Oleh : Adelusiana
Fenomena fear of missing out (FOMO) telah menjadi salah satu trend signifikan di kalangan generasi Z. Fomo mencerminkan dampak besar interaksi berbasis teknologi terhadap psikologi dan perilaku komunikasi individu, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Dikutip dari KOMPAS.COM – FOMO atau fear of missing out adalah gejala sosial yang timbul ketika seseorang tidak ingin ketinggalan dan tidak mau sendirian. Seseorang dapat bersikap fomo karena pengaruh dari internet dan media sosial, Membuatnya ingin mendapatkan pengalaman yang dimiliki orang lain.
Menurut pengamat sosial Devie Rahmawati, fomo dapat menyebabkan dampak buruk. “Kalau kemudian, untuk mengejar perhatian dia menggunakan segala cara yang termasuk menggadaikan kehormatan, itu menjadi masalah,” ujarnya ketika diwawancarai kompas.com, belum lama ini.
Dengan kehadiran teknologi digital terutama media sosial kecenderungan untuk merasa tertinggal atau tidak terlibat dalam kegiatan yang dianggap penting menjadi semakin nyata, tidak bisa dipungkiri gen Z merupakan generasi digital native. Sementara itu perkembangan media sosial tidak lagi sekedar menampilkan konten informasi berita, namun juga konten-konten yang menampilkan gaya hidup, pengalaman, pencapaian, penampilan, hingga popularitas.
Tidak adanya standar kemuliaan yang benar membuat gen Z cenderung membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan yang dipamerkan orang lain, ketika mereka merasa kurang di bandingkan dengan standar yang ditampilkan, muncul kecemasan akan ketertinggalan atau keterasingan, bahkan demi tidak ketinggalan trend mereka sampai melakukan Doom Spending alias gemar berhutang. Jika fomo terus berlanjut gaya hidup ini dapat membahayakan generasi muda, mereka terbiasa berperilaku konsumtif hingga krisis identitas.
Sejatinya akar masalah munculnya gaya hidup fomo serta merta akibat trend media sosial, Syaikh Taqiyuddin an nabhani dalam kitab Nizamul Islam bab thoriqul iman menjelaskan bahwa seseorang berperilaku sesuai dengan pemahaman nya, sementara itu pemahaman yang merebak saat ini dipengaruhi oleh ide sekulerisme, kapitalisme dan liberalisme.
Ide sekulerisme adalah ide yang memisahkan agama dari kehidupan, sekularisme membuat manusia merasa kehidupan di dunia tidak terikat dengan aturan agama kecuali spritual, maka lahirlah ideologi kapitalisme yang memandang capaian dan kepuasan materi menjadi orientasi hidup, maka tidak aneh atmosfer kehidupan saat ini sangat jauh dari nilai agama dan hanya mengedepankan kepuasan validasi dari orang lain.
Akhirnya muncul gaya hidup liberal, hedonistik dan konsumtif semua kesenangan dunia sesaat mendominasi dan menjadi prioritas utama. Apalagi regulasi dalam sistem kapitalisme tidak memberikan perlindungan bagi gen Z, misalnya dari sistem pendidikan, pendidikan sekularisme kapitalisme justru membekali siswa dengan pemahaman hidup yang materialistik platform media sosial dibiarkan menciptakan gaya hidup fomo yang semakin menjerumuskan generasi pada lingkaran materialistik, inilah membuat gaya hidup fomo semakin mendapat tempat di kalangan generasi.
Padahal gaya hidup fomo sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan pengabaian potensi generasi Z untuk berpotensi dan berkarya yang lebih baik, juga menghalangi potensinya sebagai agen perubahan menuju kebaikan.
Berbeda dengan Islam, sistem Islam dalam menjaga generasi Z dari gaya hidup rusak seperti fomo, sistem Islam yang diterapkan negara khilafah akan memberikan perlindungan ekstra kepada semua warganya tak terkecuali generasi Z, perlindungan ini sebagai cerminan akidah Islam yang mengharuskan siapa pun terikat dengan aturan Allah subhanahu wa ta’ala dalam kehidupan.
Islam memandang negara berfungsi sebagai Junah atau pelindung, sedangkan pemuda memiliki potensi luar biasa dan kekuatan yang dibutuhkan umat terlebih sebagai agen perubahan menuju kebangkitan Islam, maka sebagai negara Junah, negara khilafah akan memastikan potensi generasi Z terarah untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Islam memiliki sistem pendidikan yang akan mampu melejitkan gen Z dan mengarahkan hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaan dan mempersembahkan karya terbaik untuk umat dan Islam, hal ini dikarenakan sistem pendidikan Islam memastikan setiap individu memiliki kepribadian Islam dan keahlian ilmu kehidupan, tolak ukur kepribadian Islam dilihat dari aqliyah (cara berfikir) dan nafsiyah (cara bersikap) sesuai dengan syariah, dengan demikian setiap individu akan memiliki kesadaran untuk beramal.
Fomo karena ketinggalan tren bersikap hedon, liberal, konsumtif, bukan perilaku yang dibenarkan syariat, maka gaya hidup seperti itu tidak akan mendapat tempat dalam atmosfer kehidupan generasi khilafah, sebab mereka menyadari kemuliaan terletak pada amal shalih dan keridhaan Allah ta’ala, justru yang ada mereka akan berlomba-lomba melakukan kebaikan sesuai dengan potensi yang mereka miliki, generasi akan sangat memahami apa yang menjadi kebutuhan mendasar umat dan kemuliaan Islam, kesadaran itu semakin mengkristal.
Negara khilafah mengontrol konten-konten yang ada di media sosial, media dalam khilafah digunakan untuk mengedukasi umat terkait Syariah, meningkatkan taraf berpikir politis. Warga negara menunjukkan haiba (kewibawaan) khilafah di kanca perpolitikan internasional. salah satu contoh generasi terbaik yang dihasilkan sistem Islam ialah sosok-sosok seperti Abdullah bin Umar pemuda yang mengabdikan dirinya untuk Islam di usia belia, beliau sudah berani menawarkan diri untuk menjadi pasukan kaum muslimin di perang badar maupun Uhud.
Apapun Abdullah bin suhail sahabat rasulullah yang meninggalkan jejak kepahlawanan luar biasa, mereka sangat menyadari kebutuhan umat dan kemuliaan Islam di kala itu, hanya saja sistem Islam yang pernah ada itu diruntuhkan oleh musuh Islam. Karena itu sebagai pemuda gen Z muslim, harus menyadari mereka memiliki potensi yang luar biasa sebagai agen perubahan yang sangat dibutuhkan umat, yakni perubahan untuk membangun kembali peradaban gemilang yang pernah dicapai umat Islam pada masa lalu dalam naungan khilafah islamiyah.
Wallahu ‘alam bishowab.

