Oleh: Analisa
Musim penghujan telah datang, dibarengi dengan pasang air sungai naik signifikan, mengakibatkan daerah-daerah yang berdekatan dengan sungai waspada kebanjiran. Ancaman longsor terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing, atau lereng serta dibawah perbukitan tidak kalah waspada dikhawatirkan longsor tiba-tiba melanda.
Seperti dilansir dari laman Pikiran Rakyat, 17 Oktober 2020. Beberapa daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) tengah diguyur hujan besar dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui satelit cuaca, peningkatan curah hujan pun memang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di Sumsel.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten, Nandang Pangaribowo mengatakan, curah hujan di 17 kabupaten/kota di Sumsel mengalami peningkatan sekitar 200-300 mm juga disertai angin kencang.
Warga diimbau untuk terus berhati-hati dan waspada apabila hujan turun deras disertai banjir air sungai. Karena intensitas hujan cukup deras disertai dengan petir dan angin kencang, dan air sungai pun meluap cukup tinggi.
Faktor penyebab banjir disebabkan karena rusaknya ekosistem hutan dan maraknya pembabatan liar, menjadikan hutan pencegah longsor berubah alih menjadi pusat bisnis dan pemukiman perumahan. Belum lagi dtambah tumpukan sampah yang berserakan di berbagai tempat di sudut kota bahkan di pedesaan. Hal ini membuktikan adanya kelonggaran hukum dari pihak pemerintah dalam pengawasan dan perlindungan hutan serta kebersihan wilayah pemukiman.
Firman Allah SWT sangat menyentuh hati dan pikiran kita seperti dalam surah Ar Rum:41
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Berbagai kerusakan atau bencana yang terjadi merupakan ulah tangan manusia, yang serakah dan tidak mengindahkan aturan sang pencipta. Mengabaikan semua aturan dan melanggengkan semua perintah Allah SWT.
Seharusnya, pemerintah setempat dapat menanggulanginya dengan sigap dan cekatan. Walaupun curah hujan tinggi namun harus ada kesiapan dari pemerintah dalam membuat bendungan-bendungan yang cukup besar agar bisa menampung air yang banyak, serta harus ada keseriusan dalam upaya pencegahan pembabatan hutan yang membabi buta.
Buah dari kapitalis telah nyata merusak aset alam yang seharusnya dijaga dan dilindungi. Namun sebaliknya, malah dimusnahkan dan dirusak demi hawa nafsu dunia. Tidak sampai di situ para pemangku kekuasaan dengan gampangnya meraup keuntungan dengan alasan investasi demi menyelamatkan negeri. Nyatanya itu hanya utopis dan berujung kekecewaan. Rakyat hanya dijadikan obyek, sementara pemerintah sendiri bertindak laksana korporasi atau perusahaan, bukan pelayan dan pengayom.
Dalam Islam, sumber daya alam dijaga dan digunakan dengan semestinya. Kekayaan alam yang ada di daerah harusnya difungsikan sebagaimana mestinya.
Dalam sistim Khilafah sumber daya alam difungsikan dengan baik, serta memberikan pencegahan agar bencana alam dapat teratasi dengan cara yang baik pula. Seperti pembangunan sungai buatan, kanal, saluran drainase yaitu untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalirkan aliran air, membangun sumu-sumur resapan di daerah tertentu, sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan, pembentukkan badan khusus untuk penanganan bencana alam, persiapan daerah-daerah tertentu untuk cagar alam. Sosialisasi dan kebijakan atau persyaratan tentang izin pembangunan yang menyangkut tentang pembukaan pemukiman baru, dengan begitu kewaspadaan kita dapat teratasi.
Saatnya kita beralih untuk tidak lagi berpusat pada sistem yang salah. Kembali kepada aturan Sang Pencipta, dengannya kita dapat mengelola hasil ciptaannya dengan baik dan benar sesuai dengan kebutuhan manusia. Selain itu hidup kita tidak selalu dirundung kekhawatiran apabila di musim penghujan tiba, malah menjadikan kita semakin taat dan lebih dekat kepada-Nya. ***
Wallahu a’lam bishowabb.

