Oleh: Sari Ramadani (Aktivis Muslimah)
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Itu adalah salah satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Presiden RI pertama, yaitu Ir. Soekarno yang sampai saat ini masih sering dijadikan kalimat andalan untuk membakar api semangat para pemuda. Kalimat ini memberikan gambaran bahwa betapa luar biasanya kekuatan dan peranan pemuda untuk memajukan dunia.
Dalam pergerakan global yang semakin kompetitif, seorang mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki wawasan dan kecakapan dalam bidang keilmuannya.
Mahasiswa juga diharapkan memiliki keterampilan tambahan dan soft skill, terutama jiwa kepemimpinan, untuk dapat menghadapi dunia kerja. Salah satu cara yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan adalah dengan mengikuti organisasi yang bergerak di bidang tersebut, seperti AIESEC.
AIESEC merupakan organisasi internasional kepemudaan yang bergerak di bidang kepemimpinan sejak 1948. AIESEC memiliki visi mulia yaitu memberdayakan pemuda untuk mencapai perdamaian dan pemenuhan potensi manusia, atau dalam bahasa keren AIESEC yaitu “We strive to achieve Peace and Fulfillment of Humankind’s Potential”.
AIESEC sendiri tersebar di berbagai belahan dunia tepatnya di 114 negara dan dijalankan oleh lebih dari 31.537 anggota di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, AIESEC terdapat di 24 universitas, salah satunya di Universitas Sumatera Utara, yang lebih dikenal sebagai AIESEC in USU (sumut.idntimes.com, 01/12/2020).
Ada banyak peristiwa yang melibatkan para pemuda sebagai pemeran utama yang kemudian dianggap menjadi catatan penting dalam sejarah peradaban dunia. Peran para pemuda pun tidak hanya terbatas dalam aktivitas belajar di kampus saja, akan tetapi para pemuda ini juga aktif dalam organisasi-organisasi kepemudaan. Hingga saat ini sering kita lihat ada beberapa pemuda yang juga sukses di berbagai bidang yang mereka tekuni, baik itu sebagai pengusaha, politisi, hingga menjadi menteri. Tentu ini menunjukkan bahwa pemuda memang memiliki kekuatan yang dipercaya mampu memberikan kontribusi besar dalam perkembangan dunia.
Dalam menjalankan perannya, yaitu sebagai agent of change maka para pemuda yang sekaligus seorang mahasiswa ini harus mengoptimalkan segala macam potensi yang ada dalam dirinya, termasuk juga harus memiliki jiwa kepemimpinan karena para pemimpin masa depan dilahirkan dari pemuda masa kini. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan dan juga bimbingan kepada para pemuda, sebab potensi tersebut bila dibina, di berikan bimbingan, serta terus diasah maka, akan terbentuk pula jiwa kepemimpinan tersebut pada para pemuda yang sekaligus mahasiswa ini.
Untuk itu, Universitas Sumatera Utara yang juga bekerja sama dengan AIESEC yang merupakan organisasi tingkat internasional kepemudaan yang bergerak dibidang kepemimpinan ini pun berusaha untuk merekrut para mahasiswanya agar mau bergabung dengan organisasi kepemudaan AIESEC ini. Yang mana diharapkan agar setiap mahasiswa selain memiliki wawasan dalam bidang keilmuannya, juga memiliki keterampilan tambahan dan soft skill, terutama jiwa kepemimpinan.
Di dalam Islam, pemuda adalah generasi penerus yang diharapkan dapat melanjutkan estafet kepemimpinan Islam, di mana sosok pemuda diharapkan dapat melanjutkan perjuangan dari generasi sebelumnya.
Golden age of Islam, ditandai dengan kemajuan dalam berbagai bidang. Yang mana pada masa itu, para pemuda banyak memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan peradaban. Hingga sejarah pun mencatat banyak pemuda yang sampai detik ini masih cocok dijadikan inspirasi karena memiliki andil dalam memuliakan Islam.
Seperti generasi sahabat yang dikenal dengan generasi terbaik, juga Sultan Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel yang menjadi jawaban dari bisyarah Rasulullah yang tertera pada hadistnya yaitu “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanval Al-Musnad).
Hingga Salahudin Al-Ayubi, beliau adalah seorang pemuda yang telah berhasil mengembalikan Baitul Maqdis ketangan kaum muslimin. Dan masih banyak pemuda muslim yang memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan peradaban Islam. Hal ini pun menunjukkan bahwa barisan kaum muda adalah agen of change dan berkontribusi besar pada kejayaan Islam yang menjadi gerbang tersebarnya Islam ke Eropa. Karena itulah Nabi SAW mengingatkan kaum Muslim untuk menjaga masa muda mereka sebaik-baiknya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu…” (HR Al-Baihaqi).
Berbeda halnya dengan sistem Demokrasi – Kapitalisme yang melahirkan pemikiran sekuler pada hari ini, yang mengakibatkan para pemuda-pemudinya hanya disibukkan dengan “eksistensi diri” agar mendapat banyak pujian yang dengan itu mudah untuk mendapatkan keuntungan untuk diri sendiri tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan bagi orang lain.
Padahal pemuda cerdas tak akan tergoda dengan angan-angan kosong tanpa mengetahui alasan mendasar diadakannya program-program yang katanya ingin membentuk jiwa kepemimpinan seperti AIESEC sekelas tingkat Internasional ini. Yang mana, program seperti ini memiliki maksud terselubung yaitu salah satunya adalah untuk menyisipkan pemikiran-pemikiran ala “kafir barat” yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan di segala aspek kehidupan tanpa memikirkan halal-haram yang sudah otomatis bertentangan dengan Islam. Yang tujuannya agar para pemuda muslim jauh dari agamanya hingga para pemuda ini pun tak lagi memikirkan bagaimana mengembalikan kemuliaan Islam dalam naungan Daulah Khilafah dan agar para pemuda-pemudi muslim pun bangga dengan “produk pemikiran” ala “kafir barat” serta agar mereka pun lupa bahwa “kafir barat” adalah musuh Islam yang sesungguhnya. Dan pada akhirnya tak akan lahir generasi penakluk Roma.
“Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan Al-Hakim).
Konstantinopel sudah ditaklukkan oleh Muhammd Al-Fatih, maka PR umat Islam saat ini untuk mewujudkan penaklukkan Roma. Jika Konstantinopel ditaklukkan oleh manusia dengan kualitas yang luar biasa seperti Muhmmad Al-Fatih, maka tugas umat muslim saat ini yaitu mempersiapkan generasi penakluk seperti para pemuda muslim pada masa itu, hingga nanti nya Allah kehendaki untuk menaklukkan Roma dan juga mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.
Ingatlah bahwa janji Allah itu pasti benar dan Rasulullah tak pernah bohong. Tugas umat Islam sebagai hamba Nya adalah memantaskan diri untuk menjemput janji Nya dan mempersiapkan generasi terbaik untuk merealisasikan janji tersebut, karena umat Islam adalah umat terbaik yang memiliki sumbangsih besar terhadap peradaban dunia tanpa butuh pengakuan dari siapa pun.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110).
Dan semua hal ini hanya bisa diwujudkan dalam sistem Islam yang sempurna yang berasal dari Allah SWT. ***
Wallahualam Bissawab.

