “membayar harga yang sangat mahal”, setelah seharian tembakan roket Gaza dan serangan udara Israel di daerah pantai Palestina.
Di lain pihak Sami Abu Shehadeh, anggota Knesset Palestina dan pemimpin partai Balad, mengatakan Benjamin Netanyahu mengizinkan “kekerasan” ini dalam upaya mempertahankan kekuasaannya. “Untuk bertahan dari krisis politik ini dia menemukan dirinya sekarang, dan agar dia tidak kehilangan kendali dan tidak kehilangan kursinya sebagai perdana menteri, dia siap untuk melakukan apa pun,” jelasnya.
“Semua peningkatan eskalasi yang kita lihat sekarang memiliki target politik yang jelas dari sudut pandang Netanyahu, dan dia siap melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya termasuk pembantaian yang akan kita lihat di Gaza. Apa yang terjadi di sini adalah keputusan politik yang jelas bahwa Netanyahu bertanggung jawab untuk mempertahankan kekuasaan,” imbuhnya.
Seiring dengan itu Ali Abunimah, seorang penulis dan salah satu pendiri situs Electronic Intifada, menyampaikan bahwa mengerikan melihat Israel sekali lagi memutuskan untuk mencoba menebus penghinaannya di Yerusalem dengan membunuh warga Palestina, terutama anak-anak di Gaza.
“Apa yang terjadi kemarin di Yerusalem adalah Israel menderita kekalahan yang memalukan ketika perlawanan rakyat Palestina, tanpa dukungan dari pemerintah mana pun, tanpa dukungan dari Otoritas Palestina, mengalahkan Israel. Memaksa mereka untuk membatalkan aksi pemukim, dan terus melawan pembersihan di Syekh Jarrah,” ucapnya.
Hamas dan faksi-faksi perlawanan lainnya mencoba berkata kepada Israel, “Jangan berpikir Anda dapat menyerang Yerusalem dan menyerang orang-orang Palestina di Tepi Barat dan beranggapan faksi perlawanan tidak menanggapi Anda. Itu adalah kesalahan perhitungan strategi utama oleh Israel yang berpikir dapat melakukan apa saja yang diinginkan karena telah memecah belah rakyat Palestina, ada sebagian kecil di Tepi Barat dan sebagian kecil lainnya di Gaza,” jelasnya (Sumber : MuslimahNews.com, INTERNASIONAL)
Gambaran di atas merupakan gambaran terkini di Palestina, dimana pertikaian disana tidak akan pernah berakhir kecuali dengan solusi universal. Karena sesungguhnya persoalan yang timbul sudah berlangsung lama dan pelik.
Pada dasarnya keberanian, arogansi, dan kelancangan penjajah Yahudi ini disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama penjajah Yahudi sangat paham ada AS dan negara-negara barat di belakangnya. Sikap politik AS tersebut yaitu menjadikan eksistensi penjajahan Yahudi sebagai “harga mati” bagi mereka, bersifat permanen dari presiden ke presiden. Sehingga, meskipun jumlah penduduk Israel hanya sedikit sekitar 7—8 juta orang, membuat mereka sangat berani, lancang, dan arogan.
Orang-orang Yahudi ini sebenarnya pengecut, tetapi karena tahu di belakangnya ada AS yang akan mendukung mereka apa pun yang terjadi, maka mereka pun menjadi berani dan lancang.
Kedua, penjajah Yahudi paham sikap pengkhianatan dan lemahnya penguasa-penguasa negeri muslim yang “paling-paling” hanya akan mengecam. Walaupun kekuatan militer negeri-negeri muslim ini kuat dan besar, tetapi tidak akan diarahkan dan dimobilisasi untuk membebaskan tanah Palestina dari penjajah Yahudi ini. Penguasa-penguasa muslim saat ini telah tunduk kepada Barat. Bahkan, negara-negara Arab satu persatu telah melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah Yahudi. Ini merupakan bentuk pengkhianatan.
Selain itu, penjajah Yahudi paham bahwa tidak ada institusi politik yang menyatukan negeri-negeri Islam dan bisa menggerakkan pasukan-pasukan kaum muslimin yang jumlahnya besar.padahal Jika saja dari 1,5 miliar umat Islam, 10 persennya saja menjadi pasukan militer, maka sudah menghasilkan jutaan tentara. Tentara-tentara ini didukung umat Islam dengan jihad fi sabilillah dalam rangka membebaskan Palestina.
