Lembah hijau Kampung Algonik, Distrik Piramid, pada pagi ini terasa menusuk. Angin dingin khas Papua Pegunungan menusuk tulang, membawa serta aroma tanah basah dan semangat yang tak pernah padam. Di kejauhan, Gunung Jayawijaya menjulang, menjadi saksi bisu setiap tetes keringat yang jatuh. Baju lorengku terasa basah, bukan hanya oleh embun pagi, tetapi juga oleh gejolak bangga dan haru yang membanjiri dada.
Kuhela napas dalam-dalam, mengusir dingin dan rasa lelah. Sementara kaki ini terus melangkah, menyusuri Rumah Sederhana Sehat (RSH) yang baru selesai kami bangun. Keraguan muncul sesaat. Apakah kerja keras kami ini benar-benar menyentuh jiwa? Apakah ini akan mengubah nasib mereka?
Namun, keraguan itu sirna ketika kulihat Ibu Reni Wenda tersenyum. Senyumnya lebih hangat dari matahari pagi.
Tanpa sadar, aku, Letkol Arh Reza Ch. A. Mamoribo, S.E., M.Han., Dansatgas TMMD Ke-126 Kodim 1702/Jayawijaya, menyunggingkan senyuman. Keraguanku sirna. “Ayo semangat, kita tuntaskan sisa penanaman pohon dan penyuluhan hari ini!” ajakku pada ratusan anggota Satgas TMMD, yang langsung berbalas teriakan semangat khas prajurit di ketinggian.
Hadiah Tak Ternilai Ibu Reni
Ingatanku pun kembali terbang ke masa sebelum TMMD, sebelum kami mulai membangun di Kampung Algonik. Di sana, kami bertemu Ibu Reni Wenda, seorang ibu rumah tangga yang selalu tersenyum meski hidup dalam keterbatasan.
”Setiap kali hujan, kami harus mengungsi ke rumah tetangga,” kenangnya dengan nada sedih. ”Anak-anak sering sakit karena kedinginan. Saya selalu berdoa agar suatu hari kami bisa punya rumah yang lebih baik.”.
Doa Ibu Reni kini telah menjadi kenyataan melalui program TMMD. Kami membangunkan Rumah Sederhana Sehat (RSH) untuknya. Itu bukan sekadar dinding dan atap. Itu adalah simbol harapan, kehangatan, dan kebahagiaan.
”Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terima kasih,” ujarnya dengan air mata haru. ”Bapak-bapak tentara telah memberikan kami hadiah yang tak ternilai harganya.”. Mendengar kalimat itu, aku, sebagai Komandan Satgas, merasa lelah kami terbayar lunas.
Cahaya Baru di Balik Papan Tulis Lazarus
Perjuangan di Jayawijaya tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang kecerdasan. Kami bertemu Bapak Lazarus Tabuni, seorang guru honorer yang berdedikasi tinggi, namun terbentur minimnya fasilitas dan pengetahuan.
”Kami kekurangan buku, alat peraga, dan informasi tentang metode pembelajaran yang efektif,” keluhnya kala itu. ”Saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak, tapi saya merasa tidak berdaya.”.
Melalui sasaran non-fisik—Penyuluhan Wawasan Kebangsaan, Pertanian, Hukum, KB Kesehatan, dan Stunting—kami memberikan Bapak Lazarus bekal baru.
”Saya jadi lebih tahu tentang pentingnya pendidikan, kesehatan, dan pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya dengan semangat membara. ”Saya akan menerapkan ilmu yang saya dapatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kampung kami.”. Senyum Lazarus adalah janji masa depan bagi generasi penerus di Jayawijaya.
Mimpi Kebun Aten: Menolak Kelaparan
Kami juga bertemu Bapak Aten Tabuni, seorang petani yang gigih, namun selalu terbentur pada lahan yang kurang subur dan minimnya pengetahuan modern.
”Kami hanya bisa menanam ubi dan sayuran seadanya,” ujarnya pasrah. ”Hasilnya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Kami sering kelaparan.”.
TMMD datang dengan solusi nyata: Program Ketahanan Pangan. Kami memberikan bibit tanaman holtikultura—sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian—dan yang terpenting, kami mengajarkan cara bercocok tanam yang baik dan benar.
”Saya sangat senang dengan adanya program ini,” katanya dengan senyum lebar. ”Saya akan memanfaatkan bibit yang diberikan untuk membuat kebun holtikultura yang produktif. Saya yakin, kami tidak akan kelaparan lagi.”. Mimpi kebun Aten adalah mimpi ketahanan pangan bagi seluruh kampung.
Sentuhan Manusiawi yang Abadi
Semua sasaran TMMD, baik fisik maupun non-fisik, kini telah melampaui target. Namun, yang pasti menurut Komandan Kodim 1702/Jayawijaya (yang merangkap Dansatgas), TMMD adalah tentang membangun hubungan yang abadi.
Ini adalah tentang air mata haru Ibu Reni, senyum semangat Bapak Lazarus, dan janji kemandirian Bapak Aten. TMMD telah berakhir, namun kami berharap kisah ini akan terus dikenang.
Sekali lagi kusunggingkan senyuman. Kubiarkan angin berhembus pelan menerpa di wajah. Kuarahkan pandangan lurus ke arah rumah-rumah yang telah berdiri kokoh dan ladang yang mulai hijau. “Terima kasih, Tuhan. Terima kasih prajuritku, juga semua warga Jayawijaya. Kerja keras kita bersama akan dinikmati kemanfaatannya oleh banyak orang,” ucapku lirih, nyaris tidak terdengar, namun terasa sampai ke ulu hati.
***