Kliksumatera.com Lahat — Menindaklanjuti hasil penelitian “Melokalisasi Transisi Energi yang Adil: Memberdayakan Perempuan dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan” yang difokuskan di Kabupaten Lahat, Yayasan Mitra Hijau menggelar diskusi lanjutan bersama sejumlah komunitas dan pelaku UMKM, guna merumuskan langkah konkret yang dapat segera diimplementasikan di tingkat lokal.
Bertempat di Hungary Pedia Warkop Naik Kelas pada
Hadir sebagai narasumber Dr. Doddy Surachman (Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau), didampingi oleh Ressy Tri Mulyani (Koordinator Sumsel) dan Dwi Annisyah (Asisten Koordinator). Peserta diskusi terdiri dari perwakilan Lingkar Hijau, Anak Padi, Gerabah Kebur, Tenun Banjarsari, UMKM UT, serta TP3R.
Dr. Doddy Surachman menegaskan bahwa diskusi ini menjadi bagian penting untuk menyusun langkah strategis pasca pertemuan dengan Bappeda, DLH, dan BKSDA.
“Tujuan utama kita adalah memastikan bagaimana kekayaan alam dan lingkungan yang ada hari ini masih bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Untuk itu diperlukan ide, inovasi, dan terobosan baru yang berbasis kearifan lokal serta melibatkan peran aktif masyarakat, khususnya perempuan,” ujarnya.
Dr Dody menekankan bahwa transisi energi yang adil tidak hanya berbicara soal peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan, tetapi juga tentang keadilan sosial, ekonomi, serta keberlanjutan penghidupan masyarakat. UMKM, kelompok perempuan, dan komunitas lokal harus menjadi aktor utama dalam proses ini.
Sementara itu, Ressy Tri Mulyani selaku Koordinator Sumsel menyampaikan bahwa hasil penelitian menunjukkan besarnya potensi Kabupaten Lahat dalam mengembangkan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
“Kita memiliki kekuatan pada sektor kerajinan, pertanian, pengelolaan sampah, dan UMKM kreatif.
Semua ini bisa diintegrasikan dengan konsep transisi energi yang adil, sehingga tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Ressy kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping menjadi kunci utama keberhasilan program.
“Diskusi ini menjadi ruang untuk menyatukan ide, dan merancang program yang aplikatif misalnya pelatihan Rosting Kopi, pembukaan Pempek, serta bagaimana penjualan digital marketing agar hasil penelitian tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,”
Hal senada dikatakan Dwi Annisyah menjelaskan bahwa pendampingan teknis dan penguatan kapasitas komunitas akan menjadi fokus ke depan, mulai dari pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, pengembangan produk ramah lingkungan, hingga penguatan peran perempuan dalam ekonomi lokal.
Diskusi ini berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta, mulai dari pengembangan kerajinan berbasis limbah, penguatan UMKM ramah lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan skala kecil, hingga perlunya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Diharapkan melalui diskusi ini, terbangun sinergi nyata antara komunitas dan pemangku kebijakan, sehingga Kabupaten Lahat dapat menjadi salah satu contoh praktik baik dalam mewujudkan transisi energi yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat Kabupaten Lahat.
Laporan wartawan Novita