Akar Persoalan
Bagi kaum muslim, akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini) sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek: (1) akidah/syariah Islam; (2) sejarah; (3) politik.
1. Aspek akidah/syariah (Keutamaan Al-Quds/Yerusalem).
Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum muslim. Di tanah ini berdiri Al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki Al-Quds.
Pertama: Tanah wahyu dan kenabian.
Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun Kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).
Kedua: Tanah kiblat pertama.
Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad SAW dan kaum muslim adalah Baitulmaqdis (Al-Quds) sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).
Ketiga: Masjidil Aqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi SAW untuk dikunjungi.
Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjidil Aqsa.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW pun bersabda, “Sekali salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 salat. Sekali salat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1.000 salat. Sekali salat di Masjidilaqsa sama dengan 500 salat.” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).
Keempat: Tanah Ibu Kota Khilafah.
Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di Al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di Al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar dari sana (Al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).
2. Aspek Sejarah
Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu hari.
Beliau bersabda, “Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…”
Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah bergerak menuju Balqa’, salah satu wilayah Syam. Di sana sudah menanti bala tentara Romawi yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan Herqel, seorang kaisar Romawi.
Sampailah detik-detik yang menegangkan: 3.000 pasukan kaum Muslim berhadapan dengan kekuatan besar berjumlah 200.000 pasukan. Saat itu, sebagian Sahabat berharap agar Rasul SAW mengirim tentara tambahan.
Namun, Abdullah bin Rawahah ra. memberikan semangat kepada seluruh pasukan sembari berkata, “Wahai kaum muslim, demi Allah… bersaksilah bahwa kita tidak berperang karena banyaknya pasukan. Kita tidak berperang melawan mereka kecuali atas nama Islam yang dengan itulah Allah telah memuliakan kita. Berangkatlah, berjihadlah! Sesungguhnya hanya ada satu pilihan bagi kita: menang atau syahid!”
Mendengar seruan ini, kaum muslim segera bangkit melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya walau dengan jumlah yang tidak seimbang.
Dalam pertempuran itu, panglima perang kaum muslim, Zaid bin Haritsah syahid, lalu diganti oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far pun syahid, kemudian tonggak kepemimpinan diserahkan kepada panglima Islam yang ketiga, Abdullah bin Rawahah. Beliau pun syahid. Akhirnya, pasukan Islam dipimpin Khalid bin Walid.
Perjuangan panjang dan melelahkan kaum muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).
Sayang, setelah dikuasai kaum muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib, dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan Al-Quds. Mereka membantai sekitar 30.000 warga Al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu (wanita, anak-anak, dan orang tua).
Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Shalahuddin al-Ayyubi sebagai komandan Pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali Al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099—1187).
3. Aspek politik
Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina.
Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin zionismenya dalam bukunya yang berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State).
Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.
Sebagai gerakan politik, zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan ideologi kapitalisme—yang berjaya dengan imperialismenya—sebagai kendaraan politiknya.
Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan negara-negara kapitalis dan imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat, sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.
Sejak awal pendiriannya, keberadaan negara Israel tidak lepas dari kepentingan negara-negara imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat. Peran Inggris dalam pembentukan negara Israel tampak nyata dalam Deklarasi Balfour, berupa surat dari kementerian luar negeri Inggris, Arthur James Balfour, kepada pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild pada 2 November 1917.
Surat ini menjadi dasar pengakuan Inggris terhadap keberadaan negara zionis di Palestina. Deklarasi ini pulalah yang diadopsi oleh LBB (Liga Bangsa-bangsa) untuk memberikan mandat resmi kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
Sebagai penguasa di Palestina, Inggris memiliki kepentingan besar untuk mendukung berdirinya negara Israel. Keberadaan negara Zionis di jantung Timur Tengah ini akan menimbulkan konflik dan ketidakstabilan di wilayah ini.
Dalam kondisi seperti ini, Inggris bisa lebih mudah menanamkan pengaruhnya di sana. Selain itu, krisis ini akan menyedot energi dan dana umat Islam dan mengalihkan upaya kaum muslim untuk menegakkan kembali Khilafah Islam yang dibubarkan tahun 1924 oleh Kemal Ataturk yang berkonspirasi dengan Inggris.
