Oleh : Irohima
Banyak orang mendambakan meninggal dalam keadaan husnul khatimah, karena itulah impian setiap muslim agar kelak bisa selamat di akhirat, namun apa jadinya jika kita meninggal dalam keadaan mengenaskan. Terlebih bila meninggal saat melakukan kemaksiatan, seperti saat mencuri atau mendadak meninggal saat sedang berjoget menikmati alunan musik remix di sebuah acara orgen tunggal, realitas ini sungguh menyedihkan.
Baru-baru ini viral seorang remaja 17 tahun yang tewas mendadak saat sedang menikmati hiburan orgen tunggal di Desa Pulauan, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dalam video yang beredar, terlihat beberapa remaja asyik berjoget namun kemudian terlihat mobil ambulans. Setelah ditelusuri, rupanya korban yang ikut berjoget mengalami kejang secara tiba-tiba dan saat dibawa ke Puskesmas Pangkalan Lampam, korban dinyatakan telah meninggal dunia, meski belum dinyatakan secara pasti penyebab kematian korban karena pihak keluarga juga menolak korban diautopsi namun banyak warga sekitar menduga bahwa korban meninggal karena overdosis (TribunSumsel, 26/11/2024). Menyikapi peristiwa tersebut, pihak Polsek Pangkalan Lampam mengimbau masyarakat untuk melaksanakan hajatan pada siang hari saja. Di mana izin yang diberikan pihaknya hanya sampai pukul 16.00 WIB.
Kasus remaja meninggal di Desa Pulauan saat acara orgen tunggal sebuah hajatan bukanlah kasus yang pertama kali terjadi, kasus seperti ini banyak terjadi, terlebih di daerah-daerah di luar perkotaan. Meski pemerintah telah memberikan batasan waktu hajatan atau pesta perayaan dan larangan memutar lagu remix saat acara, tetap saja aturan ini kerap diabaikan. Adanya kasus seperti ini yang terus berulang telah membuktikan bahwa regulasi/kebijakan yang diterapkan tidak bisa menjadi solusi yang tepat. Bahkan terkadang, regulasi yang telah ada justru sering disiasati. Regulasi yang ada harusnya diimbangi dengan perubahan mendasar secara sistemik, tanpa perubahan yang mendasar, persoalan tak akan usai malah cenderung menimbulkan permasalahan baru.
Masih banyaknya kasus serupa yang muncul tak lepas dari pengaruh budaya sekuler liberal. Dalam kehidupan sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, kebebasan berperilaku dianggap sebagai hal yang harus dijunjung tinggi karena merupakan bagian dari HAM. Hidup sesuka hati dan menginginkan segala hal dengan bebas tidak terbatas tanpa peduli akan kerusakan yang timbul atau melanggar nilai-nilai kehidupan bahkan agama sekalipun.
Adanya pengaruh budaya sekuler liberal inilah yang menjadi penyebab terbiasanya masyarakat mengadakan acara hiburan musik remix saat hajatan, di mana acara ini sering terkait dengan aktivitas narkoba, miras bahkan kriminal. Dan yang lebih menyedihkan, pemuda saat ini telah tergerus arus liberalisasi, di mana hiburan menjadi tujuan utama dan memandang hidup hanya sebatas Have fun. Berbagai kebijakan telah diterapkan demi mengatasi persoalan ini, namun alih-alih hilang, justru persoalan ini menjadi makin berkembang. Sanksi yang diberikan kepada pelanggar peraturan juga tak menimbulkan dampak yang signifikan, hukum yang kurang tegas membuat masyarakat yang menjadi pelaku pelanggaran tak memiliki rasa takut hingga selalu mengulangi hal yang sama. Terbukti, negara dalam sistem sekuler tak berdaya dan gagal dalam memberantas semua kerusakan.
Perlu diketahui, rusaknya generasi saat ini sudah sedemikian parah dan harus segera diselesaikan oleh negara sebab negara bertanggung jawab atas semua persoalan yang membelit warganya termasuk persoalan hiburan orgen tunggal yang merajalela, butuh sebuah sistem yang mumpuni dan butuh seorang pemimpin yang benar-benar peduli untuk membebaskan rakyat dari jalan yang sesat.
Satu-satunya sistem yang mampu membawa rakyatnya pada keselamatan serta menjadikan pemuda sebagai generasi yang membanggakan hanyalah Islam. Dalam Islam, para pemuda adalah generasi penerus perjuangan, oleh sebab itu tumbuh kembang para pemuda begitu diperhatikan. Dalam upaya mencetak generasi gemilang, ada beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain menanamkan keimanan yang kuat sejak dini. Mengenalkan syariat Islam termasuk adab dan akhlak mulia, mengasah akal generasi agar memiliki pemikiran dan pemahaman tentang Islam secara benar agar mampu menghadapi tantangan arus globalisasi, budaya, informasi dan teknologi, dan memberikan contoh teladan yang baik bagi anak-anak.
Dengan memiliki pemahaman yang benar tentang Islam di bawah naungan sistem yang melahirkan setiap kebijakan berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah maka output generasi yang tercipta adalah generasi yang cerdas lagi bijaksana. Generasi yang mampu memilah, yang taat akan Rabb-nya dan akan memandang kehidupan lebih dari sekedar bersenang-senang mencari hiburan saja.
Wallahualam bis shawab

