Oleh : Nailah
Pernikahan adalah hal yang paling diidam-idamkan oleh para wanita yang masih sendiri dan berharap dengan menikah maka kehidupannya akan lengkap dan bahagia. Disisi yang lain, wanita yang sudah menikah dan mendapati kehidupan rumah tangga nya yang semrawut dengan segala persoalan berharap untuk bisa memutar waktu sehingga pernikahan itu tidak perlu terjadi.
Setiap pagi terdengar teriakan histeris dari rumah sebelah menyuruh anaknya untuk mandi pagi dan bergegas dengan segala aktifitasnya tapi si anak seakan tak bertelinga. Hati kesal si ibu berujar andaikan tak punya anak tentu hidupnya akan lebih baik dan menyenangkan. Ga harus putus urat leher teriak setiap pagi dan tentunya akan punya banyak waktu untuk me time. Di rumah yang lain, hal yang sangat berbeda terjadi dimana senyap dan keheningan mencekam, tiada keributan yang berarti setiap pagi bahkan sepanjang hari hingga malam menjelang. Hal ini karena tak ada anak-anak di rumah itu, hanya sepasang suami istri yang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Pergi pagi pulang sore bahkan malam. Mereka berharap kehadiran seorang anak untuk menceriakan rumah mereka senakal apapun anak itu mereka siap menerima.
Di sudut kota yang lain, sepasang suami istri sedang berdiskusi dengan sangat serius. Mereka sedang mendiskusikan kemana mereka akan tinggal karena kontrakan rumah yang mereka tempati sekarang sebentar lagi jatuh tempo dan harga kontrakan naik. Mereka dak berkemampuan untuk itu. Berharap suatu hari mereka akan memliki rumah besar sehingga tak harus pusing dengan urusan kontrakan rumah untuk tinggal tentu itu akan sangat melegakan dan membahagiakan mereka. Sedangkan di sebelah rumah kontrakan mereka berditi megah saru rumah yang selalu kosong ditinggalkan oleh pemiliknya karena pemiliknya ditugaskan untuk kerja di daerah terpencil. Mereka memiliki rumah mewah tapi tak menikmatinya karena harus berada di daerah terpencil demi sebuah tugas dan pengabdian.
Masih banyak lagi contoh kontras kebahagian yang diharapkan setiap insan yang kadang kebahagian itu menjadi kebahagian seseorang tapi musibah bagi yang lain. Diharapkan bagi yang satu tapi ditolak bagi yang lain. Dipuja oleh sebagian orang tapi dicampakan oleh sebagian yang lain. Merujuk dari ulasan diatas, seakan tak ada standard bahagia itu bagi setiao individu di dunia ini. Tak ada gambaran yang jelas tentang kebahagiaan yang hakiki yang dapat dimiliki dan dirasakan sepanjang hidup. Lalu alangkah sengsaranya hidup ini bila harus dilalui tanpa bahagia. Jadi apa yang menjadi barometer kebahagaian hidup ini sesungguhnya sehingga setiap insan merasakan kebahagiaan yang sebenar-benar kebahagiaan yang membuat kita dalam keadaan suka cita, tentram hati, nyaman jiwa sepanjang masa kehidupan.
Di zaman kapitalis ini, memang sulit untuk menakar kebahagiaan karena segala hal diteropong dengan materi. Juga tidak ada standard baku atas kebahagiaan itu sendiri ditambah lagi dengan pemisahan kehidupan dengan agama dimana ketika seseorang menajalani hidupnya tidak menggunakan standard agama sebagai peneduh resah hati dan pegangan dalam menjalani hidup yang sesuai fitrah manusia. Yang ada adalah keakuan diri yang merasa mampu untuk merentas segala kesulitan hidup dengan cara pandangnya sendiri dan dengan kemampuan akalnya sendiri untuk berpikir, namun sayangnya akal yang diandalkan itupun tidak dilengkapi dengan ilmu yang memadai untuk memikirkan solusi dalam menemukan kebahagian kehidupannya.
Berbeda dengan kehidupan dalam Islam dimana segala hal yang dilakukan itu adalah kesatuan dari agama dan kehidupan itu yang padu sehingga terjadi keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Dan kebahagiaan dalam Islam tidak diukur dari materi dan kebendaan lainnya tapi diukur dengan rasa kebersyukuran kita atas segala nikmat dan limpahan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT yang diberikan kepada kita dan kita menyadari bahwa hidup kita ini ada yang mengatur dan tentu kita harus patuh dan menerima pengaturan itu meski tak berkesesuaian dengan apa yang kita inginkan. Dan dunia bukanlah tempat untuk bersenang-senang tapi untuk berlelah-lelah mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak dan untuk itu sepanjang kehidupan kita di dunia ini adalah masa ujian untuk meluluskan kita menempati tempat terbaik di surga kelak. Jadi, bahagia dalam Islam itu tidaklah sesulit yang dibayangkan karena tujuan akhir adalah untuk mendapatkan ridho Allah SWT dan untuk itu kita seyogyanya melakukan segala hal untuk mendapatnya baik dengan menghadapi segala ujian ataupun segala kemudahan dalam hidup. Sulit atau mudah, sedih ataukah bahagia itu terletak pada pemikiran kita bukan pada hati dimana bila pemikiran kita sudah mengarah pada satu yang Haq maka apapun yang dihadapi tentu akan menjadikan kita tetap bahagia meski dalam kesedihan yang mendalam karena kesedihan yang kita terima dengan ridho akan menghantarkan kita pada kebaikan di dunia dan akhirat. Hanya keimanan yang membuat seseorang mampu menyikapi kesedihan dengan bijaksana. Ia akan melewatinya dengan penuh kesabaran.
Tunduk bersimpuh di hadapan Allah. Mengadu dan berharap hanya kepada-Nya. Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah-lah yang menghadirkan kebahagiaan dan kesedihan. Sambil terus berusaha keluar dari kesedihan. Firman-Nya, dalam QS an-Najm:43 yang berbunyi :
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
Artinya : Dan bahwasannya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
Itu artinyanya bahwa Sesungguhnya Allah membuat tertawa siapa yang Dia kehendaki dan membuat menangis siapa yang Dia kehendaki.
Juga dalam firman-Nya dalam QS. Al-Insyiroh : 1-8 yang berbunyi :
اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَـكَ صَدۡرَكَۙ
1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?
وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَۙ
2. dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,
الَّذِىۡۤ اَنۡقَضَ ظَهۡرَكَۙ
3. yang memberatkan punggungmu,
وَرَفَعۡنَا لَـكَ ذِكۡرَكَؕ
4. dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
5. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ
6. sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡۙ
7. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ
8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
Wallahu alam….

