Oleh : Irohima
Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir tentu membawa tekanan tersendiri. Menjalankan aktivitas sehari hari dalam intaian bahaya Covid-19 seakan-akan sudah menjadi sesuatu yang tak terelakkan lagi. Segala upaya yang dilakukan tak jua bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 saat ini. Berbagai kebijakan hanya tinggal kebijakan, ketidakdisiplinan, dan pelanggaran tetap saja berjalan.
Imbauan untuk mengingat Allah SWT dengan banyak berzikir dan beristighfar disertai taubat kemudian diserukan dengan harapan Virus Corona segera hilang. Seruan untuk beristighfar dan berzikir secara jelas disampaikan oleh Presiden dalam acara pembukaan Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor. Dalam acara tersebut Presiden juga mengimbau untuk banyak banyak bersedekah, mengingat banyaknya rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi akibat dampak dari Covid-19.
Kondisi pandemi yang belum memperlihatkan tanda-tanda mereda memang membawa kita pada kondisi dimana kita hanya bisa berharap akan pertolongan Allah semata dan merindu asa di tengah situasi yang tidak menentu dan periayahan yang rancu.
Melihat berbagai kisah akhir dari banyaknya kebijakan yang diterapkan, telah jelas menggambarkan bahwa solusi yang selama ini dijalankan sama sekali tak memberi pengaruh yang nyata dalam menangani wabah. Harusnya kondisi ini membuat kita mawas diri dan introspeksi.
Beristighfar dan berdzikir adalah aktivitas yang biasa dilakukan oleh sebagian besar umat Islam dalam kehidupan, terlebih saat pandemi. Umat haruslah lebih intens lagi dalam meminta pertolongan Allah SWT. Namun perlu diingat bahwa Islam mengajarkan taubat sebagai bagian dari ketaatan total hingga bukan hanya taubat yang harus dijalankan melainkan seluruh perintah syariat. Tak bisa kita mengharapkan pertolongan Allah SWT jika hanya dengan mengerjakan salah satu syariat saja sementara syariat lain diabaikan. Menjadi muslim haruslah secara kaffah atau keseluruhan.
Memperbanyak zikir, istighfar dan taubat serta sedekah juga harus disertai usaha yang maksimal dalam menangani wabah. Belum redanya pandemi bisa jadi dikarenakan solusi yang dicari tak merunut pada aturan Ilahi dan tentu tak akan pernah bersinergi.
Memakan makanan haram dengan mengucap basmalah, mungkin begitulah kondisi kita saat ini. Mengeluarkan kebijakan yang sering bertentangan dengan kepentingan rakyat, mengabaikan keselamatan nyawa rakyat bahkan lebih parah lagi mengabaikan syariat dan diujung cerita menyerukan istighfar, dzikir, taubat, dan sedekah sebagai langkah pamungkas untuk mematikan virus yang ganas. Jelas itu tak sejalan. Di satu sisi kita tak meneladani solusi yang dicontohkan Baginda Nabi, namun di sisi lain kita mengharap pertolongan Ilahi Rabbi.
Dalam menghadapi pandemi, istighfar, zikir dan sedekah sebagai ikhtiar batin harusnya selaras dengan berbagai penerapan kebijakan sebagai ikhtiar lahir atau fisik.
Sudah sering disampaikan tentang solusi yang ditawarkan Islam dalam menyikapi pandemi, mulai dari Rasulullah SAW hingga Khalifah Umar bin Khattab yang telah memberi contoh pada saat wabah melanda daerah Awamas, sebelah barat Yerussalem Palestina yang merebak sampai ke wilayah Syam. Saat itu beliau lebih memilih menghindari daerah wabah. Khalifah bukan lari dari takdir melainkan memilih takdir yang lain karena dalam Islam Rasulullah SAW selalu mengajarkan untuk memperhitungkan segala sesuatu sebelum melakukan tindakan. Umar pun memerintahkan Amr bin Ash untuk membantunya dalam mengatasi wabah. Dan dengan segala kecerdasan Amr bin Ash serta izin Allah SWT, wabah akhirnya bisa reda bahkan hilang dengan menerapkan karantina atau lockdown ala Islam dan juga dengan support negara dalam mengantisipasi berbagai kendala selama karantina.
Istighfar, dzikir dan bersedekah adalah bentuk ibadah yang sangat disukai Allah SWT. Semakin sering seorang hamba melakukan aktivitas yang disukai Allah SWT maka semakin dekat dia dengan Allah SWT. Kedekatan hamba dan Allah SWT inilah yang memungkinkan pertolongan akan segera datang dan juga memungkinkan perlindungan dari segala marabahaya termasuk virus corona. Dan kedekatan kepada Allah SWT hanya bisa dicapai dengan menjalankan seluruh syariat-Nya, taat kepada-NYA secara total serta ikhlas menerima segala ketentuan-Nya. ***
Wallahu alam bisa shawab

