Oleh: Dessy Purmai (Ibu Peduli Generasi)
Sebanyak 500 pelajar di Balikpapan berkontribusi dalam kegiatan bertajuk “Sosialisasi Moderat Sejak Dini” yang mengangkat tema “Cinta Tuhan dengan mencintai Indonesia” pada Rabu detikhikmah.com(11-09-2024).
Ibu Iriana Jokowi, ibu Wury Ma’ruf Amin, dan sejumlah istri menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) turut hadir yang juga tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) KIM.
Ratusan pelajar lintas agama ini berasal dari sekolah madrasah aliyah dan SMA se-Kota Balikpapan yang bernaung di bawah Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Istri menteri agama Yakut Cholil Qoumas, ibu Eny Retno Yakut mengatakan bahwa kegiatan ini sengaja menyasar kalangan pelajar sebagai upaya penanaman nilai-nilai moderasi beragama sejak dini.
Moderasi beragama kali ini menyasar pelajar muslim di institusi pendidikan. Kegiatan tersebut sesuai pesanan Barat dan ditujukan untuk menangkal ide radikalisme di kalangan pelajar. Jelas yang dimaksud adalah organisasi pengemban risalah Islam ideologis yang dipandang sebagai musuh ide kapitalisme, agar generasinya bahkan seluruh umat kembali kepangkuan Islam nan lurus.
Pengarusutamaan ide moderasi beragama mempunyai tujuan memoderasi generasi agar memiliki profil moderat dalam beragama. Moderat dalam hal ini tidak ekstrem dalam beragama, mengambil jalan tengah, selalu bersikap toleransi antar budaya serta agamanya (Islam).
Sebenarnya ide moderasi beragama adalah langkah-langkah Barat dalam mempertahankan hegemoni kapitalisme atas negeri-negeri kaum muslim. Dengan demikian ide-ide kapitalisme tetap eksis di benak umat Islam. Praktik penjajahan dan penjarahan kekayaan alam di seluruh wilayah negeri ini dapat berjalan sesuai keinginan para kapital. Sejatinya moderasi beragama yang diopinikan secara masif adalah salah satu strategi barat dalam menguasai kekayaan alam milik Indonesia.
Haruslah dipahami kapitalisme adalah sebuah ideologi yang dibangun atas dasar pemikiran manusia. Ideologi ini sekuler karena memisahkan aturan Allah dari kehidupan manusia. Sehingga manusia sah-sah saja membuat hukum. Jika sudah demikian sistem kehidupan ini diatur dengan keinginan manusia yang penuh dengan hawa nafsu. Manusia bebas berpindah akidah, bebas berpendapat, bebas mendapatkan hak milik atas harta dan sebagainya.
Dalam sistem kapitalisme yang berkuasa adalah para kapital atau para pemilik modal. Mereka dengan leluasa menguasai sumber-sumber kekayaan yang ada di negeri-negeri kaum muslim. Seperti keberadaan SDA Indonesia yang telah dikuasai kapitalis selama bertahun-tahun seperti: Freeport, Chevron Pacific Indonesia, ExxonMobil, dan sebagainya.
Berbeda sekali dengan sistem Islam yang benar-benar menjadikan potensi pemuda sebagai modal untuk membangun peradaban Islam, sebut saja Mush’ab bin Umair yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk Madinah saat berusia 22 tahun dan menjadi duta di sana, Zaid bin Tsabit pada saat usia 16 tahun ia ditugaskan menjadi penulis dan penerjemah surat-surat Rasul yang kemudian dikirimkan ke wilayah luar Arab.
Ada juga Shalahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih yang kisah perjuangannya masih masyhur hingga detih ini. Tak dapat dipungkiri, mereka pastilah para pemuda yang memanfaatkan waktunya untuk menuntut ilmu, menghafal Alquran, melakukan penemuan/eksperimen yang nantinya akan bermanfaat untuk umat.
Terbukti, hanya sistem Islam-lah yang mampu melahirkan tonggak-tonggak peradaban yang tangguh, produktif, dan peduli umat. Maka dari itu, mari kita bersama-sama mengambil peran dalam upaya penerapan sistem Islam secara kaffah. terlebih bagi para pemuda, kita harus bangga akan identitas kita sebagai pemuda muslim, karna sejatinya, pemuda muslim adalah penggerak perubahan, pembela agama, dan pemuda muslim saat ini, adalah pemimpin masa depan. Wallahu a’lam.