Kepentingan AS atas krisis Palestina juga sama, yakni sebagai media negara itu untuk menanamkan pengaruhnya, sekaligus untuk mengalihkan perhatian kaum muslim bahwa musuh sejati mereka adalah Amerika Serikat.
Eratnya hubungan zionisme dengan imperialisme Barat, terutama AS, dapat dilihat dari beberapa fakta berikut.
Semasa masih menjadi presiden, Bill Clinton (14/8/2000) pernah berkata, “Kami harus menjalin hubungan erat dengan Israel, sebagaimana telah saya lakukan sepanjang kekuasaan saya sebagai presiden dan sepanjang 52 tahun lampau.”
Pada awal-awal kekuasaannya sebagai presiden AS, George W. Bush, ketika mengucapkan selamat kepada Ariel Sharon dalam Pemilu tanggal 6/2/2001, juga menyatakan, “Amerika akan bekerja sama dengan semua pemimpin Israel sejak berdirinya pada tahun 1948. Hubungan bilateral kami sangat kokoh layaknya batu karang.”
Presiden AS Barack Obama, sejak awal kampanyenya untuk pemilihan presiden, juga mengungkapkan hal senada: dukungan total dan tanpa syarat terhadap Yahudi-Israel. Presiden AS Donald Trump juga menunjukkan dukungan serupa, bahkan sangat kuat terhadap Israel. Di antaranya dengan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Terakhir presiden terpilih terbaru yaitu Joe Biden juga menunjukkan dukungannya terhadap israel. Maka secara nyata pemimpin negara besar saat ini jelas memihak Israel.
Demikianlah sikap resmi Pemerintah AS terhadap Israel dari dulu hingga kini. Wajar jika berbagai kebijakan politik yang kotor dan kejam yang ditempuh Israel di Timur Tengah akan selalu mendapatkan dukungan dari AS. (sumber : MuslimahNews.com, ANALISIS)
Pentingnya Khilafah
Kaum muslim harus sadar bahwa isu Palestina adalah isu Islam. Dengan seluruh kenyataan di atas, cara satu-satunya bagi umat untuk memandang Palestina adalah melalui perspektif Islam.
Kita harus bekerja bersama umat untuk menyangkal seruan kepada kaum muslim dan para penguasa muslim, yang berusaha memberikan bingkai nasionalisme atas krisis Palestina; dari “isu Islam” berubah menjadi sekadar “isu Arab”, kemudian berubah lagi menjadi hanya “isu Palestina”, dan sekarang hanya menjadi “isu Gaza”.
Padahal, nasionalisme yang berbasiskan ‘ashabiyah sejatinya adalah ide jahat yang bisa menghancurkan umat (baca: HR al-Bukhari dan Muslim).
Kaum muslim tentu rindu melihat wilayah Palestina dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Agar hal ini bisa terlaksana, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin seluruh kaum muslim.
Rasulullah SAW telah bersabda, “Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung.” (HR Muslim)
Di sinilah pentingnya umat ini untuk serius dan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.
Hanya dengan Khilafahlah Palestina bisa dibebaskan dan dimerdekakan secara nyata. Karena itu, sungguh penting bagi kita merenungkan kembali pernyataan bernas dari Syekh Ahmad Yasin, sang “Amir Syuhada”, dalam salah satu kutipan khotbahnya:
“Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam, tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh dengan Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilihlah oleh Anda: Allah atau binasa!”
‘Ala kulli hal, seluruh komponen bangsa ini sejatinya peduli dengan krisis Palestina. Jika tidak, kita sesungguhnya telah “berkhianat” kepada bangsa Palestina, saudara sesama muslim; kepada Umar bin al-Khaththab ra. yang telah membebaskan Tanah Palestina untuk pertama kalinya; kepada Sultan Abdul Hamid II dan para khalifah yang beratus-ratus tahun mempertahankan Bumi Palestina; kepada Syekh Ahmad Yasin dan para syuhada yang telah mempersembahkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan Palestina; bahkan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang telah menetapkan Palestina sebagai tanah wakaf milik kaum muslim.
Karena itu, marilah kita mengakhiri “pengkhianatan” kita, dengan terus berupaya memerdekakan Palestina hingga benar-benar merdeka, tentu dengan kemerdekaan yang sejati! ***
Wallahu a’lam bi ash-shawab.

